Provokasi Berita Agama Lemahkan “Bhineka Tunggal Ika” Berpotensi Memicu Perpecahan Bangsa

opini-gun

“Begitu banyak berita agama yang tersiar melalui media cetak dan elektronik, namun disayangkan dari sekian berita, banyak yang bernuansa provokasi dan sarat kepentingan tertentu.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar terdiri dari 17.504 pulau dengan 241.452.952 penduduknya yang terbagi menjadi 1.340 suku dan 6 agama yang diakui oleh pemerintah, menjadikan negara ini sebagai negara yang paling toleran se-Asia. Hal ini bukan tanpa alasan, Indonesia, yang merupakan negara dengan mayoritas pemeluk agama Islam, ternyata dapat hidup berdampingan dengan pemeluk agama lainnya.

Namun dalam kebaikan pasti terdapat kejahatan seperti konsep yin dan yang. Dengan berkembangnya secara pesat dunia teknologi yang mendukung globalisasi informasi membuat banyak mata membuka cakrawala yang lebih luas mengenai jurnalisme.

Kaitan antara jurnalisme dengan judul dari tulisan ini adalah sering adanya provokasi mengenai agama tertentu. Berita-berita tersebut cenderung memprovokasi dan menyesatkan. Banyak kita lihat berita-berita semacam itu di sosial media dan yang lebih membuat tercengang adalah berita tersebut banyak dibuat oleh situs-situs yang dianggap memiliki nilai jurnalisme yang tinggi. Banyak tanggapan pro dan kontra pada kolom komentar dari berita tersebut.

Efek dari berita tersebut mungkin tidak akan langsung terasa karena masih sebatas di dunia maya. Namun, bayangkan jika berita-berita tersebut sampai pada media cetak. Bisa dibayangkan konflik apa yang akan terjadi. Kecemasan ini bukannya tanpa alasan, mengingat masalah kepercayaan adalah sebuah masalah yang sensitif. Sedikit saja ada yang menyinggung, dapat mengakibatkan sebuah konflik yang dapat berujung pada perpecahan.

Indonesia dengan konsep Bhinneka Tunggal Ika telah mengguncangkan dunia karena mampu bersatu menjadi negara yang berdaulat diatas semua perbedaan yang ada di Indonesia. Dikutip dari situs 1cak.com “Berbanggalah kamu menjadi Indonesia, karena cuma di Indonesia kamu dapat menemukan kehidupan bertoleransi yang kuat di dunia, yang jika kamu lihat lebih jauh ke negara lain, apakah kamu akan menemukan negara seperti Indonesia di tempat lain?”. Walaupun kutipan ini diambil dari situs hiburan, namun patut mendapat apresiasi tinggi.

Dalam masalah ini ada 3 pihak yang harus mulai mengintrospeksi diri. Mereka yang dimaksud adalah pemerintah, penyedia berita, dan pembaca berita sendiri. Jika pemerintah peka dalam masalah ini terutama Kementrian Agama, seharusnya memberikan kebijakan untuk mengatasi masalah ini sebelum menjadi besar. Portal berita online sebaiknya lebih menyaring berita yang mereka share untuk konsumsi publik, dan sebagai pembaca sebaiknya memahami dan menyikapi dengan positif isi dari berita tersebut, jangan sampai mau terpancing kedalam provokasi yang mungkin tersirat dalam berita tersebut. (gun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *