Menghilangkan Stigma “Gender” Terhadap Warna

IMG_9753

Pandangan masyarakat saat ini ketika melihat sebuah warna pasti merujuk pada gender. Misalnya ketika masyarakat melihat warna merah jambu pasti yang ada di benak mereka adalah perempuan. Begitu juga ketika masyarakat melihat warna biru, mereka menganggap itu warna laki – laki.

Stereotipe inilah yang akan dirubah oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Udayana angkatan 2013 dalam acara Fashion Motion 2016: Color is Genderless pada tanggal 18 Juni 2016 dimulai pukul 4 sore di Rumah Sanur Jln. Danau Poso 51 A, Sanur. “Warna itu punya siapa saja”, ungkap Giga Nanda selaku Project Director dalam acara ini. Jadi, acara ini diperlukan untuk kebebasan berekspresi warna dalam fashion.

Ilmu Komunikasi Universitas Udayana tidak bekerja sendiri untuk menyukseskan acara ini. COCRAPARIS sebuah brand lokal terkenal asal Bali juga turut ambil bagian. Brand lokal ini didirikan oleh Colin Paris sejak dia duduk di kelas 2 SMA. “Dulu kekurangan duit, akhirnya coba jualan. Dulu pertama kali jual headband, belum jual baju”, ujar Colin Paris. Seiring berjalannya waktu akhirnya Colin mulai menjual baju dan memberi brand COCRAPARIS yang ia jual hingga mancanegara,

COCRAPARIS dan Ilmu Komunikasi Universitas Udayana memempunyai misi yang sama untuk merubah stereotipe masyarakat dalam memandang warna, seperti yang diungkapkan Giga. “Pertama kali saya diajak oleh Giga, waktu itu belum ada ide. Akhirnya kami mengangkat tema Color is Genderless, karena gelisahan kami akan pembedaan warna oleh masyarakat”, kata Colin Paris.

Ada tiga event spesial dalam acara yang tidak dipungut biaya untuk pengunjung ini. Pertama adalah talkshow yang menghadirkan narasumber bernama Jovi Adhiguna. Dia adalah seorang designer, blogger, creative director dan founder @_pour. Kedua adalah fashion show yang akan menampilkan peragaan busana penuh warna karya desainer-desainer Bali dan live music oleh musisi-musisi lokal Bali. Ketiga adalah fashion market sebagai wadah bagi para pelaku industri fashion di Bali untuk mengembangkan kreativitas di dunia industri fashion.

Dibalik acara yang diharapkan mampu merubah stereotipe masyarakat ini, ternyata juga untuk memenuhi nilai tugas akhir mata kuliah Aktivitas Humas di jurusan Ilmu Komunikasi Univertas Udayana seperti yang diungkapkan Giga Nanda. (Cika)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *