Purnama Kedua di Ujung Dermaga

Desir ombak tak bermuara bersama senja perlahan memudar meninggalkan cakrawala, menyeruak kalbu dua insan di tepian pohon kelapa. Hati bergejolak menahan kelam diantara bintang – bintang. Rehan menatap jauh ke samudera menghela nafas yang dirasa semakin sesak dalam batinnya. Tak ada sepatah kata terucap dari kedua hati yang sudah sewindu bersama. Jihan hanya terdiam membayangkan nasib yang kian hari semakin semu.

Udara dingin sebagai pelengkap kesunyian dua insan yang termenung dihadapan ombak yang seolah – seolah memberi isyarat untuk berkata. Namun, kesunyian telah merayap diantara keduanya, debur ombak membasahi gaun jingga menambah elok paras Jihan malam itu. Rehan masih mengunci rapat bibirnya, matanya tak lepas dari pandangan samudera. Bagi Jihan ini bukanlah hal yang biasa, setiap kali bertemu tawa Rehan selalu memancar hingga menggema seluruh jagat raya.

Dalam benak Jihan ingin rasanya memulai sepatah kata, akan tetapi ia takut jika seuntai kalimat itu kembali menusuk batin Rehan, ia takut Rehan tak bersuara seumur hidupnya. Namun ini semua adalah kepastian yang harus diungkapkan meski semanis madu meskipun sepahit nasibnya saat ini. Tak tega  menggores hati kekasih yang sangat dicintainya, hatinya rapuh melihat tatapan kosong Rehan sedari senja hingga larut malam tetap saja terdiam.

Sejujurnya Rehan tahu semua maksud Jihan, hanya saja dia tidak ingin mengulasnya. Karena dia sendiri tahu jika sedikit ulasan itu akan memutus benang merah diantara mereka. Deburan ombak yang terkahir kali memecah batu karang, seketika angin laut datang menyambut seuntai kalimat yang terlontar dari benak Rehan yang selama ini ia pendam.

“Katakanlah, Jihan. Aku sudah siap mendengarnya!” berkatalah Rehan meski dalam batinnya tak ingin mengatakan hal pahit semacam itu.

“Bagaimana aku bisa berkata yang sejujurnya, melihat kedaanmu saat ini aku tak mampu mengatakannya.” jawab Jihan yang saat itu mengalir air mata di pipi kanannya.

“Katakan saja, bukankah ini keinginanmu?” jawab Rehan singkat.

“Aku menginginkan engkau datang disini bukan untuk memandang samudera, bukan untuk menatap bintang – bintang mengangkasa, bukan untuk melihatmu diam seribu bahasa, bukan pula untuk melihatmu berpandangan kosong.” jawaban Jihan diiringi air mata yang kedua.

“Lalu mengapa ?” Rehan kembali menjawab singkat.

“Jangan menjadi kura – kura dalam perahu, Rehan!” air mata Jihan semakin berlinang.

“Pulanglah Jihan malam sudah semakin larut temui aku esok lagi, itu pun jika kau masih menepati janji.” Rehan berkata tanpa sedikit pun memandang paras ayu kekasihnya.

“Aku tiada maksud seperti itu Rehan….” Jihan berusaha menjelaskan.

“Sudah, pulanglah. Orangtua mu pasti cemas mencarimu aku tak mau orang – orang berburuk sangka terhadap keberadaan kita saat ini, aku tak mau diprasangka menculik seorang gadis pada malam purnama.” jawab Rehan menyuruh kekasihnya pulang.

“Jika aku pulang apakah kau akan tetap memandang samudera itu sedang kekasihmu sendiri tak kau hiraukan?” tanya Jihan dengan nada memelas.

“Itu biarlah menjadi nasibku.” jawab Rehan disela – sela helaan hafasnya.

“Baiklah jika itu keinginanmu, temui aku pada purnama kedua.” pinta Jihan.

Sesungguhnya Rehan tak tega melihat kekasihnya berlumuran air mata, dalam benaknya sendiri ia tak mampu berbohong. Ingin rasanya mengusap segala kepedihan di hati Jihan, namun jika malam itu dia tidak datang dengan segala kepalsuan mungkin batinnya akan meleleh seperti setiap kali dia bertemu kekasih pujaannya itu.

“Andai malam ini kau datang berkilauan intan bukan dengan kepalsuan Jihan,  aku tak akan termangu memandang samudera yang tiada batas itu, seperti cintaku padamu.” Kata Rehan dalam hati.

Jihan adalah seorang anak nelayan, ayahnya bekerja pada seorang saudagar kaya yang memiliki sepuluh kapal besar. Ibunya sakit – sakitan dan adik – adiknya sedang mengenyam pendidikan sekolah dasar yang setahun ini menunggak pembayaran ujian. Setiap hari pula dirinya harus rela beradu dengan terik matahari untuk menjual sisa ikan yang ayahnya bawa dari saudagar yang dipanggilnya juragan.

Rumah ke rumah sudah biasa orang melihat gadis berparas ayu berkeliling kampung menjajakan ikan. Tak sedikit pemuda yang pernah meminangnya untuk dijadikan istri bahkan banyak pula para saudagar yang menjanjikan kapal besar kepada ayah Jihan demi bisa mempersunting seorang gadis lugu berparas ayu. Akan tetapi, semua pinangan dan segala penawaran ditolak begitu saja oleh Jihan, dirinya lebih memilih seorang anak buah kapal yang menurut sebagian gadis dikampungnya berwajah tampan.

Cinta mereka sudah melekat tak bisa terbantahkan apalagi dengan sebuah tawaran. Kebaktiannya kepada orang tua dan rasa gelisahnya setiap kali melihat ibunya terbaring sakit memaksakan langkah kakinya untuk terus mengais rejeki. Setiap minggu ibunya harus meminum obat yang harganya lima kali makan seluruh keluarganya. Tak jarang dia dan adik – adiknya hanya memakan singkong rebus meski di dapur ada ikan sisa tangkapan.

Baginya, ikan – ikan itu adalah penyambung hidup ibundanya tercinta. Lebih baik dirinya merasa kelaparan asalkan keluarganya tetap utuh daripada dia hidup berkecukupan namun keluarganya penuh penderitaan. Setiap malam menjelma, Jihan selalu menghitung bintang. Kapankah purnama kedua akan datang?

Tak sabar hatinya menemui kekasih tercinta meskipun untuk yang terakhir kali. Karena pada purnama pertama dia tak sanggup mengungkapkan segala kenyataan. Baginya bertemu dengan Rehan adalah obat paling mujarab untuk melupakan segala duka lara dalam hidupnya walau hanya sekejap saja. Jihan telah lama menjalin hubungan dengan Rehan, mereka dipertemukan oleh Tuhan ketika keduanya sama – sama berharap kepada dermaga.

Saat itu mentari mulai mengintip memancarkan setengah sinarnya, Rehan berdiri diatas kapal besar yang mengangkut berkilo – kilo ikan, dari tengah laut terlihat kerumunan orang di pinggir dermaga membawa bejana besar untuk berebut ikan. Namun pandangannya menerawang jauh tatkala melihat seorang bidadari berambut hitam panjang dengan gaun merah merona. Wanita berparas ayu itu setia di pinggir dermaga entah untuk berebut ikan atau sedang menunggu seseorang.

Ketika kapal ia sandarkan nampak begitu jelas kecantikan gadis bernama Jihan, kala itu juga hati Rehan mulai terpikat dengan Jihan. Saat Rehan mencoba untuk menyapa datanglah seorang laki – laki yang dipanggilnya ayah. Rupanya Jihan mengetahui maksud Rehan yang ingin berkenalan dengannya.

Sebenarnya Jihan sudah sering melihat Rehan ketika menunggu ayahnya sandar di dermaga. Menurutnya, Rehan adalah orang yang pekerja keras, wajahnya tampan, kulitnya sawo matang, dan senyumannya membuat para gadis melayang. Setiap keduanya berpapasan senyuman mereka selalu melingkar dari bibir mungil kedua insan yang sedang kasmaran. Seiring berjalannya waktu, datanglah keberanian dari seorang laki – laki pencari ikan yang penghasilannya hanya cukup untuk makan. Bahkan terkadang dia rela menahan lapar demi ibu dan adiknya dapat merasakan sesuap nasi.

Rehan dengan percaya diri mengirimkan surat kepada Jihan yang dia sendiri juga mengetahui bahwa banyak para lelaki bangsawan yang ditolak begitu saja oleh Jihan. Sepucuk surat asmara ia titipkan pada bejana tempat Jihan mengambil ikan dari juragan. Ketika semua ikan dalam bejana telah habis dijual betapa terkejutnya ia melihat sebuah plastik berisi selembar kertas, maka dibukalah kertas berisi seribu tanda tanya itu.

“Wahai gadis ayu, parasmu sungguh elok menawan hatiku di kejahuan samudera. Mataku tiada berhenti memandang sayu senyum manismu, gaun merah merona diterpa angin yang ingin menyapa menambah elok keanggunanmu. Aku Rehan seorang laki – laki pengais ikan, alangkah senang hatiku jika engkau mau menemuiku di ujung dermaga esok pagi.”

Jihan membaca surat itu berkali – kali hatinya berdebar lebih cepat dari biasanya, di sepanjang malam ia tak dapat tidur menantikan esok pagi. Matahari kala itu menyemburatkan cahaya keemasan, dua orang insan saling bertatapan di ujung dermaga.

Langit ibarat payung dan bumi bagaikan karpet merah yang menjadi saksi jalinan kasih di antanya keduanya. Rehan mengungkapkan segala perasaannya kepada Jihan, segala yang berkecamuk dalam batinnya diungkapkan seluruhnya. Jihan yang memang sudah lama memendam rasa kepada Rehan tanpa berpikir panjang dan tanpa melihat status sosial dia menerima cinta Rehan.

Mereka berdua sering menghabiskan waktu diujung dermaga dan dipinggir samudera yang banyak dihuni pohon kelapa. Itulah cerita antara Jihan dan Rehan sebelum badai gelombang  masuk dalam jalinan cinta kasih mereka. Malam purnama kedua telah tiba, Jihan bergegas lari menuju dermaga menemui kekasihnya. Namun, malam itu ia tidak menemui seorang pun disana yang ada hanya kesunyian kapal yang telah berlayar.

Jihan sangat menyesal mengira bahwa dirinya  terlambat untuk melihat wajah kekasihnya untuk yang terakhir kali. Tiba – tiba dari hembusan angin dermaga, melayang selembar kertas putih yang berisi.

“Apakah kau merasakan sunyi dalam kesendirian malam ini ? begitupun diriku yang akan menjadi teman setia dari kesunyian itu.”

Rehan datang dari balik perahu yang sudah lama tidak berlayar, dengan langkah pelan ia berjalan mendekati kekasihnya. Terjadilah perbincangan diantara keduanya.

“Aku tahu kau akan datang Jihan, aku tahu kau masih menepati janji walau malam adalah ini janjimu yang terakhir.” berkata Rehan seraya memandang Jihan

“Rehan sesungguhnya aku tiada bermaksud untuk…” jawab Jihan dengan air mata mengalir sesegukan.

“Untuk apa wahai kekasihku, apakah untuk menghina kesucian cinta kita atau untuk membuatku jatuh dalam kepalsuan yang kau tanam selama sewindu ini?” jawab Rehan memotong perkataan Jihan.

“Tiada lain yang kucinta selain dirimu, aku melakukan semua ini karena ada maksud lain yang tak bisa kau pahami.” ucap Jihan mengela.

“Apa yang tak bisa kupahami? aku begitu paham bahwa kekasihku esok akan bersanding dengan seorang bangsawan yang memiliki seluruh kapal di dermaga ini, aku begitu paham akan semua alasanmu dan janji – janji manismu.” jawab Rehan

“Maafkan aku Rehan tetapi aku tidak mempunyai pilihan lain, kau tahu kan kita hanyalah seorang anak nelayan yang penghasilannya setiap hari hanya cukup untuk makan. Selama sewindu aku menantimu namun tiada datang kau ke rumahku. Adik – adikku butuh pendidikan dan ibuku membutuhkan pengobatan. Jika aku terus bersamamu apakah kau sanggup memenuhi segala kebutuhanku itu, dan ini semua kulakukan untuk memberikan status sosial keluargaku,. jawab Jihan

“Jika harta telah melalaikanmu maka pergilah dan anggap aku hanya sebagai pengisi hari – harimu. Memang benar keluargamu memerlukan semua itu, jika kau terus bersamaku maka hanyalah kesengsaraan yang kau dapatkan. Selama sewindu memang belum cukup seluruh penghasilanku  untuk bersanding denganmu bahkan aku merelakan hidangan untuk keluargaku agar dapat meminangmu.” berkata Rehan diringi tetesan air mata.

“Maafkan aku Rehan namun inilah pilihanku.” jawab Jihan dan pergi meninggalkan Rehan di ujung dermaga.

Pagi di ujung Dermaga sebuah pesta perkawinan diadakan sangat meriah, saudagar dari berbagai penjuru datang meramaikan pesta. Para nelayan, para saudagar, dan para bangsawan memuji kecantikan pengantin wanita yang menjadi primadona di kampungnya. Di balik kemeriahan pesta, ada seorang laki – laki duduk bersandar di pohon kelapa dari kejahuan lekaki itu terlihat setia memandang samudera. Cinta yang tiada balas akan tetap berbekas, entah itu luka atau kenangan yang membuatnya terlena.

(Sha/Akademika).

Editor: Via/Akademika