Mesuryak: Mengantar Leluhur dengan Melempar Uang

Bagi umat Hindu di Bali, perayaan Hari Raya Kuningan masih “satu paket” dengan Hari Raya Galungan. Hari Raya Kuningan diperingati sepuluh hari setelah Galungan. Berbagai tradisi digelar saat perayaan Hari Raya Kuningan. Salah satunya adalah Tradisi Mesuryak, sebuah ritual yang mana masyarakat akan melempar uang untuk diperebutkan warga lainnya.

Jika pada umumnya manusia mensyukuri rezeki yang dimiliki dengan tidak membuang-buang uang yang dimilikinya, maka berbeda dengan masyarakat di Desa Adat Bongan, Kabupaten Tabanan. Mereka memiliki tradisi melempar uang atau yang dikenal dengan nama Mesuryak. Mesuryak berasal dari kata suryak yang artinya berteriak atau bersorak.

Dalam hal ini, masyarakat berteriak atau bersorak kepada roh leluhur yang turun ke dunia saat Hari Raya Galungan. Kemudian kembali ke surga di Hari Raya Kuningan. Oleh warga desa Bongan, Tabanan, di hari ini roh leluhur diberikan perbekalan seperti beras dan uang. Itulah asal-muasal hadirnya tradisi Mesuryak.

Dalam tradisi Mesuryak, warga melempar uang ke udara kemudian diperebutkan oleh warga lainnya sambil bersorak gembira dan beramai-ramai. Prosesi melempar uang ini pun dilaksanakan secara bergiliran. Sebelum acara puncak dari tradisi Mesuryak ini digelar, warga melakukan persembahyangan di pura keluarga dan di Pura Kahyangan Tiga setempat. Selanjutnya setiap warga melakukan persembahyangan di depan pintu masuk rumah yang dipimpin oleh seorang Pemangku (sebutan untuk sejenis pendeta dalam agama Hindu -red).

Prosesi sesaji di depan rumah akan ditutup dengan tradisi Mesuryak. Anggota keluarga memberikan bekal kepada roh leluhur yang akan kembali ke alam nirwana. Perbekalan tersebut berupa uang kepeng, namun sekarang warga lebih cenderung memakai uang logam recehan dan juga uang kertas. Bahkan hingga nominal seratus ribuan.

Terkait nominal uang yang digunakan dalam prosesi ini, semua disesuaikan dengan kemampuan dan suka cita dari masing-masing individu tanpa ada unsur paksaan. Uang-uang tersebut akan dilemparkan ke udara sebelum diperebutkan oleh warga yang telah berkumpul di depan rumah dengan sorakan dan kegembiraan. Tradisi Mesuryak ini dilakukan mulai pagi hari dari pukul 09.00 WITA dan berakhir berakhir pukul 12.00 WITA. Konon dipercayai oleh masyarakat setempat bahwa roh-roh leluhur telah kembali ke alam surga setelah pukul 12.00 WITA.

Tradisi Mesuryak atau lempar uang ke udara dilakukan bergiliran dari rumah ke rumah, sehingga setiap warga bisa berebut uang secara adil. Bagi masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi lebih tinggi, ada kemungkinan memberi bekal yang lebih banyak. Tentunya atas dasar keikhlasan dan tanpa paksaan.

Dalam balutan kegembiraan, setiap warga yang menyaksikan tradisi Mesuryak dapat ikut berebut hujan uang tersebut. Jumlah yang didapatkan oleh masing-masing warga pun bervariasi meski ini bukanlah tujuan utamaya. Inti dari tradisi Mesuryak ini adalah rasa bahagia serta suka cita saat memberikan bekal pada leluhur agar mereka dapat kembali ke alam surga dengan damai dan tenang.

Menurut Wakil Bendesa Adat Desa Pakraman Bongan Puseh, I Made Arya Sutamba, mengatakan tradisi Mesuryak merupakan tradisi turun-temurun yang ada di banjarnya (dikutip dari berita Bali Tribun Post edisi 19 september 2016). “Mesuryak bertujuan mengantarkan roh leluhur kembali ke surga. Karena sebelumnya, pada Hari Raya Galungan, para leluhur  berada di rumah. Setelah sepuluh hari, tepatnya di Hari Raya Kuningan, kami antarkan leluhur kembali ke surga,” tambahnya.  Tradisi ini diantar dengan suka cita bergembira dengan bersorak sambil melemparkan uang ke udara yang diperebutkan banyak orang.

Tradisi unik yang dilaksanakan secara turun-temurun ini menjadi salah satu bagian dari kearifan lokal di Bali. Meski ada kesan di masyarakat yang meyakini bahwa menghabur-hamburkan uang merupakan sebuah tindakan yang tidak baik, akan tetapi budaya ini tetap dipertahankan oleh masyarakat setempat. Tradisi Mesuryak dilakukan tidak dengan membuang uang begitu saja ke udara secara sembarangan. Melainkan melemparnya ke udara dan diberikan kepada orang lain. (Bhujangga/Akademika). (Sumber foto: kintamani.id)

Editor: Kristika, Juniantari