Musim Gugur di Kota Pyongyang

Kota Pyongyang masih sama seperti kemarin. Dingin. Langit membisu. Pohon-pohon kaku. Tanah yang ditanam doktrin-doktrin mentah.

Musim dingin baru saja dimulai. Namun pohon-pohon besar dibelakang rumahku sudah meranggas sejak kemarin. Gundul. Daunnya berserakan.

***

Musim gugur ini, persis seperti yang kulihat setahun yang lalu. Musim gugur yang melelehkan hatiku. Dapat kulihat bayang sesosok pria berpakaian tentara Selatan berdiri diantara daun-daun yang terbawa angin itu. Pria itu tersenyum saat pertama kali bersua denganku. Ia mengulurkan tangannya yang menggenggam anting sebelah kananku.

Bagaimana ia menemukannya? Tidak. Hal yang lebih membuatku penasaran adalah, mengapa ia bisa berada di sini? Di taman kota yang terletak persis di depan gedung istana kepresidenan ini dengan sebuah shot gun di tangannya.

“Bagaimana seorang pria dari Selatan bisa masuk ke tempat ini?”  Aku buru-buru merebut anting tersebut dari tangannya.

“Jika aku masuk secara ilegal, apa kau akan melaporkanku pada pihak berwajib?” nadanya terdengar bergurau.

“Tentu saja!” tandasku lalu berjalan meninggalkannya.

“Hei, kau belum mengucap terima kasih!” pria itu sedikit berteriak.

“Padahal sebenarnya anting-anting ini tidak begitu berharga, bahkan jika hilang pun tak apa. Tapi karena kau sudah menemukannya aku ucapkan terima kasih,” aku membungkukan tubuhku sedikit.

“Inilah yang aku sukai dari perempuan di sini. Terkurung dalam sebuah negara dengan segala batasannya membuat mereka tegas.”

“Ya, ya, terserahlah,” aku melengos pergi.

Sedetik kemudian aku membalikkan tubuhku. Yang kulihat hanya tegap tubuhnya yang menjauh.

Alam bawah sadarku terus mendorong ragaku untuk pergi ke Taman Kota Pyongyang itu lagi. Aku selalu ingin kembali ke tempat itu meski tubuhku terus menolak. Pada akhirnya tubuhku menyerah juga. Kaki-kakiku pun bergerak kembali menuju taman kota, dengan harapan aku dapat melihat Si Pria Selatan itu lagi.

“Hei Nona, kita bertemu lagi,” pria itu kini berdiri di hadapanku. Pakaiannya masih sama seperti tiga hari yang lalu, begitupun dengan senyumnya.

“Ah iya….”

“Nona, apakah ayahmu salah satu pejabat di negeri ini?”

Aku hanya mengangguk.

“Kalau begitu aku perlu tahu alamatnya.”

“Untuk?”

“Aku harus menjaga rumah pejabat di sini sebagai pertanda damai.”

“Memangnya ada pertanda damai seperti itu?”

“Tentu saja ada!”

“Aku baru tahu.”

“Aku juga baru tahu.”

“Baru tahu kalau ada pertanda damai seperti itu?”

“Bukan. Aku baru tahu kalau ada pejabat di negeri ini yang punya putri sangat cantik.”

Aku pun tersenyum. Bisa dipastikan pipiku sedang memerah saat ini.

“Jadi, Nona, maukah kau berbagi alamatmu?”

“Bisa saja. Tapi tidak ada kertas ataupun pena disini.”

Pria itu mengeluarkan sebilah pisau dari sakunya.

“Aku akan mengukirnya di senjataku.”

“Memangnya boleh?”

“Boleh saja yang penting tidak ketahuan bukan?” ia terkekeh. Aku pun menyebut alamat dan namaku, namun pria itu hanya mengukir namaku. “Kenapa kau hanya mengukir namaku?” tanyaku.

“Tidak usah, aku sudah hapal alamatmu, Kim Ga In-ssi.”

“Kalau begitu kau pasti sudah hapal namaku, ‘kan?” Sambungku lagi. “Lalu kenapa kau mengukirnya juga?”

“Agar aku dapat berperang dengan baik,” jawabnya singkat lalu pamit pergi untuk bertugas. Di hari berikutnya aku mendapat surat darinya.

Dengan surat ini aku menyatakan bahwa hubungan Utara dan Selatan semakin membaik. Bahkan kami membuat kerjasama dalam pelatihan militer, dan aku, Han Ji An, ingin mengajak Nona Kim Ga In untuk menjalin kerjasama dalam membina hubungan yang romantis.

Aku bahagia menerima surat yang berasal dari Kamp Militer Tentara Selatan yang berada di Kota Pyongyang itu. Aku pun membalasnya.

Dengan ini Kim Ga In menerima kerjasama dengan Tuan Han Ji An untuk menjalin hubungan yang romantis.

Hari-hariku berikutnya pun berlalu dengan surat-surat yang dikirimkan oleh Han Ji An. Sesekali kami bertemu di taman kota untuk saling melepas rindu.

“Ga In-ah, jika aku mengajakmu pergi ke Selatan, meninggalkan keluarga dan teman-temanmu, apa kau bersedia?” tanyanya pada suatu hari. Berpikir secara logika, tentu aku tidak mau. Meninggalkan keluarga dan teman-temanku ke Selatan bukanlah hal mudah. Kedua Negara ini masih dalam tahap negosiasi meskipun saat ini sudah semakin membaik. Di samping itu, lingkungan Ji An tentu akan sulit menerima orang Utara sepertiku. Namun, hatiku tidak pernah menolak keinginan Ji An meski sesulit apapun itu, aku akan melakukannya.

“Jika bersamamu, tentu aku bersedia. Aku akan pergi hanya denganmu.”

“Sungguh? Kau harus menepati janjimu!”

“Baiklah Tuan Han Ji An.”

Ji An pun tersenyum kemudian mengecup punggung tanganku.

Kenyataannya, mimpi Ji An untuk membawaku ke Selatan itu tidak semudah mengucap janji untuk bersedia pergi dengannya. Hubungan Utara dan Selatan semakin memburuk setelah Utara berganti kepemimpinan. Utara berkali-kali melakukan percobaan rudal yang membahayakan Selatan, menantang negara adidaya yang menyebabkan timbulnya berbagai embargo dan sanksi ekonomi. Utara bahkan memutus kerjasama pelatihan militer secara sepihak dan menahan para tentara Selatan yang sedang dilatih itu. Sesaat aku khawatir tentang Ji An yang akan ditahan juga, namun salah seorang teman Ji An yang merupakan tentara Utara mengatakan bahwa dia berhasil kembali ke Selatan.

***

Beberapa hari lalu, aku dan keluargaku diasingkan ke pinggiran Pyongyang yang berbatasan langsung dengan Tiongkok. Aku tidak tahu alasannya. Ibu hanya mengatakan bahwa rezim baru tidak sepaham dengan ayah sehingga kami pun diasingkan.

Ibu bersyukur bahwa kami hanya diasingkan, tidak dibunuh seperti kebanyakan pejabat, sekalipun tempat kami diasingkan bukanlah tanah yang hijau. Bahkan belukar pun enggan tumbuh disini. Tidak ada makanan, kami hanya makan jagung yang tumbuh seadanya dan memancing ikan di sungai yang membatasi negeri kami dan Tiongkok. Ya, mereka hanya membangun Pyongyang. Pemerintah tidak akan melirik pinggiran seperti ini, sekalipun ada banyak orang yang mati kelaparan disini.

Pagi ini ayahku tiba-tiba menghilang. Ibu yakin ayah pasti kabur ke Tiongkok. “Ga In, ayo kita pergi juga. Ayo kita temui ayahmu!”

“Ibu, kau tidak lihat tidak ada jalan di sini. Kita hanya bisa melewati hutan Tiongkok yang lebat itu. Kita bisa saja mati di sana Ibu.”

“Kita tidak tahu kapan kita akan mati juga, Ga In. Kau lihat negeri ini? Tempat ini bahkan lebih menakutkan dari seratus singa lapar.”

Aku hanya mengikuti apapun yang ibu lakukan. Ia berlari, akupun ikut berlari. Ia berjalan, akupun ikut berjalan. Aku hanya mengabaikan segalanya, binatang buas, hutan yang gelap dan rasa lapar. Hingga akhirnya kami sampai di sebuah pelabuhan.

“Ye Ryung?” Seorang pria tiba-tiba memanggil ibu.

“Ji Do!” Ibu memeluk pria itu. “Bagaimana kau bisa di sini?”

“Aku mendengar bajingan itu di asingkan. Jadi sejak hari itu aku sering kesini berharap melihatmu di sini. Aku juga berpesan pada petugas pelabuhan untuk mengirimmu langsung ke rumahku ketika melihatmu.”

Jantungku tiba-tiba berdetak kencang melihat sosok pria yang dulu sering mengirim surat untukku dari Kamp Militer.

“Ga In, perkenalkan dia Han Ji An,” ibu menunjuk Ji An yang masih berdiri mematung tanpa sepatah kata. Kemudian, ibu pun menjelaskan, “Sebenarnya, ayahmu dulu menculikku. Ia membawaku dan menikahiku secara paksa di Utara padahal aku adalah wanita bersuami saat itu. Aku terpaksa menerima pernikahan itu karena aku tidak ingin mati sia-sia. Aku percaya suatu hari aku bisa kembali dan menemui putraku, Ji An.”

Oleh: Ni Luh Putu Murni Oktaviani

Editor: Kristika, Juniantari

Ilustrator: Apo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *