”Orientasikan Spirit Kebangsaan Mahasiswa” – I Gusti Ngurah Alit Kesuma Kelakan

Bagi sebagian masyarakat Bali, mengenal sosok I Gusti Ngurah Alit Kesuma Kelakan bisa saja masih asing. Pria yang akrab disapa Bli Alit ini merupakan salah satu figur dalam dunia politik yang berpengaruh hingga saat ini.  Kisah perjuangannya masih tetap berlanjut hingga kini, walau dirinya telah lama lengser dari jabatannya sebagai Wakil Gubernur Bali periode 2003 – 2008.

Pria yang pernah mendampingi Dewa Made Beratha, Gubernur Bali tahun 2003 itu mendapat kesempatan menjadi narasumber dalam kegiatan Bulan Kelahiran Bung Karno pada 26 Juni 2018. Sekilas terkait acara yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum (BEM FH) Universitas Udayana tersebut, acara tersebut merupakan kegiatan diskusi dan pemutaran film dokumenter Bung Karno yang bertempat di Kampus Hukum, Unud.

Melalui kesempatan itu, Bli Alit yang memulai cerita masa jabatannya sebagai Wakil Gubernur Bali pada 28 Agustus 2003. Ia menekankan kepada rakyat pribumi untuk lebih mampu mengelola tanah air negerinya sendiri. Ia menghimbau agar tidak sampai diperbudak oleh pendatang asing seperti saat penjajahan Belanda.

“Orang-orang Belanda datang ke Indonesia, duduk-duduk punya pembantu banyak, padahal dia orang asing. Sedangkan yang punya tanahnya adalah orang Indonesia. Tetapi,orang-orang Indonesia jadi petani dan buruh yang tertindas. Sedangkan orang Belanda jadi raja di sini, padahal dia orang luar,” begitu lontarnya saat diskusi berlangsung.

Pria kelahiran 4 April 1967 ini menegaskan bahwa spirit serta orientasi nasionalisme mahasiswa tentunya tidak sebatas sebuah organisasi besar saja. Tetapi bisa memiliki semangat kebangsaan yang kuat agar nantinya mahasiswa bisa menyatu dengan rakyat. Dengan menyatunya rakyat dengan mahasiswa ini, tentunya mahasiswa bisa melakukan suatu perlawanan kepada pemerintahan yang otoriter. “Misalnya dengan cara mahasiswa dapat mendengarkan dan mendampingi kaum tertindas itu. Nah, di situlah orientasi kebangsaan kita dalam cangkup yang kecil.” tambahnya.

Ketua GMNI Denpasar periode 1994-1996 ini pun memiliki harapan agar mahasiswa dapat bergerak membela rakyat. Kepentingan mahasiswa mesti bersifat netral dibandingkan dengan orang yang lebih dulu terjun ke dunia politik praktis, yang kemungkinan mempunyai kepentingan tersendiri. (Cok Is/Akademika)

Editor: Kristika, Juniantari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *