Rickdy Vanduwin Sitanggang: Stay Different and Be Proud untuk GSHR Udayana

Prevalensi kekerasan berbasis gender yang masif di Indonesia melatarbelakangi Rickdy Vanduwin Sitanggang menginisisasi gerakan Womens March Bali (4/3/18). Seolah melawan stigma laki-laki sebagai pelaku utama kekerasan pada perempuan, Rickdy menjadi representasi bahwa kaum adam pun turut bergerak memperjuangkan kebebasan hak kaum hawa atas pelecehan dan segala bentuk kekerasan lainnya.

Women’s March yang berlangsung di Areal Parkir Timur Lapangan Renon, Denpasar lalu ini berada di bawah naungan organisasi milik Rickdy yang bernama GSHR Udayana (Resource Centre on Gender, Sexual and Human Rights Studies Udayana). Organisasi yang juga diketuai oleh mahasiswa semester II Program Studi Agroekoteknologi Universitas Udayana ini merupakan organisasi dengan pusat kajian di bidang gender, seksualitas, dan Hak Asasi Manusia (HAM). Meski baru berdiri kurang lebih enam bulan terhitung dari 13 Oktober 2017, diakui oleh Rickdy bahwa tak ada kesulitan yang berarti dalam menggagas GSHR Udayana maupun Gerakan Women’s March Bali. “Gak ada kesulitan yang besar sih, karena banyak pihak setuju dengan gerakan dan organisasi ini,” akunya.

Di balik proses melaksanakan suatu gerakan dan organisasi tersebut, terdapat harapan dari banyak pihak terkait usaha menjalankan visi dan misi di awal berdirinya GSHR Udayana guna meningkatkan produktivitas dan kinerja SDM di dalamnya. Mengingat organisasi ini bukan hanya sekadar untuk bergerak, melainkan menjadi wadah untuk masyarakat menyampaikan aspirasi seluas-luasnya terkait gender, seksualitas, dan HAM. “Kedepannya semoga GSHR Udayana bisa jadi organisasi pionir di Bali dan membuka celah untuk diskusi di bidang gender, seksualitas, dan HAM seluas-luasnya, karena ruang diskusi yang mengkaji tentang 3 isu itu masih sangat langka. Jadi, itu yang saya harapkan dari GSHR Udayana, agar bisa jadi mediator dan fasilitator yang berfungsi bagi setiap ruang diskusi,” tambah Rickdy.

Tercermin dari apa yang ia lakukan, Rickdy menjadi sebuah contoh dari laki-laki yang menjunjung tinggi kesetaraan gender di masyarakat. “Terlepas dari gender saya laki-laki, saya berharap kasus-kasus kekerasan yang ada dapat diminimalisasi sehingga dapat menciptakan ruang yang nyaman untuk perempuan. Karena perempuan merupakan salah satu kelompok rentan yang mendapat kekerasan,” terangnya ketika menjelaskan alasan  mengagas gerakan feminis Women’s March Bali.

Mahasiswa kelahiran Bogor, 1 Oktober 1999 ini menjelaskan bahwa berkenaan pelaku kekerasan seksual dewasa ini yang terjadi di Indonesia didominasi oleh  laki-laki, maka laki-laki sudah selayaknya memahami batasan terkait sejauh mana mereka bertindak serta menyadari betapa pentingnya menghargai sesama. “Mengingat pelaku kekerasan seksual didominasi oleh laki-laki, maka penting untuk setiap laki-laki mengetahui dan memahami hal-hal yang perlu dilakukan, seperti tidak melakukan kekerasan dan ikut serta dalam mengampanyekan gerakan anti kekerasan”, paparnya.

Stay different and be proud” yang merupakan moto hidupnya tercermin dari gebrakannya yang mampu menggagas gerakan feminisme di tengah sosoknya yang maskulin (pria). Sudut pandangnya dalam perihal kekerasan dan pelecehan berbasis gender yang dinilai krusial menjadi tolok ukurnya guna menuntut pemerintah untuk menghapus  kekerasan terhadap kelompok rentan, terutama perempuan. Dijelaskan pula olehnya bahwa pengesahan RKUHP baru-baru ini semakin menambah kerentanan kekerasan terhadap perempuan.

Kedepannya, Rickdy berharap pemerintah mampu mengkaji lebih lanjut dan memutus rantai tindak kekerasan di tanah air. “Saya berharap agar pemerintah lebih ingin menilik dan berpihak, karena sudah seharusnya seluruh masyarakat Indonesia merasakan lingkungan yang aman dari kekerasan,” ujarnya. (Edwin/Kristika/Juniantari/Akademika)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *