Pemutaran Film “Di Balik Frekuensi” di The Sanur Space

Suasana pemutaran Film “Di Balik Frekuensi” di The Sanur Space, Selasa (2/4). (Foto: Asykur/Akademika)

“Pers dulu dibungkam, pers sekarang dibeli”. Benarkah itu yang terjadi di dunia media saat ini?

Selasa (2/4), Pemutaran dan diskusi Film “Di Balik Frekuensi” digelar di The Sanur Space. Film dokumenter ini mengangkat sebuah realita kehidupan tentang seorang jurnalis yang terkendala profesi dan idealismenya karena media yang menaunginya melakukan tindakan sepihak memberhentikannya di redaksi.

Pemutaran film ini dihadiri oleh beberapa mahasiswa yang tergabung dalam beberapa organisasi mahasiswa seperti, LPM Akademika, LPM Maestro, LPM Medikom, LPM UNHI, dan BEM PM Unud. Namun tak ketinggalan juga beberapa masyarakat yang mengetahui acara ini melalui media sosial twitter.

“Ide besar dalam film ini adalah menunjukkan kepada masyarakat bahwa kesadaran hak publik mengenai kebenaran berita di media ternyata mengandung unsur kepentingan para pemilik media, sehingga terjadi perburuhan jurnalis, konglomerasi media, dan berita–berita yang dipolitisasi untuk kepentingan pemilik media tersebut”, ujar Ucu Agustin selaku penulis dan sutradara film.

Setelah pemutaran film, diadakan diskusi kecil yang melibatkan para penonton dengan para penyelenggara film tersebut seperti, Ursula Tumiwa (Produser), Ucu Agustin (Sutradara), Luviana (Tokoh Film) dengan dimoderatori oleh Asykur Anam yang berasal dari Pers Mahasiswa Akademika.

“Saya melihat dalam kacamata awam bahwa judul Di Balik Frekuensi ini sudah mewakili masalah aktual peran media sekarang yang memang kebanyakan sudah terintervensi oleh elit–elit politik hingga menyebabkan masyarakat terhegemoni. Semoga dapat cepat disebarluaskan di seluruh Indonesia”, tutur Dewangga yang berasal dari BEM PM Unud menanggapi hal tersebut.

Budi seorang mantan anggota persma dari Aceh mengungkapkan bahwa banyak masalah penyelewengan terhadap media yang serupa terjadi di Aceh. “Masalah seperti itu saya alami juga ketika masih menjadi anggota Mapala Loser yang difitnah oleh seorang wartawan TV One mengenai masalah kecelakaan salah satu anggota Mapala UI. Media mengklaim bahwa itu merupakan kesalahan Mapala Loser padahal yang sebenarnya adalah sebuah kecelakaan karena medan yang berbahaya”, ungkap Budi. “Makanya saya berpendapat bahwa ketika media sudah dipegang oleh para elit politik, beritanya pun tidak akan independen”, tambahnya. (Esa Cahya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *