Pantang Patah menjadi Orang Tulamben

Bak bunga yang layu sebelum mekar, wilayah Desa Tulamben selalu menanggung risiko kebencanaan yang tinggi. Berkali-kali mengalami keruntuhan, dimulai dari sejarah kekacauan sabung ayam, letusan Gunung Agung, gelombang tinggi air laut, hingga ‘bencana laten’ dalam pariwisata. Sungguh, pantang patah hidup menjadi orang Tulamben.

Matahari bersinar terik hari itu. Langit nyaris tak ada awan. Air laut berwarna biru tua mendebur dengan lembut bebatuan Pantai Tulamben yang hitam mengkilat. Jalanan dengan pemandangan kering dan penuh bebatuan dengan sepi pengendara melekat saat memasuki Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Karangasem. Sisa-sisa aliran lahar letusan Gunung Agung nampak jelas. Sejelas ingatan I Putu Pica, Kepada Desa Tulamben, yang memulai cerita tentang Desa Tulamben di siang itu (24/6). “Desa adat tulamben ini baru dibangun kembali sekitar tahun 1970an karena beberapa kali mengalami keruntuhan,” ucap Pica seraya mengingat-ngingat.

Pura Batu Belah – saksi bisu terjadinya sabung ayam antara wong prau dan warga Desa Tulamben.

Keruntuhan pertama seingat Pica berasal dari sejarah Desa Tulamben yang saat itu dilaksanaan sabung ayam di pura. “Ada wong prau atau bajak laut yang datang ikut bersabung di sana, dengan berbagai upaya, orang prau itu berhasil dikalahkan. Setelah berhasil dikalahkan orang itu kembali ke laut karena jumlahnya yang sedikit,” tambahnya menceritakan. Masih dalam cerita Pica, kekalahan kaum bajak laut tersebut kemudian memantik sabda di tengah lautan untuk kembali melawan masyarakat Tulamben. Kembalinya kaum bajak laut ternyata membawa kekalahan bagi masyarakat Desa Tulamben. Orang-orang Tulamben, lari kocar-kacir dari desa. Tulamben sepi, hanya tersisa bangunan pura dan griya. “Tahun 90an desa ini masih sepi, karena desa ini kan sebenarnya adalah hasil pemekaran dari Desa Kubu,” lanjut Pica.

Pica tak ingat jelas dimana kisah sejarah Desa Tulamben itu dimuat. Hanya saja, ia ingat desa adat mencatatnya walau tidak secara detail. Selain sejarah kebudayaan tersebut, Desa Tulamben memang desa yang ada di tanah rawan bencana. Bahkan, Tulamben terdampak Gunung Agung yang cukup signifikan. Inilah yang bahkan menginspirasi nama Desa Tulamben. Tulamben berasal dari batulambih yang berarti ‘banyak batu’ yang merujuk pada letusan Gunung Agung yang mempengaruhi desa ini dari waktu ke waktu.

Desa Tulamben, ‘Timbul-Tenggelam’ di Pusaran Bencana

Selepas peristiwa kekalahan tersebut, warga Tulamben mulai berdatangan kembali. Namun, Gunung Agung bergemuruh. Desa Tulamben kuno dalam ancaman bahaya. Sebab, aliran lahar panas mengalir sangat dekat dengan Desa Tulamben, tepat di sebelah timur desa. Oleh karenanya, ditemukan sungai kering bertabur pasir bekas aliran jalur lahar dingin letusan Gunung Agung di tahun 1963. Pernah suatu ketika, pasca letusan Gunung Agung, ditemukan bukti dampak letusan berupa pecahan piring dan tempayan di kedalaman 12meter saat pembangunan salah satu hotel di Desa Tulamben. Masalahnya, temuan tersebut langsung dibuang begitu saja.

Bebatuan – bekas aliran lahar panas Gunung Agung pada letusan di tahun 1963 yang terlihat jelas di Desa Tulamben.

Hal ini berakar dari kurangnya kesadaran akan pencacatan dan pembuktian sejarah Desa Tulamben. Sehingga, segala kejadian penting bagi evaluasi peradaban dibiarkan saja berlalu. “Yang menemukan bilang untuk apa temuan seperti ini? Jadi dibuang saja sama dia,” ujar Pica seraya menirukan tanggapan akan seringnya penemuan buruh terhadap bukti peradaban Tulamben. Kesadaran akan penelusuran jejak peradaban Tulamben tersebut hanya disadari beberapa orang termasuk Pica. “Seandainya saya yang menemukan pasti sudah berkoordinasi dengan badan arkeologi,” stambahnya mengandai, Pica kemudian tertawa keheranan. Bahkan perginya warga Desa Tulamben hingga membuat tidak diketahui warga yang merupakan keturunan asli Desa Tulamben.

Minimnya upaya pencacatan arkeologis di Desa Tulamben membuat buki-bukti dampak letusan menjadi minim. Padahal, dapat menjadi bahan evaluasi bagi potensi kebencanaan gunung berapi. Untungnya, saat aktivitas vulkanis di tahun 2017-2018 warga Desa Tulamben telah mengetahui kemana harus mengevakuasi diri. Kebanyakan dari mereka mengungsi ke daerah Amed sebagai wilayah terdekat. Sementara sisanya mengungsi ke Singaraja, Gianyar, Bangli, dan Denpasar. “Dulu ada tanggap bencana dari kepolisian, ada juga kelompok pemuda dan masyarakat untuk menjemput pengungsi yang bebal tidak mau mengungsi. Ada pula kelompok pecalang yang menjaga keadaan kampung kita dengan tetap waspada,” papar Pica mengenai upaya mitigasi yang dilakukan Desa Tulamben kala Gunung Agung bergemuruh.

Selain masalah gunung, Desa Tulamben juga kerap kali mengalami terjangan lahar dingin, apalagi mengingat letak desa yang berada di hilir. “Disini kan daerah kering, kalau hujan misalnya lebat sekali, paling hanya banjir lahar dingin,” tambahnya. Untung saja dampak dari terjangan lahar dingin tidak begitu berarti lantaran aliran sungai yang kering dan banyak pasir sehingga menyerap air dengan cepat. Desa yang penuh marabahaya. Dari gunung diterjang potensi bencana, demikian pula sang laut yang bisa mendatangkan maut. Kuncup mitigasi telah mengembang di Desa Tulamben. “Kami sebagai warga yang lahir dan tumbuh di sini harus tetap waspada dan tetap memperhatikan informasi informasi dari pemerintah (BMKG) selain itu tetap melaksanakan persembahyangan,” ucap Pica.

Tidak hanya mengandalkan mitigasi berbasis ilmiah, berbagai respons dalam bentuk adat dan kebudayaan juga dilakukan. Misalnya, melakukan persembahyangan dan upacara di Pura Segara sebagai bentuk permohonan agar dihindarkan dari bencana tsunami dan ombak besar yang diadakan setiap 6 bulan sekali. Bila ditanya kebudayaan yang khas, Pica menyatakan sejauh ini belum terdeteksi. “Adat yang khas disini tidak ada, di tempat lain kan ada pertunjukan barong, kalau di sini tidak ada. Mungkin karena daerah kami sering terkena musibah sehingga menjadi hilang atau sebagainya,” ungkapnya yang terduduk di sebuah kursi besi itu.

Ketangguhan, keuletan, dan sikap pantang menyerah membuat warga mampu beradaptasi dengan lingkungan rawan bencana itu. Hingga kemudian Desa Tulamben terus mengalami perkembangan. Desa yang awalnya sepi, kini justru tergolong sangat padat. Terdiri dari enam dusun, Desa Tulamben memiliki penduduk kurang lebih 13 ribu jiwa dengan jumlah KK sebanyak 3,105.

Bencana Baru Bernama Pariwisata

Berkembangnya Desa Tulamben terus memantik kepulangan warga dan menciptakan sendi-sendi perekonomin baru. Misalnya, pariwisata. Pengembangan Desa Tulamben sebagai desa wisata dimulai tatkala di tahun 1994. Beberapa pengusaha dari Denpasar mencoba menyelam di sekitar tenggelamnnya Kapal USAT Liberty (sebuah kapal angkut tentara angkatan darat Amerika Serikat yang tenggelam setelah ditorpedo oleh kapal selam Jepang pada tahun 1942). Potensi wisata itupun menyebar dari mulut ke mulut hingga kemudian fasilitas penunjang pariwisata mulai dibangun. Setelah itu, berdatangan berbagai ‘manik-manik’ pariwisata, layaknya resort, villa, perusahaan diving, dan lainnya.

Wisata menyelam – salah satu atraksi pariwisata unggulan Desa Tulamben.

Hingga akhirnya, Desa Tulamben kemudian memiliki tiga atraksi pariwisata utama, ialah Wreck Ship USAT Liberty Go, kemudian coral garden merupakan undewater temple pada kedalaman 7 meter, titik ketiga disebut drop off memiliki kekayaan hayati layaknya hewan-hewan unik tempat fotografi profesional1. Peminat wisata menyelam di Desa Tulamben tergolong tinggi. Di tahun 2005, misalnya. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai angka tertinggi pada tahun 2008 dan 2009, yakni sebanyak 13.919 (10,82%) dan 20.678 (16,10%) sedangkan wisatawan domestik mencapai 4.293 (15,53%) dan 65576 (23,71%)2.

Tingginya kunjungan ke desa wisata Tulamben memantik pembangunan pariwisata untuk terus berkembang. Beberapa diantaranya bahkan melewati batas-batas konservasi. Salah satu yang ditemui tim konvergensi media, misalnya, terdapat tepat di sebelah bale Pura Batu Belah yang cukup memprivatisasi pantai. Berdasarkan keterangan Pica, pembangunan resort-resort tersebut jauh telah dibangun sebelum adanya aturan tentang tata kelola perairan di Pantai Tulamben. Ditingkat daerah pun baru mengatur tata kelola pembangunan di tahun 2009 Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali yang kemudian diubah Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2020. Pada Perda tersebut yang dimuat pada pasal 108 ayat, terdapat batas tata kelola bangunan yang tidak melewati batas sempadan pantai, yakni daratan sepanjang tepian laut dengan jarak paling sedikit 100 meter. Pemanfaatan bangunan pun tidak ada merujuk pada pembangunan fasilitas pariwisata milik privat, melainkan dominan untuk kepentingan ruang publik.

Peraturan Desa – tata kelola zonasi pesisir dan laut Desa Tulamben yang baru terbit di tahun 2017.

Sayangnya, pembangunan fasilitas pariwisata lebih dahulu mencengkram sempadan pantai Tulamben bahkan sebelum aturan-aturan konservasi terbit. Di Desa Tulamben, penegakan hukum cenderung reaktif lantaran aturan terkait pengelolaan pembangunan daerah pesisir baru terbit di tahun 2017, yakni pada Peraturan Desa No. 7 Tahun 2017 tentang Pengelolaan Zonasi Pesisir dan Laut Desa Tulamben. Meski demikian, Pica menepis bila pembangunan villa, resort, dan lainnya sengaja melanggar aturan sempadan pantai di Desa Tulamben. Melainkan disebabkan oleh faktor alam. “Sekarang terjadi abrasi. Kalau dilihat villa yang dulu berdiri tahun 90an semua mepet ke laut sekarang, untuk sekarang yang berdiri belakangan kan sudah sesuai aturan,” ujarnya menjelaskan.

Melewati batas – salah satu villa di Desa Tulamben terlihat melewati batas sempadan pantai akibat adanya abrasi.

Membentengi Tulamben dengan Konservasi

Sementara itu, semenejak dibukanya wisata di Desa Tulamben, kuncup-kuncup konservasi juga tumbuh dimana-mana. Salah satunya dilakukan oleh Nyoman Suastika, pencetus komunitas Rare Segara. Rare Segara Tulamben mengambil nama dari rare yang berarti anak-anak, sementara segara barati laut, kemudian Tulamben ialah sesuai dengan nama Desa Tulamben. “Rare segara tulamben ini bergerak awalnya di bidang sampah. Kami kumpulan anak-anak, khususnya banjar dinas tulamben, bergerak memungut sampah setiap hari Minggu, khususnya sampah plastik. Itu berdiri sekitar kalau tidak salah 2017 yang lalu, sebelum Gunung Agung meletus,” ucap Nyoman Swastika membuka percakapannya.

Suatu kali terenyuh, Swastika melihat sampah plastik yang berserakan di sekitar jalan dan trotoar. Ia pun berpikir harus merawat kebersihan desanya sebagai desa wisata. “Kita juga tahu kalau Tulamben ini kawasan pariwisata kalau kita sampah plastik lumayan banyak, apakah kita jual ke mereka, disana juga saya berpikir bagaimana memberdayakan anak-anak kita,” ujar Swastika. Ia menyadari betapa konservasi memiliki peran sentral dalam menopang desa wisata. Jika tidak terawat, dapat saja nilai ekonomis Desa Tulamben justru jadi dampaknya. Jadilah, Rare Segara. Swastika pun kemudian mengajak anak-anak di Desa Tulamben. Semuanya terlebih dahulu berkumpul di rumah Swastika, kemudian dilanjutkan menyusuri jalan di sekitaran Pantai Tulamben selama satu jam setiap akhir pekan.

Menerangkan – Nyoman Swastika saat menunjukkan dokumentasi aktivitas Komunitas Rare Segara melalui ponselnya.

Terkenang oleh Swastika tatkala berusaha mengajak anak-anak di Desa Tulamben untuk turut bergabung dalam Komunitas Rare Segara Tulamben. Sekitar 20 orang menjadi target sasarannya. “Kendala di awal-awal ada yang mau, ada yang tidak, tapi lama-lama mereka terbiasa,” ujar pria yang handal menyelam itu. Ia pun kemudian menyiarkan informasi melalui sosial media pada kelompok-kelompok masyarakat di Desa Tulamben. “Ayo ibu-ibu atau bapak-bapak yang punya anak dan mau ikut kegiatan ini silahkan datang, akhirnya orang tuanya nyuruh ikut, ayo ikut biar ada kegiatan,” ucap Swastika me-reka ulang informasi yang disampaikannya pada warga desa. Ia pun menggunakan pendekatan lain. Anak-anak Rare Segara kemudian saling mengajak teman-temannya, selain itu ia pula mengajak anak-anak yang ditemuinya saat tracking pemungutan sampah.

Usahanya tersebut membuahkan hasil. Anak-anak di Komunitas Rare Segara Tulamben terus menambah. Berawal dari 20 orang, menjadi 30-35 orang, hingga menembus 50 orang. Setelah aktivitas pemungutan sampah dilakukan, sampah-sampah tersebut dibawa menuju TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu). “Nanti di sana yang akan menyortir apakah ada barang yang bisa dijual oleh PTST, kalau tidak, kita buang saja langsung ke TPA,” tambahnya.

Bersih-bersih – giat aksi lingkungan yang dilakukan anak-anak Desa Tulamben dalam Komunitas Rare Segara. Foto: istimewa.

Selain capaian akan kebersihan di Desa Tulamben, Rare Segara juga memiliki luaran lain, yakni pendidikan karakter bagi anak-anak yang tergabung di dalamnya. Sebab, selain kegiatan bersih-berish, anak-anak Rare Segara turut mendapatkan edukasi terkait cara membuang sampah dan mengolah sampah. “Bagaimana mereka mencintai lingkungan, menjaga kebersihannya, barang tentu dengan edukasi seperti itu mudah-mudahan mereka terbawa sampai dewasa sampai tua.” Tutup Swastika dengan mata yang masih merah selepas menyelam dari Pantai Tulamben.

Keterangan

[1] Hidayah, Ade & dkk. 2017. Sejarah Wisata Bahari dan Pendidikan Sadar Wisata. Jurnal Administrasi Bisnis (JAB). Vol. 50 (2).

[2] Ari, Ni Kadek & dkk. 2016. Sejarah Wisata Bahari Dan Pendidikan Sadar Wisata Pada Komunitas Desa (Studi Kasus Di Desa Tulamben, Kubu, Karangasem, Bali). Terdapat pada: https://ejournal.undiksha.ac.id/. Diakses pada: 25 Juni 2021.

Reporter: Galuh, Bagus, Iyan, Putri

Penulis: Galuh

Penyunting: Gangga

 

You May Also Like