Ni Wayan Dadi: Hai Mimpi!

Garam di Tengah Kehambaran

Di awal menjalani semester, saya dan teman-teman sering mengalami remedial pada pelajaran hyouki atau menulis pada prodi saya, Sastra Jepang. Sebagian besar mahasiswa baru mengalami nasib yang sama seperti saya saat remedial, muak dan lelah. Kehambaran selalu melingkupi remedial mata kuliah ini. Di tengah kehambaran itu, dia muncul dengan senyum khasnya yang berbalut sebuah lesung pipi di sebelah kiri pipinya. Perempuan berbadan mungil ini merupakan asisten dosen pada mata kuliah hyouki di prodi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

Setiap kedatangannya dalam remedial selalu berhasil menghidupkan semangat yang mulai redup. Ia mematahkan nuansa senioritas sejak pertama kali bertemu dengan adik-adik kelasnya. Setiap memeriksa hasil remedial, ia selalu menggemakan kata-kata motivasi atau sharing tentang hidupnya yang entah bagaimana seperti sihir, berhasil membuat semangat kami bangkit kembali. Ia juga tak segan-segan memberikan tips mempelajari mata kuliah tersebut, juga bahkan menunggu kami yang lama dalam mencerna pelajaran dan mengajari dengan segenap hati. Dialah garam di tengah kehambaran remedial. Ia memberikan rasa dalam keputusasaan kami.

Hari Penguburan Mimpi

 Ni Wayan Dadi, lahir di Denpasar pada 5 November 1996. Ia tumbuh seperti anak-anak lainnya, menjadi anak yang memiliki mimpi. Mimpi hebat yang dilahirkan Dadi Junior adalah menjadi astronot, atau kalau bisa jadi dokter. Sayang mimpinya saat SD tersebut harus dikubur hidup-hidup melihat realita yang tersaji di hadapannya. Dari kecil Dadi menyadari bahwa kondisi ekonomi orangtuanya takkan mampu mengantarkannya pada mimpinya. Ia pun mengubur mimpi masa kecilnya dan menanam mimpi baru yang lebih sederhana yaitu menjadi wanita karir, yang penting kerja kantoran.

Ketika menduduki pendidikan menengah atas, Dadi bersekolah di sebuah SMK dan mengambil jurusan pariwisata. Pada saat kelas 2 SMK, Dadi training di sebuah travel. Di sana ia sering mendengar orang berbicara menggunakan bahasa Jepang. Sebuah pemikiran terbesit dalam benaknya, “Sepertinya enak kalau bisa berbicara bahasa asing lain selain bahasa Inggris.” Sejak saat itu ia mulai mempelajari dan berlatih tulisan Jepang (hiragana, katakana, dan kanji). Kapasitas mimpi Dadi pun diperbesar, ia ingin pergi ke Jepang.

Mimpi yang besar itu malah tercekat oleh restu orangtuanya. Dadi tidak diberikan izin kuliah pada saat itu. “Kamu sekolah sampai SMP saja, terus kerja di Ramayana,” harap Ayah Dadi kala itu. Sang Ayah menganggap bahwa Dadi tidak perlu sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya harus “masuk dapur” atau menjadi ibu rumah tangga. Dadi tidak menghiraukan ekspetasi rendah dari ayahnya. Ia bertekad untuk tidak pernah mengubur mimpinya lagi. Ia ingin menerobos keterbatasannya. Ia ingin hidup yang lebih baik.

Hai Mimpi!

Tekadnya untuk meraih mimpi semakin besar setiap harinya. Dadi melakukan DW (Daily Works) untuk mempersiapkan uang kebutuhan ospeknya. Ia mengikuti SBMPTN dan mengajukan beasiswa bidikmisi tanpa sepengetahuan orangtuanya. Ketika ia sudah sah diterima menjadi mahasiswa Universitas Udayana, ia baru mengaku pada orangtuanya. Orangtuanya tak dapat menolak karena Dadi sudah diterima.

Dadi menyapa mimpinya saat ia berada di semester tiga. Ia diajukan oleh Sensei (guru) untuk mengikuti pertukaran pelajaran ke Jepang karena ia memiliki kualifikasi yang dianggap cukup. Program pertukaran pelajar yang ia ikuti bertema Asian Southeast Japan Training Teacher Program. Ia tidak menyangka akan mendapatkan kesempatan emas seperti itu. Selain sudah pernah ke Jepang, Dadi juga pernah menyabet juara kedua dalam kompetisi bergengsi Kanji Cup di Stiba Saraswati. Berbagai tawaran pun diperolehnya, salah satunya adalah menjadi asisten koordinator untuk Japan TV Tokyo. Ketika ditanya lagi mengenai prestasi lain yang sudah ia torehkan, Dadi menjawab dengan tenang. “Bisa hidup sampai sekarang saja sudah sebuah prestasi. Selain itu, bisa mematahkan ekspetasi rendah orangtua itu juga merupakan ekspetasi.”

Saat ini Dadi hanya fokus untuk menyelesaikan skripsinya. Setelah lulus, ia sudah memiliki rencana untuk meneruskan S2 di Jepang. Sebelum mewujudkan impian barunya itu, ia berniat akan bekerja terlebih dahulu untuk mengumpulkan modal. Kegigihan yang tak pernah pudar selalu melekat erat dalam diri Dadi.

Lubang Hitam

Di balik kelimpahan kelebihan, manusia tak luput dari kekurangan. Begitu pula dengan Dadi, ia masih manusia. Dadi tanpa malu membeberkan lubang hitam atau kekurangan dalam dirinya. Ia sulit bekerja dalam tim dan terlalu jujur dalam mengekspresikan perasaan. Terlalu jujur dalam mengekspresikan perasaan maksudnya, perasaan sedih, senang, marah, dan sebagainya mudah terlihat pada mimik wajahnya. Ia tidak mau terlalu lama berkutat dengan lubang hitam yang dimilikinya. Ia berusaha melawan dirinya dan tidak mau menyerah dengan dirinya. Ketika lubang hitamnya muncul ke permukaan, ia akan berusaha empati terhadap orang-orang yang akan terkena dampak sifat jeleknya. Dadi pula menyadari dan mengingatkan dirinya sendiri bahwa kerjasama itu penting. “Kalau kamu tidak bisa melawan dirimu sendiri, selesailah hidupmu,” tungkasnya seraya menyuguhkan senyum khasnya. (Vilia/Kristika/Juniantari/Akademika)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *