Monolog dan Kekasih Satu Tahun Lalu

Cempaka. Denpasar, Desember 2017

Kita berkenalan setelah hujan yang tergesa-gesa itu reda. Ingat kan, Kekasih? Dalam perjalananmu menuju ke istana di atas awan, bualmu. Khidmat aku mendengarkan segala yang meluncur dari bibir tipismu itu. Berhamburan bagai bintang-bintang dan aku dengan semangat mencoba meletakkannya dalam ingatan. Ah, bagaimana bisa aku sebentar saja tak mengingatmu, Kekasih? Tentu saja aku tak akan pernah melupakan orang aneh yang membuatku menjadi jatuh cinta padanya.

Di tengah huru-hara kota memang ada banyak kejadian yang tidak direncanakan sebelumnya, termasuk perkenalanku denganmu. Harusnya hari itu aku banyak berterimakasih kepada hujan. Karena hujan lah yang meneduhkanmu di rumah kopi ibuku. Sejak pertemuan pagi itu, aku menjadi wanita yang tidak sabaran. Bangun pagi-pagi dan berangkat menemani Ibu ke rumah kopi kepagian. Terus terang kekasih, aku mulai merasakan beratnya rindu waktu itu.

Kau memiliki banyak sekali cerita seperti juru dongeng yang benar-benar diutus untuk menghiburku, menjadi sahabatku sampai aku bosan. Pernah pula kau menceritakan seorang gadis yang senang memunguti sisa hujan, seorang pemuda yang mencintai gerimis dan banyak lagi cerita fiksi lainnya. Herannya aku percaya-percaya saja dengan apapun cerita yang kau ujarkan meskipun terdengar tidak masuk nalar.

Aku sangat mengenali intonasi, artikulasi bunyi serta suramu yang sedikit berat. Berat untuk sekedar aku ingat-ingat. Apalagi pengucapan huruf r-mu yang serupa dengan huruf l, itu membuatku semakin gemas. Selain suaramu, diam-diam aku telah bersahabat baik dengan harum parfum yang kau semprotkan ke beberapa bagian tubuhmu sebelum menemuiku, kekasih. Harum Kayu Gaharu itu terus terpilin dalam hidungku. Serasa aku ingin menahan napas berlama-lama agar bau itu tidak enyah dari hidungku.

Aku meraba lorong hatiku yang kini sudah kosong—sudah berapa lama? Aku tidak menghitungnya secara pasti, Kekasih. Mungkin kau tahu seberapa lama itu.

“Kau sangat menyukai gerimis.”

“Selalu ada alasan kuat bagi seseorang untuk menyukai sesuatu,” jawabmu. Saat hati-hati kutanyakan itu, tepat pada pagi dengan gerimis yang masih saja mericik sejak fajar. “Sama seperti aku menyukai cerita-cerita tentang hujan dan gerimis yang telah banyak kuceritakan kepadamu, Cempaka”.

“Kenangan,” balasku hati-hati.

“Bisa saja,” kau menjawab dengan nada yang terdengar hampir putus asa.

Aku terdiam cukup lama, memikirkan apa itu kenangan dan apa aku mempunyai kenangan yang benar-benar berharga dalam diriku? Seperti halnya kenangan tentangmu yang begitu manis, kekasih. Terutama tentang cucuran hujan lengkap dengan beberapa serpih gerimis.

“Dulu aku pernah mempunyai pendengar setia sepertimu, Ka. Aku selalu  menceritakan apapun tentang hujan kepadanya. Ia sangat girang, seakan hujan benar-benar turun walaupun cuaca sedang terik-teriknya. Aku berjanji, kami akan berjalan berpegangan tangan dan gerimis berjatuhan di kepala kami. Aku berjanji,” jelasmu dengan suara sesak.

“Apa kau sedang menangis?” aku yang sedikit tersentuh dengan suaramu, lebih hati-hati menjawabnya, kekasih.

“Bukan,” kau masih mengelak.

“Namun aku yakin kau sedang bersedih.”

“Baiklah aku menangis, namun menangis bukan berarti selalu bersedih, ‘kan?”

Aku senang mendengar jawaban itu. Senang dan penasaran.

***

Akhir-akhir ini hujan lebih sering turun membungkus Kota Denpasar menjadi lebih manis dan romantis. Aku sendiri lebih sering menghangatkan badan dengan secangkir coklat panas buatan ibu dan buku yang belum selesai aku eja sejak tiga hari lalu. Seharian suntuk aku hanya duduk mendengarkan musik di sofa dekat tangga, sebelah meja bar. Selain bau Kayu Gaharu yang kuingat adalah harum Kopi Kintamani tanpa gula. Kau selalu memesannya, kekasih. Walaupun banyak menu baru. Kau sangat setia sepertinya.

Ibu mengerti keadaan hatiku yang sudah lama tidak baik-baik saja. Kelana, itu nama yang kau perkenalkan padaku, kekasih. Tepat saat hujan yang tergesa-gesa itu reda. Menyisakan gerimis satu-dua. Waktu berlari jauh, begitu cepat tanpa bisa kucegah barang sedetikpun. Meninggalkan lesung pipiku yang tergenangi air mata.

***

Kelana. Jepara, Maret 2018.

Sesungguhnya aku tidak menyukai hujan. Hujan membuat benda-benda menjadi basah dan orang orang menjadi repot. Hujan telah merenggut orang-orang yang aku cintai. Bapak, Ibu dan Adel satu tahun lalu. Satu lagi, hujan menjauhkanku dari Cempaka. Ya, aku juga kehilangan Cempaka.

Cempaka wanita yang manis. Rambutnya bergelombang sebahu. Saat aku sengaja menemuinya ia sering mengenakan baju rajut lengan panjang warna abu-abu. Seolah Cempaka adalah langit yang sedang mendung di hadapanku. Namun senyum merekah matahari itu selalu terbit dan terbenam menguasai kesepianku.

Cempaka. Gadis manis yang tak bosan-bosannya mendengar ceritaku itu. Cerita hujan baginya adalah hadiah terindah setelah aku ada dalam kehidupannya. Sedangkan rindu adalah ganjaran bagi laki-laki yang tega menyakiti Cempaka, wanita yang hanya melihat keindahan dunia melalui suara.

1-8 Maret 2018.

Oleh : Eva Lailatur Riska

Editor: Kristika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *