Rinduan

Pagi ini, pukul enam lewat dua puluh, aku terbangun di atas ranjang yang sepi. Telapak tangan kananku masih refleks meraba seprei di tempatmu biasa berbaring. Rasanya dingin. Sejenak, aku bingung kenapa masih saja terbangun dalam situasi ini. Padahal sesungguhnya aku sudah tahu. Sudah berhari-hari tidak ada lagi kehangatan bekas tubuhmu di sana.

Begitu pula hal-hal lain yang biasa kujumpai di setiap pagi: wajah tenang tanpa bebanmu saat terlelap, dering weker dari ponselmu, juga caramu merengkuh pinggangku dan menahannya hingga malam berganti fajar. Aku bahkan merindukan serentetan omelan dari mulutku sendiri yang keluar lantaran kesal melihatmu masih tidur pulas. Padahal jam weker yang kau atur sudah berdering sebanyak enam kali.

Sekarang ini hanya ada aku. Aku, aku dan aku. Aku dan kamar tidurku yang terasa terlalu besar sekaligus sunyi untukku seorang. Tidak ada ucapan selamat pagi. Tidak ada aksi pertengkaran berebut kamar mandi. Dulu aku selalu mengomel—“Cepetan dan jangan isi acara nyanyi! Nanti aku terlambat!”—ketika kamu menyerobot masuk kamar mandi duluan. Sekarang aku bisa menggunakan kamar mandi tanpa harus menunggu lama atau menggedor-gedor pintu sambil mengomel. Bukankah aku seharusnya senang?

Tapi mengapa hal pertama yang selalu kulakukan di setiap pagi adalah meraba dan menggenggam erat seprei di tempat kau biasa berbaring?

Suara dengung ponsel dari arah nakas di sebelah tempat tidurku membelah keheningan kamar. Hal pertama yang kuucapkan dalam hati untuk gangguan tersebut adalah, “Terima kasih.” Aku selalu menyukai kedatangan distraksi di waktu yang tepat. Suara dengung ponselku jugalah yang menjadi motivasiku untuk bangkit dari kasur. Ada telepon masuk. Nama yang tertera di layar adalah Lisa. Seketika aku bisa menebak bagaimana alur percakapan kami kemudian.

“Leoniiiii! Hari ini kuliah, nggak? Kalau nggak, jalan-jalan yuk!” ceroscosnya langsung persis setelah aku mengucapkan halo. Aku tidak langsung menjawab, melainkan mengecek hari apa sekarang di kalender. Sebab tawaran jalan-jalannya menggiurkan, jujur saja.

“Sekarang Kamis, ya?” gumamku lebih kepada diri sendiri. “Boleh deh. Jadwal kuliahku hari ini dipindah ke Rabu. Mau jalan-jalan kemana?”

“Nonton di Level 21 mau? Aku lagi pengen banget nonton Dilan!” ucapnya bersemangat. “Katanya sih baper* banget. Aku jadi penasaran.”

Dilan? Ah, lagi-lagi aku seketika teringat denganmu. Bukan karena kamu jago ngegombal seperti cowok remaja Bandung tahun 1990 itu, tapi karena kita pernah bertengkar sewaktu mengantre tiket bioskop. Aku penasaran setengah mati dengan Dilan, tapi kamu sudah lama menanti-nanti film terakhir dari serial The Maze Runner.

Sambil mengikuti antrean, kita beradu argumen soal film mana yang lebih bagus untuk ditonton waktu itu. Berulang kali kucubit lengan dan pinggangmu lantaran terlampau gemasnya dengan sikap keras kepalamu. Kamu cuma tertawa sambil tetap membangun argumen sekokoh Tembok Raksasa Cina. Sesuatu kembali bergejolak dalam dadaku, entah apa rupanya namun meninggalkan rasa nyeri.

Pikiranku merilis pertanyaan. Terlepas dimana raganya berada saat ini, adakah peluang bahwa ia masih mengingat momen yang baru kukenang tadi? Mungkinkah hanya aku yang masih berkubang di dalam kenangan-kenangan itu?

“Leoni?” suara Lisa di seberang panggilan membuyarkan lamunanku. “Bumi kepada Leoni? Atau Leoninya lagi nabung di toilet, ya?”

“Eh, maaf, maaf.”

“Pasti ngelamun,” tebaknya, tepat sasaran. “Kayaknya aku tahu lagi ngelamunin siapa.”

“Jangan dibahas,” sergahku cepat. “Yuk deh nonton. Aku mandi dulu ya, baru mampir ke rumah kamu.”

“Oh, oke deh. Aku tunggu ya. See you, Leoni!”

Panggilan terputus. Aku menghela napas berat yang secara tak sadar kutahan. Ponsel masih kugenggam, lalu sejurus kemudian mataku melihat jam dan tanggal hari ini. Pukul enam lima puluh sembilan pagi, hari Sabtu, 3 Maret 2018. Dari sekian hal yang jauh lebih penting untuk kutahu di luar kepala, aku justru ingat persis bahwa sekarang tepat dua minggu setelah aku dan kamu tak lagi menjadi kita.

Distraksi yang manis dari Lisa ternyata belum cukup kuat untuk menarikku keluar dari kubangan kesedihan. Kembali ada rasa pedih menyusup masuk ke batinku. Rasa pedih yang sialnya tak mampu aku utarakan. Aku selalu membenci kondisi ini, saat aku hanya bisa merasakan sesuatu lalu terdiam karenanya. Tidak tahu bagaimana caranya melampiaskan racun ini keluar. Tidak yakin bagaimana harus melepaskan diri dari belenggu kesepian yang semakin hari semakin menjerat.

Aku benci mengakui bahwa setelah kamu pergi, cerita hidupku justru menjadi seperti sekarang ini. Sejenak, aku menyesal sudah menutup telepon dengan Lisa. Pikiran-pikiran buruk kembali menjeratku. Efeknya menyesakkan dada. Aku butuh distraksi, tapi tak seorangpun ada disini. Terutama kamu.

Kamar ini terasa beratus-ratus kali lipat besarnya setelah kamu mengepak semua barang-barangmu di sore itu. Kamar ini terasa beratus-ratus kali lipat heningnya setelah kamu menutup pintu warna putih itu untuk yang terakhir kalinya. Kamar ini terasa beratus-ratus kali lipat berisiknya menggaungkan bentakan dan nada-nada keras dalam pertengkaran kita. Aku menanggung semuanya sendirian selayaknya hukuman. Tidak sepertimu, aku tidak bisa pergi. Pun mungkin tidak sepertimu juga, aku masih ingin memperbaiki semuanya seperti sediakala.

Seluruh bagian kamar menjeritkan kenangan dan aku terperangkap di dalamnya. Lemari pakaian itu, aku ingat waktu pertama kali kita pindah kemari. Kita menghabiskan sepanjang siang membagi tempat di dalam lemari untuk pakaianmu dan pakaianku secara adil. Aku pun ingat waktu perayaan ulang tahunku tahun lalu, kamu diam-diam menyimpan hadiah di dalam lemari dan memberiku sebuah permainan ala bajak laut agar aku bisa menemukannya.

TV itu, yang lurus dengan tempat tidur, mengingatkanku dengan malam-malam kita menonton film bersama hingga aku tertidur di pelukanmu atau sebaliknya. Jendela kamar itu, aku ingat sewaktu pertama kali kita bertemu. Aku bermaksud membuka tirai di suatu pagi, namun secara tak terduga melihatmu sedang jogging. Kamu melintas persis di halaman depan rumahku.

Awalnya itu bukan hal yang istimewa. Hingga lama-kelamaan, kamu selalu lewat di halaman depan rumah, seolah memang disengaja. Aku tidak yakin kapan persisnya melihatmu lewat saat jogging menjadi motivasiku untuk selalu bangun di pukul enam lewat dua puluh menit. Kemudian kamu mengajakku berkenalan… Oh, sial. Mungkin aku memang sudah terkena jerat pancingmu waktu itu! Proses panjang ‘aku’ dan ‘kamu’ menjadi ‘kita’ pun dimulai begitu saja.

Kembali tanganku meraba seprei tempat tidur. Tempat tidur ini… Ah, dia yang paling banyak menyimpan kenangan tentangmu. Bagaimana kita selalu berebut tempat tidur, atau aku yang sering hampir tertendang jatuh karena posisi tidurmu yang banyak gaya. Tempat tidur ini juga menjadi saksi dari saat-saat aku terlelap dalam rengkuhanmu, tempat ternyaman sekaligus teraman bagiku sedunia. Aku suka saat merasakan kehangatan tubuhmu pada tubuhku.

Aku juga mengenalmu lebih dalam di atas tempat tidur ini. Saat kita sama-sama tak bisa tidur dan memutuskan untuk mengobrol hingga mentari menyingsing dari peraduannya. Lalu sekarang aku duduk di atasnya sendirian, terjebak dalam kebingungan sekaligus kebencian terkait kepergian ragamu yang tak membawa serta kenangan-kenangan dulu.

Dua minggu berlalu dan aku masih tidak tahu di mana letak kesalahanku. Dua minggu berlalu dan aku ingin tahu apa yang bisa lebih buruk lagi selain berpura-pura terbiasa tanpamu. Ini adalah hal paling sia-sia yang pernah kulakukan di sepanjang hidupku.

Dengan pemikiran itu, aku beranjak menuju kamar mandi. Sekarang aku rindu mendengar nyanyian sumbangmu sewaktu mandi. (Kiki Kristika/Akademika)

*Rinduan (kata benda): Sesuatu yang dirindukan.

Baper: istilah/singkatan dari ‘Bawa Perasaan’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *