Pagar Makan Tanaman, Penghianatan yang Tak Kunjung Usai

Konflik agraria dalam negeri yang terus berlanjut diangkat melalui enam film pendek yang ditayangkan oleh Cinecoda pada Minggu, 25 Maret 2018 di Warung Men Brayut, Denpasar. Setiap film yang ditayangkan menunjukkan bahwa agraria ternyata tidak se-mainstream” dalam bayangan orang-orang.

Cinecoda didukung oleh Denpasar Film Festival kembali melaksanakan pemutaran film terbuka untuk umum. Kali ini lewat tajuk “Pagar Makan Tanaman” Cinecoda mengangkat isu agraria dalam negeri dari beragam perspektif. Sesi diskusi setelah pemutaran film dipandu oleh Gede Indra Pramana selaku moderator, Cinecoda turut menghadirkan BW Purba Negara, editor film Nona Kedi yang Tak Pernah Melihat Keajaiban, yang filmnya turut ditayangkan.

“Tema ‘Pagar Makan Tanaman’ yang kami merupakan penggambaran kondisi agraria Indonesia saat ini, dimana ‘orang-orang dengan kekuasaan’ yang seharusnya menjaga, malah berbalik merampas hak masyarakat, meciptakan konflik yang tak berkesudahan,” tutur Gede Indra Pramana saat menjelaskan alasan memilih tema acara. “Lebih mudahnya dapat diartikan sebagai penghianatan,” lanjutnya.

Setiap film yang ditayangkan dipilih untuk menunjukkan bahwa agraria yang erat kaitannya dengan pertanian, tidak ‘se-mainstream’ apa yang selama ini dipikirkan oleh orang-orang. Nona Kedi yang Tak Pernah Melihat Keajaiban, salah satu film yang ditayangkan, menyentuh konflik agraria dari perspektif seorang wanita. BW Putra Negara menuturkan bahwa kebenaran film ini dapat dilihat dari cara tutur, sehingga tafsiran film ini dapat berbeda oleh setiap orang. Film lainnya yang turut mencuri fokus penonton ialah Musim Bepergian yang menggambarkan kondisi agraria dalam negeri melalui perspektif dua tokoh berbeda yang bertolakbelakang yakni petani dan tentara.

“Film Musim Bepergian saya pikir serupa dengan Nona Kedi,” komentar BW Putra Negara. “Kedua film tersebut memancing imajinasi penonton dan tafsirannya berada di wilayah penonton. Terdapat simbol-simbol dan makna yang tersirat sehingga mampu memancing daya pikir penonton.”

Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam konflik agraria aparat dan masyarakat merupakan dua kubu yang saling bertentangan, fakta tersebut tergambar jelas melalui film Urut Sewu Bercerita. Kekerasan yang dilakukan aparat terhadap masyarakat merupakan gambaran menyedihkan konflik agraria dalam negeri. Dengan “kekuatan” yang dimiliki pemerintah tidak terhitung lagi berapa banyak sawah yang dialihfungsikan, Sariharjo merupakan salah satu daerah persawahan yang dialihfungsikan menjadi hotel berbintang dan lapangan golf.

Ayu Diah Cempaka, salah satu inisiator Cinecoda, mengungkapkan bahwa kesadaran masyarakat akan konflik agraria yang tak kunjung usai harus dibangkitkan. Khususnya di Bali, meskipun saat ini Bali terlihat baik-baik saja, beberapa konflik agraria sebenarnya sudah menjadi masalah lama yang dihadapi oleh petani.

“Kami mengangkat isu ini karena di era pemerintahan Jokowi saat ini, salah satu program kerja Beliau ialah program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL). Dengan adanya program tersebut, masyarakat yang membutuhkan legalitas sebuah investasi bisa terealisasi,” tutur Ayu. Untuk kedepannya, Ayu berharap agar masyarakat bisa lebih peka terhadap berbagai isu agraria dalam negeri, dan agar di masa yang akan datang konflik agraria dapat semakin menurun seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat. (Marini/Kristika/Juniantari/Akademika)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *