Mirah Mahaswari: Dari Yayasan Gerakan Ramah Anak untuk KLA Bali

Bali patut berterima kasih lantaran memiliki masyarakat yang peduli akan hak kehidupan layak bagi anak-anak. Seorang wanita bernama Anak Agung Sagung Mirah Mahaswari Jayanthi Mertha, alumnus Ilmu Komunikasi UGM tahun 2011 mampu membangun sebuah yayasan Gerakan Ramah Anak di daerahnya.

Walaupun yayasan miliknya baru dibangun bulan April tahun 2017 lalu, banyak respon positif yang berhasil diraih dari masyarakat serta pemerintah Desa Bebandem, Kabupaten Karangasem. Sampai saat ini, telah lebih dari 50 anak beserta pendamping mereka dari berbagai keluarga yang telah mendapatkan pembinaan dari yayasan milik Mirah. Salah satu program yayasan yang tersohor adalah program Rumah Ramah Batita yang muncul pada bulan Mei 2017 dan telah mengedukasi para ibu di Desa Bebandem dalam mengelola potensi anak-anak mereka.

Berbicara mengenai prestasi pada masa hidupnya, Mirah telah mewakili pertukaran mahasiswi UGM dalam kuliah 3 negara selama setahun pada tahun 2010. Ia pula kemudian meraih Mahasiswa Prestasi Nasional mewakili UGM dan meraih lulusan sarjana terbaik FISIP UGM pada tahun 2011. Selain itu, dirinya juga menjadi relawan pengajar muda Indonesia Mengajar di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.

Hidup dari berbagai pengalaman pengabdian masyarakat termasuk menjadi relawan Indonesia Mengajar di Pelosok Kalimantan, tidak menyurutkan langkah Mirah untuk melakukan pengabdian masyarakat dalam membantu pemerintah mewujudkan kabupaten/kota layak anak terutama di Desa Bebandem. Hal ini juga didasari karena ia sebagai ibu yang mempunyai seorang anak berusia dibawah 5 tahun dan merasa prihatin ketika para orang tua di daerahnya tidak memiliki pendidikan dasar dalam merawat anak-anak mereka dengan baik. Dukungan dari keluarga juga semakin membulatkan tekad Mirah dalam mendirikan dan mengelola yayasan Gerakan Ramah Anak. “Ketika kamu ingin melihat sesuatu di dunia ini, maka lakukan apa yang bisa kamu lakukan untuk mewujudkannya,” ungkapnya menjelaskan motto hidupnya.

Sebagai ketua yayasan, ia tidak segan-segan bekerjasama dengan semua pihak yang bertujuan untuk memberi wawasan kepada para orang tua tentang bagaimana kesehatan dan pemberian pola makan anak yang baik, bagaimana menanamkan perilaku baik pada diri anak itu sendiri, dan melihat serta mengembangkan potensi anak. Mirah mengatakan bahwa, apabila pemerintah dan masyarakat berkomitmen dalam mewujudkan suatu lingkungan layak anak maka kasus kekerasan, pelecehan dan penculikan anak dapat diminimalisir serta mewujudkan generasi muda bangsa yang sehat dan unggul.

Selain itu, Dosen Ilmu Politik FISIP Unud ini juga menambahkan bahwa yayasan Gerakan Ramah Anak ini khususnya program Rumah Ramah Batita adalah milik bersama sehingga semua orang termasuk para ibu di Desa Bebandem dapat berkontribusi dalam mengelola yayasan ini. Mirah berharap semoga yayasan Gerakan Ramah Anak dapat memberi dukungan penuh dari pemerintah khususnya Pemerintah Provinsi Bali dalam mengembangkan komunitas-komunitas lingkungan layak anak yang baru di berbagai kabupaten dan kota Provinsi Bali. Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) sendiri merupakan salah satu program pemerintah pada tahun 2016 dibawah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang bergerak dalam rangka mewujudkan kabupaten serta kota di Indonesia dengan sistem pembangunan berbasis hak anak.  (Teja/Kristika/Juni/Akademika)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *