Pandemi Fantigue dan Derasnya Korean Wave

Pembatasan kegiatan masyarakat saat pandemi Covid-19 memicu aktivitas yang serba digital. Demi terhindar dari Pandemi Fantigue, karya-karya kreatif khas Korea kian mendulang peminat. Salah satunya ialah industri perfilman Korea dengan produksi Drama Koreanya. Drama Korea menjelma alternatif hiburan yang paling diminati selama pandemi.

Selama menjalani pandemi tentunya masyarakat merasa lelah secara fisik maupun mental yang saat ini sering disebut dengan istilah Pandemi Fantigue. Pandemi membawa banyak pengaruh terhadap kehidupan masyarakat, baik itu pengaruh positif maupun negatif. Pandemi mengharuskan masyarakat untuk bekerja, belajar, serta melakukan kegiatan lainnya secara daring. Kegiatan yang harus dilakukan secara daring dalam waktu yang panjang tentunya mengakibatkan masyarakat bosan dan lelah. Untuk menghilangkan kebosanan dan agar terhindar dari pandemi fantigue masyarakat membutuhkan adanya hiburan.

Hiburan yang paling banyak dilakukan di kala pandemi ini adalah menonton, seperti menonton film, drama, variety show, dan lainnya. Maraknya platform yang menawarkan konten menarik untuk menggait dan menghibur para penggunanya, seperti VIU, Iflix, Netflix, YouTube, Viki, Video, Iqiyi, dan banyak lagi. Dari sekian platform yang menawarkan banyak hiburan tersebut, konten yang paling diminati adalah K-Drama atau lebih sering disebut Drama Korea. Banyaknya peminat Drama Korea bukan hanya karena visual para pemainnya, namun juga karena alur cerita yang sangat menarik dan tetap relatable dengan kehidupan sehari-hari. Demam Drama Korea di kala pandemi ini sangat terlihat dari banyaknya spoiler tentang Drama Korea baik itu di TikTok, Instagram, bahkan InstaStory para artis yang banyak melakukan review tentang Drama Korea.

Pandemi menjadikan Korean Wave semakin populer di Indonesia. Masyarakat menjadi lebih tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan Korea. Korean Wave atau sering dikenal dengan Hallyu adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya Korea secara global di berbagai negara di dunia sejak tahun 1990-an. Korean wave memicu banyak orang-orang di negara tersebut untuk mempelajari tentang kebudayaan Korea. Populernya khalayak dalam Korean wave ini yaitu khalayak pasif dan aktif. Khalayak pasif biasanya hanya menonton drama yang sedang on-going atau hanya menunggu comeback-nya idol mereka. Beda dengan khalayak aktif, mereka selalu update tentang informasi Korea baik itu K-Drama ataupun K-Pop melalui media sosial atau melalui diskusi di berbagai platform daring.

Sebelum pandemi tentunya kita tahu bahwa terjadi konflik antara Korean Fans dengan non Korean Fans. Salah satunya Non Korean Fans sering mengolok-olok Korean Fans dengan mengatakan artis atau idol Korea “segumpalan plastik”. Hal ini terjadi karena maraknya operasi plastik di Korea. Banyaknya anggapan tentang orang Korea maupun idol dan artis yang terlihat tampan dan cantik telah melakukan plastic surgary atau operasi plastik sehingga mereka sering dikatakan palsu. Jika diamati lebih dalam, banyak dari idol maupun artis yang tidak melakukan operasi plastik, ini dibuktikan dengan banyaknya dari mereka yang sudah aktif di dunia industri sejak masih kecil sehingga jika melakukan operasi plastik pasti akan terlihat sangat berbeda. Operasi plastik pun di Korea bukanlah hal yang tabu, bahkan mereka akan mengakui secara terbuka jika sudah tersentuh oleh pisau bedah.

 Namun, sekarang nampaknya ejekan tentang menyukai “segumpalan plastik” sudah kian mereda karena konten tentang Korea khususnya Drama Korea semakin diminati dan menjadi tren di kalangan masyarakat Indonesia. Tren tentang Korea bukan hanya dramanya saja, bahkan fashion, makanan Korea, bahasa Korea, dan hal lain yang menyangkut tentang Korea menjadi kian populer. Masyarakat semakin awam dengan yang namanya Drama Korea atau Korean Wave, bahkan ada beberapa non K-Drama sekarang menjadi K-Drama Lovers. Alasan menyukai K-Drama karena berawal dari iseng untuk mencari hiburan, hingga drama Korea menjadi tontonan populer di kala pandemi ini. Tidak dapat dipungkiri drama Korea ini semakin eksis di kalangan masyarakat Indonesia ketika pandemi Covid-19, salah satunya untuk hiburan di kala kebosanan melanda.

Dalam menanggapi sebuah tren, bahkan semua tren kita tentu harus melihat dari dua sudut pandang yang berbeda. Dari sisi positif yang didapat dalam tren Korean Wave ini adalah sebagai alternatif penghilang bosan atau hiburan di kala pandemi. Khususnya pada drama Korea terdapat banyaknya sisi positif, yaitu banyaknya nilai moral yang terkandung dalam setiap dramanya. Hal lain yang dapat dipetik dari drama Korea yaitu dapat memberikan motivasi untuk diri kita agar menjadi pekerja keras dalam menggapai mimpi, saling menghargai dan memberi cinta kasih antar sesama, membangun rasa percaya diri, meredakan stres di kala pandemi, menambah wawasan, meningkatkan kepekaan atau meningkatkan rasa keingintahuan, mengedukasi diri tentang berbagai profesi, melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda dan banyak lagi hal positif lainnya. Selain menawarkan sisi positif tentunya semua tren memiliki sisi negatifnya, khususnya dalam tren menonton drama Korea. Jangan sampai drama Korea membatasi diri kita dalam berkarya, baik saat pandemi berlangsung maupun telah berakhir.

Penulis: Ayudwi

Penyunting: Ratna Purnama

 

 

 

You May Also Like