Nyepi Tanpa Internet?

Oleh: Litbang Akademika (Mery Lusyana, Dewa Ayu Ratih)
Editor: Kiki Kristika

Pelaksanaan Hari Raya Nyepi 2018 diwarnai isu surat Majelis Keagamaan di Bali yang mengharapkan provider penyedia jasa seluler untuk memadamkan jaringan internet pada saat Nyepi berlangsung. Seruan bersama  yang ditandatangani Gubernur Provinsi Bali, Made Mangku Pastika, tertanggal 15 Februari 2018 mendapat respon beragam dari masyarakat Bali.

Hari Raya Nyepi yang diperingati satu tahun sekali sebagai perayaan Tahun Baru Saka memiliki dampak yang signifikan di bidang lingkungan dengan penurunan konsentrasi CO2 di udara sebanyak 350 ppm. Selain itu, pelaksanaan Nyepi juga berkontribusi terhadap pengurangan efek pemanasan global dan efek gas rumah kaca mengingat pada saat Nyepi terdapat larangan menghidupkan lampu sehingga penggunaan listrik berkurang sebesar 37.5% – 40.4%.  Nyepi pun menjadi inspirasi dari kelahiran World Silent Day dan telah disetujui oleh PBB (dilansir dari Tribun News, 15 Maret 2018).

Perayaan Nyepi pada tahun 2018 mengalami sedikit perbedaan sebab diwarnai oleh isu Nyepi tanpa internet melalui seruan bersama Majelis Keagamaan di Bali yang menuai tanggapan penuh kontroversi. Litbang Akademika telah melakukan survei dan menghimpun data sebanyak 689 responden wilayah provinsi Bali dan menghasilkan acuan ukuran besar sampling sebanyak 535 responden menggunakan metode Teknik Acak Terlapis (Stratified Random Sampling), dengan tingkat kepercayaan 98 persen dan margin of error sebesar 2 persen. Responden dibagi menjadi 5 kategori umur (11-14 tahun, 15-17 tahun, 18-20 tahun, 21-23 tahun dan >24 tahun) serta mendapatkan hasil menakjubkan dimana sebanyak 161 orang menyatakan sangat tidak setuju dan 165 orang menyatakan tidak setuju terhadap kebenaran isu. Hal ini menunjukkan ketidaksiapan responden terhadap pelaksanaan Nyepi tanpa internet.

Berlawanan dengan masyarakat, pemadaman layanan internet saat Nyepi mendapat dukungan dari Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo). Akan tetapi, dalam pelaksanaannya diserahkan kepada operator jaringan masing-masing mengingat diperlukannya proses teknis untuk memadamkan layanan internet hanya di Provinsi Bali (dilansir dari Liputan6 news, 15 Maret 2018). Melihat substansi kata “diharapkan” pada seruan yang beredar memunculkan tanda tanya besar terkait akankah seruan ini dapat terwujud atau sebaliknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *