Pluralisme Sebagai Karakter Bangsa Indonesia

Keberagaman, sejatinya bukanlah yang diinginkan oleh manusia, tetapi itu adalah karunia dari Tuhan yang Maha Agung. Tuhan menciptakan kita berbeda-beda bukan untuk menjadikan kita tercerai-berai, tapi supaya kita bersyukur dan dapat menghargai keberagaman itu sendiri. Sebagai analogi sederhana, bayangkan apabila semua orang dibumi ini adalah orang-orang berkulit putih, atau orang-orang berkulit hitam. Manusia cenderung menyukai sesuatu yang mempunyai banyak warna, karena warna memiliki keindahan tersendiri. Jadi setiap orang yang ada di bumi ini memiliki warna tersendiri, gaya tersendiri, cara tersendiri untuk berekspresi. Sebagai manusia modern seharusnya kita bisa menerima keberagaman itu.

Indonesia merupakan negara yang dikenal sebagai negara demokrasi dengan pengambilan keputusan secara musyawarah untuk mufakat. Sejak kita duduk dibangku SD, materi tersebut senantiasa ada dalam buku-buku pelajaran PKN. Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan negara kita yang indah, yang seharusnya bisa memberikan kedamaian kepada seluruh rakyat Indonesia.

Kata pluralisme sendiri sering dicampur adukkan dengan asimilasi antar agama atau budaya.  Perspektif asimilasi ini menyatakan bahwa pluralisme berarti menganggap semua prinsip dan pandangan—termasuk agama dan budaya, adalah sama dan dapat diasimilasikan. Sampai saat ini belum ada yang bisa mendefinisikan secara gamblang arti pahlawan pluralisme.

Siapa yang tidak kenal Gus Dur, atau dengan nama lengkap, Abdurahman Wahid? Ya, beliau adalah presiden RI ke-5 yang menjunjung tinggi pluralisme. Kharisma Gus Dur sebagai tokoh pluralis sampai saat ini belum ada yang bisa menandingi dan belum ada yang bisa menyamai kapasitas seorang Gus Dur. Selama masa orde baru, terjadi tindakan yang sangat diskriminatif terhadap warga keturunan Tionghoa, hak asasi mereka dilanggar dan perbuatan-perbuatan yang tidak senonoh lainya terjadi terhadap mereka. Hingga pada akhirnya Gus Dur menjadi presiden dan tampil sebagai pahlawan bagi kaum-kaum minoritas. Gus Dur pun menyuarakan keberagaman, hingga Gus Dur dikenal sebagai tokoh pluralis yang sangat dihormati dan mampu mengubah bangsa ini dalam menghargai keberagaman.

Banyak orang yang mengkhawatirkan nasib pluralisme di Indonesia terutama dalam hal beragama dan berbudaya setelah Gus Dur meninggal, mengingat hampir tak ada sosok penerus yang berjiwa pluralis sejati dan memiliki pengaruh yang begitu besar seperti beliau. Namun, Indonesia dan pluralisme bukanlah hal yang baru. Tengok kembali sejarah negara kita. Ialah seorang tokoh Syarekat Islam, Haji Agus Salim, sosok dibalik modifikasi poin pertama Piagam Jakarta (“Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”) menjadi Ketuhanan yang Maha Esa seperti tertuang dalam Pancasila. Pluralisme ada sejak sebelum kita merdeka, dan tetap ada diideologi berbangsa kita.  (JajangNoor)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *