Nisan Pahlawan Jadi Tempat Memadu Kasih Pasangan Belia

Ironis, di tempat sakral yang merupakan tempat bercermin dan mengingat jasa para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan bagi anak cucunya, justru kini diubah menjadi tempat “pacaran” bukan oleh kaum penjajah, melainkan oleh anak cucu generasinya.

Ukiran dengan cat bernuansa emas yang terpampang besar bertuliskan “Daftar Pahlawan Pejuang Kemerdekaan R.I yang Gugur di Bali Periode Tahun 1945-1950 yang diabadikan di Candi Pahlawan Margarana Sejumlah 1372 orang”. Ukiran ini menyambut setiap pengunjung yang datang ke Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana. Monumen yang dikenal sebagai tempat bersejarah yang penuh dengan segudang misteri, namun kini lebih dikenal sebagai tempat wisata makam pahlawan.

Di tempat yang merupakan makam para pahlawan yang disegani di Bali, terdapat sisi lain yang mulai tumbuh entah itu sudah cukup lama, atau baru terjadi saat ini. Tempat yang disakralkan, dibuktikan dengan adanya papan pengumuman yang berisi empat poin. Salah satu larangan yang terpampang disana yaitu: Bagi wanita yang sedang haid dilarang masuk monumen. Kata-kata itu seakan memberi gambaran bagi para pengunjung awal yang sebelumnya belum pernah berkunjung ke Taman Pujaan Bangsa Margarana ini. Hal pertama yang terlintas dipikiran yaitu tempat ini sakral dan suatu kehati-hatian dalam beraktivitas di dalamnya.

Sunggung pemandangan yang berbeda, setelah menaiki anak tangga dan berada tepat di depan gerbang karatan, yang secara kasat mata terlihat tidak bisa lagi digunakan. Dari sela-sela besi karatan itu terlihat sepasang insan muda sedang bercanda gurau bersama. Bukan pemandangan sekelompok orang berpakaian adat masing-masing, bukan pula pemandangan sekelompok orang berpakaian rapi dengan bendera atau atribut lain ditangannya. Melainkan yang tersuguh adalah dua insan muda dengan tinggi badan relatif sama yang bergandeng mesra.

Sebut saja Iluh dan Gede, Iluh mengaku pertama kali mengunjungi Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana ini. Selain itu kunjungan ini pun merupakan saran dari pasangannya yaitu Gede. Setelah ditanya, Gede mengaku dia baru berumur 14 tahun, dan sekarang dia tengah duduk di bangku kelas 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sambil bercakap lebih lanjut sesekali mereka melempar senyum malu, dan Iluh-pun pergi meninggalkan perbincangan kami.

Ironis, di tempat sakral yang merupakan tempat bercermin dan mengingat jasa para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan bagi anak cucunya, justru kini diubah menjadi tempat “pacaran” bukan oleh kaum penjajah, melainkan oleh anak cucu generasinya. Berat hati tersampaikan bahwa insan muda, anak belia berusia 14 tahun datang ke Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana, bukan untuk menghormati atau mengenang kisah sejarahnya, melainkan untuk memadu cinta dan meninggalkan bekas sebuah foto selfie di atas nisan. (April)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *