Perawan

Peringatan: Mengandung konten eksplisit.

 

“Mana bisa aku ninggalin dia,” kalimat tersebut diucapkan oleh Asti dengan getir. “Meski aku ingin! Tapi dia sudah mengambil mahkotaku.”

 

Aku bukan tipe orang yang suka berbasa-basi. Maka dari itu aku langsung menarik kursi di hadapan Asti, teman kerjaku sesama editor novel, dan melontarkan pertanyaan yang telah mengganjal di kepalaku sejak omelan dari bos hinggap padaku. “Kenapa sih, kamu?”

Posisinya kala itu di kafeteria dekat kantor penerbitan buku tempat kami bekerja. Aku sengaja meminta bertemu dengan Asti dan perempuan itu mengiyakan. Kafe sedang sepi pengunjung karena sekarang baru pukul setengah sebelas pagi—terlalu awal untuk jam makan siang, terlalu terlambat untuk sarapan. Tentunya aku sengaja mengatur pertemuan kami dengan detil, sebab aku tahu, belakangan sedang ada yang tidak beres dari partner kerjaku ini.

Asti menatapku ragu-ragu. “Nggak mau order makanan dulu?”

“Sudah, kok,” timpalku seraya meletakkan struk berisi pesanan di atas meja. Cuma segelas vanilla latte, berhubung aku belum minum kopi pagi ini. Kalau tidak ngopi, biasanya aku uring-uringan. Padahal sejauh ini aku sudah uring-uringan gara-gara permasalahan dengan Asti.

Melihat tidak ada kesempatan untuk mengulur-ngulur waktu, Asti menghela napas pasrah. “Ya sudah…” Dia berganti posisi duduk sedikit. Terlihat luar biasa ekstra untuk menyamankan diri di atas kursi kayu. Seolah-olah pertemuan ini sama mengerikannya dengan sidang hukum.

Melihat gurat ketakutan di wajahnya lama-lama membuatku tidak tega. Aku mengendurkan posisi duduk, mengenyakkan punggung pada sandaran kursi. Kemudian, seraya melipat tangan dan meletakkannya di depan perut, aku berujar pelan.

“Senin kemarin aku diberitahu oleh bos untuk ambil kerjaanmu,” kataku. “Seleksi dan editan empat naskah novel untuk akhir bulan ini. Aku… Aku bukannya gimana, ya, Ti. Tapi pekerjaanku sendiri pun belum rampung.”

“Iya, Ra,” balasnya pelan seraya menundukkan kepala, menghindari tatapanku. “Maaf banget.”

“Gini, gini. Aku ngajak kamu ke sini karena aku mau tahu, kamu kenapa? Jujur saja, belakangan ini kamu kelihatan sedih dan sering melamun juga.”

Di saat yang sama, pelayan kafe mengantarkan pesananku. Percakapan tertunda selagi aku dan sang pelayan bertukar “Selamat menikmati,” dan “Terima kasih”. Kurasa itu juga memberi Asti waktu sepersekian detik untuk memikirkan jawaban atas pertanyaanku. Tapi teman kerjaku meminta waktu tambahan melalui kebisuannya.

Maka aku menunggu. Sambil menyeruput kopi hangat. Tepat ketika aku meletakkan gelas di atas meja, Asti memulai narasinya.

“Ini masalah aku dan Rio,” ucapnya. “Pacarku,” dia langsung menambahkan karena sadar, sebelum hari ini, aku tidak pernah tahu kalau dia punya pacar.

“Oke,” aku manggut-manggut. Otakku yang telah “dibangunkan” oleh kafein mulai memikirkan beragam kemungkinan alur cerita Asti. Mungkin mereka putus? Ada kehadiran orang ketiga? Masalah hubungan jarak jauh yang berakhir dengan komunikasi yang tidak baik?

Intinya, tak sedikitpun terbetik di benakku soal—

“Sebenarnya aku sudah nggak cocok sama dia. Tapi aku nggak bisa mengakhiri hubungan ini.”

“Loh, memangnya kenapa? Kok sampai nggak bisa?”

Aku berani bersumpah, mata Asti sontak berkaca-kaca saat dia mengucapkan kalimat berikutnya sekeras bisikan lirih. “Dia sudah ambil ‘itu’ku.” Lalu dia terdiam, menelan ludah dengan agak susah payah. “Itu—keperawananku.”

Hampir setengah jam berikutnya berlalu dengan Asti bercerita. Awalnya dengan terbata-bata dan masih gemetar. Lalu semakin lama ia semakin menemukan keberanian. Seolah semua yang ia pendam akhirnya bisa menemukan jalan menuju muara. Muara itu tentu saja, aku. Tak sedikitpun aku menyela cerita Asti. Aku menjalankan pekerjaan sebagai muara—menampung semua yang mengalir hingga tak lagi ada yang bersisa.

Hubungan Asti dan Rio telah mencapai tahun ketiga. Di waktu selama itu, mereka telah melewati dan melakukan banyak hal. Bercumbu pun termasuk dalam daftar, dan menjadi pengalaman yang sulit untuk digambarkan. Asti mencintai momen-momen kala dua tubuh beradu, lalu kemudian bersatu. Ia mengagumi setiap gurat dan lekuk yang ada pada dirinya dan pasangannya. Tak ada yang paling membuat Asti merasa lengkap, selain saat kejantanan sang kekasih menemukan jalan “pulang” dalam tubuhnya.

“Tapi sekarang dia berubah,” lanjutnya, berhenti bernarasi dalam kilas balik.

“Berubah dalam artian?” tanyaku.

“Hubungan kami merenggang. Pertengkaran semakin sering meletus di sana dan sini, membuatku susah fokus. Sejujurnya aku capek,” sebutir air mata meleleh dari pipi kiri Asti. Entah kenapa dia tidak segera menyekanya, dan aku masih bergeming menjadi muara.

“Semua pertengkaran ini mengganggu pekerjaanku. Kehidupanku, bahkan. Aku tersesat soal siapa yang telah berhenti mendengarkan dan memahami. Aku merasa bahwa semakin hari, kami semakin dingin dan penuh amarah ke satu sama lain.”

“Menurutku kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan,” aku berujar. “Tinggalkan saja Rio. Itu lebih baik daripada kalian sama-sama mempertahankan sesuatu yang tidak mungkin untuk dilanjutkan lagi.”

“Mana bisa aku ninggalin dia,” kalimat tersebut diucapkan oleh Asti dengan getir. “Meski aku ingin! Tapi dia sudah mengambil mahkotaku. Kami harus tetap saling memiliki, karena biar bagaimanapun, Rio yang telah membuka ‘segel’ku.”

Aku menggelengkan kepala. Tidak, suara dalam pikiranku berujar. Bagian ini tidak masuk dalam logikaku.

“Tidak, Ti. Menurutku, tidak ada korban-pelaku di sini. Kalian berhubungan dengan penuh kesadaran dan keinginan. Tidak ada siapa yang merenggut apa dari siapa. Rio mengambil apa yang kamu, secara sadar, berikan.”

Asti tampak terkejut dengan pendapat yang baru saja aku lontarkan. Seolah-olah dia sama sekali tidak berpikir ke arah yang sama denganku. Menilai dari ekspresinya, aku rasa memang tidak.

“Begitu ya?” gumamnya pelan. Nada suaranya berubah dingin. “Aku memang perempuan bodoh. Hanya gara-gara cinta remeh, aku kehilangan hargaku sebagai perempuan. Rio—dia pun berkata demikian.”

Asti menatapku dengan tatapan nyaris kosong. “Setelah semua yang aku berikan, katanya, aku tetap tak lebih dari perempuan murahan. Dan dia tak ingin membina rumah tangga dengan perempuan seperti aku. Mau jadi apa anak-anaknya kelak, kalau diasuh oleh ibu yang ‘murahan’ seperti aku?”

Lagi-lagi pikiranku berseru: Tidak! Bagian ini bahkan sangat tidak masuk dalam logikaku.

“Kamu tahu, ‘keperawanan’—” aku membuat tanda kutip di udara dengan jari saat menyebut kata itu, “—itu hanya semacam konstruksi persepsi di masyarakat. Bahwa perempuan dengan selaput hymen yang ‘utuh’ adalah ‘perempuan baik-baik’! Bahwa kebaikan dan keburukan seorang perempuan ditentukan oleh sebuah selaput yang begitu tipis! Saking tipisnya, bahkan bisa ‘rusak’ tanpa harus melalui hubungan intim dengan pria!”

Kerongkonganku mendadak tercekat. Emosi membuncah dan meledak-ledak di dalam dadaku. Air mataku berkumpul di pelupuk mata, hangat dan siap menetes kapan saja. Namun tak satupun ada yang berhasil membungkam mulutku. Tidak ketika kenangan dan suara-suara hinaan kembali bergemuruh kencang dalam kepalaku.

Murahan, kata mereka.

Pelacur.

Tak punya masa depan.

Perempuan hina. Kotor.

“Sekarang beritahu aku,” ucapku dengan gigi bergemeletuk dan tubuh mengigil, “Bagaimana kamu meyakini bahwa satu organ tubuh boleh menentukan kualitas diri dan ‘harga’ kemanusiaan kita—sebagai perempuan?”

Asti tidak menjawab. Dia tidak pernah menjawab pertanyaan itu. Alih-alih, aku melihatnya meneteskan lebih banyak air mata. Bibirnya menggumamkan sesuatu sembari diselingi sesenggukan.

“Maha benar laki-laki dan kejantanannya,” ucapnya putus asa.

(Kristika/Akademika)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *