Pelik SPI, Mahasiswa Unud Beraksi

Senin (2/07/2018) telah berlangsung Aksi Cinta Udayana di depan Gedung Rektorat Universitas Udayana, Bukit Jimbaran. Aksi diikuti oleh kurang lebih 200 mahasiswa, gabungan dari 13 fakultas di lingkungan Universitas Udayana. Dalam aksi ini mahasiswa menyerukan empat tuntutan kepada pihak Rektorat.

Kasus SPI (Sumbangan Pengembangan Institusi) di Universitas Udayana seolah masih belum menemukan titik terang. Hal tersebut dibuktikan dengan gerakan mahasiswa yang diberi nama “Aksi Cinta Udayana” dan menggandeng perwakilan mahasiswa dari ketiga belas fakultas yang tergabung dalam rumpun Pemerintahan Mahasiswa (PM). Menurut selebaran kajian yang disebar oleh humas aksi, landasan munculnya aksi yakni ketidaksesuaian antara penerapan SPI kepada mahasiswa baru Unud angkatan 2018 khususnya jalur Mandiri. Pemungutan SPI dinilai menyalahi asas kepatutan dan mengarah pada komersialisasi pendidikan. Selain itu pula, ketidaktransparansi pengelolaan keuangan dan dana UKT dinilai oleh mahasiswa sebagai sebuah permasalahan.

Dalam aksi terdapat empat tuntutan yakni: 1) Menolak SPI yang dibebankan kepada mahasiswa baru angkatan 2018; 2) Menolak pengenaan UKT 4 dan 5 kepada mahasiswa baru jalur mandiri tahun akademik 2018/2019; 3) Menuntut pihak rektorat untuk membenahi transparansi UKT serta segala mekanisme keuangan di Universitas Udayana; 4) Menuntut tidak ada pengecualian Beasiswa untuk Mahasiswa Baru Jalur Mandiri tahun 2018 dan seterusnya.

Presiden BEM PM Unud, Khosyi Rukito mengatakan bahwa aksi hari ini sesungguhnya merupakan plan B. Menurutnya, keinginan dari mahasiswa yang hadir dalam aksi adalah agar pihak rektorat mau turun dan berbicara langsung menanggapi tuntutan mereka. “Sudah meminta rektor turun secara baik-baik melalui temu sebelumnya, namun rektorat menolak untuk bertemu dengan mahasiswa,” ungkapnya.

Bentuk penolakan tersebut menurut Khosyi berupa tindakan pengabaian permintaannya melalui chat WhatsApp untuk melakukan audiensi dan penurunan baliho serta selembaran yang dipasang atas nama Pemerintahan Mahasiswa (PM). Sikap tersebut dinilai olehnya sebagai sebuah bentuk pembungkaman aspirasi.

Mahasiswa melangsungkan aksi orasi dan menyanyikan lagu di depan pintu Gedung Rektorat Universitas Udayana. Hanya saja, terdapat dua persepsi berbeda terkait kegiatan yang berlangsung pada pukul 10.00 WITA hari ini. Ika Pramesti dan Ni Komang Primandani selaku humas pada Aksi Cinta Udayana mengungkapkan bahwa Aksi Cinta Udayana sebenarnya berupa audiensi.

“Acara hari ini sebenarnya adalah audiensi dengan membawa massa. Namun pihak rektorat menolak untuk menyatakan pendapatnya di depan mahasiswa langsung,” kata mereka senada. Lebih lanjut mereka menambahkan keengganan rektorat untuk turun dan bersuara di depan mahasiswa secara langsung menyebabkan mahasiswa meningkatkan aksinya menjadi orasi di depan Gedung Rektorat.

Di sisi lain, pihak rektorat memandang aksi mahasiswa pada hari ini sebagai sebuah demonstrasi dan terdapat kekeliruan pelaksanaan dari sistem yang seharusnya. Rektor Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp. S (K), saat konferensi pers di Ruang Bangsa, Lt. 3 Gedung Rektorat Unud, Jimbaran mengatakan bahwa keengganan pihaknya untuk turun menemui mahasiswa terkait dengan konsistensi mengikuti prosedur administrasi yang berlaku.

Raka Sudewi memaparkan dalam surat permohonan ketua BEM yaitu Khosyi, untuk melakukan audiensi kepada Rektor Unud terkait permasalahan SPI dan UKT jalur mandiri. “Berdasarkan surat undangan tersebut kami pihak rektorat memberikan jawaban, menerima pada hari Senin tanggal 2 Juli, jam 10 di Ruang Bangsa,” ungkapnya memberi klarifikasi.

Dalam tanggapan rektorat, jumlah hadirin yang diundang untuk audiensi tersebut yakni 80 orang dengan perwakilan masing-masing fakultas sejumlah lima orang dan dari BEM Universitas sebanyak 15 orang. “Ketika sebelum saya sampaikan ke konferensi pers, saya mau duduk bersama dengan mahasiswa. Tetapi saya sayangkan, sedikit memaksa—bukan sedikit, tapi banyak memaksa, harus turun,” lanjutnya. “Bukannya saya tidak mau turun, tapi saya sudah menawarkan pada Khosyi untuk naik. Tapi mereka tidak mau naik. Mengapa?”

Tambahnya pula, terkait kesepakatan isi surat permohonan yang dikirimkan oleh BEM sebelum audiensi hari ini berisi mengenai permohonan audiensi tertutup. Namun, realisasi hari ini pihak rektor diminta untuk turun keluar atau melakukan audiensi terbuka. “Bagaimana ini, padahal kemarin sudah dikomunikasikan dengan Khosyi tapi di media malah seperti ini,” akunya. “Sekarang ikutilah surat permohonan itu. Tetapi kalau besok anda mau audiensi di ruang terbuka, bikin surat lagi. Saya akan terima.”

Meski sempat menunggu, pada akhirnya Raka Sudewi turun menemui mahasiswa di depan Gedung Rektorat Unud. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan kepada mahasiswa bahwa dana SPI akan dialokasikan untuk perbaikan sarana dan prasarana kebutuhan akademik. Seperti pembangunan tempat parkir di Kampus Sudirman, ruang kelas untuk mahasiswa FISIP, dan perbaikan kerusakan di Asrama serta Rusunawa Unud. Hanya saja, hingga saat ini pihak rektorat belum mempublikasikan wajah infrastruktur yang akan dibangun menggunakan kucuran dana SPI. (Via/Eva/Kristika/Akademika)

Editor: Juniantari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *