Polemik Pembangunan Pariwisata Bali

Kecaman dan kritikan tajam mengenai pembangunan pariwisata di Bali terus bermunculan selama beberapa tahun belakangan. Pembangunan yang semestinya untuk kebaikan, justru dianggap akan melemahkan Bali di masa mendatang.

Seiring dengan perkembangan pariwisata di Bali, pembangunan fasilitas-fasilitas wisata, mulai dari hotel, mall, hingga jalan tol dan underpass semakin gencar dilakukan. Setiap jengkal lahan Bali sepertinya harus menunjang kegiatan pariwisata. Setiap sudut tanah semakin ditumbuhi oleh bangunan-bangunan, bahkan pemerintah kini mulai melirik hutan lindung untuk dijadikan sarana wisata, sebut saja proyek tahura, pengusahaan pariwisata alam oleh PT. Tirta Rahmat Bahari di Taman Hutan Raya, Ngurah Rai. Hal ini jelas terlihat bahwa pengembangan pariwisata di Bali sudah mulai tidak terkendali, bahkan cenderung tidak ramah lingkungan.

Sejak beberapa tahun lalu pemerintah sendiri sebenarnya telah berjanji untuk melakukan moratorium, yaitu pemberhentian pembangunan di Bali secara keseluruhan. Pada kenyatannya, hingga sekarang janji itu belum terwujud. Pemerintah tidak konsisten dengan program itu, bahkan terkesan sengaja diulur-ulur yang mungkin untuk suatu kepentingan politik di dalamnya.

Tidak hanya pemerintah, masyarakat juga memiliki andil dalam hal ini. Masyarakat Bali cenderung lemah dan mudah menerima. Padahal, ijin AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) tidak akan keluar tanpa persetujuan dari masyarakat. Masyarakat Bali juga gampang memberi ijin atau rekomendasi pada perusahaan hanya karena diiming-imingi dengan tawaran berupa sumbangan atau pekerjaan.

Hal ini terbukti dari adanya beberapa kasus dimana hotel sudah dibangun, padahal ijin belum keluar. Lahan Bali yang mulai menyempit oleh pembangunan-pembangunan semakin diperparah oleh jumlah penduduk yang kian meningkat, sementara Bali tidak bisa menolak penduduk pendatang, padahal luas geografis sebenarnya hanya memungkinkan Bali dihuni oleh 1.5 juta jiwa. Pada kenyataannya, sesuai hasil sensus penduduk tahun 2010, Bali telah dihuni oleh hampir 4 juta jiwa. Itu pun tidak termasuk jutaan wisatawan yang berlibur ke Bali setiap tahunnya.

Selain sebagai destinasi wisata, Bali juga sebagai destinasi investasi global yang menguntungkan. Hal ini dapat dilihat dengan penelitian bahwa investor dari proyek-proyek yang dikerjakan di Bali hampir 80% adalah orang asing. Hal ini yang harus diwaspadai pemerintah, jangan sampai keuntungan pariwisata tidak banyak dinikmati penduduk sendiri.

Jika hal ini terus berlanjut, bisa dibayangkan bagaimana wajah Bali di masa mendatang. Berada di Bali mungkin tidak akan terasa sama seperti di Bali. Sesak, dimana lautan beton menggantikan lahan hijau yang sesungguhnya tidak hanya sekedar aset wisata. Namun juga merupakan sumber kehidupan. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *