Rumah Bagi Warna, Catatan Kecil tentang Teater Kalangan

Pertama kali saya mengetahui Teater Kalangan adalah saat mereka melakukan pementasan berjudul “DOR” di Taman Baca Kesiman pada 2017 silam. Saat itu saya datang sendiri, tidak ada yang mengajak atau pun menyuruh saya untuk menonton pementasan tersebut. Saya datang karena poster pementasan yang sangat menarik dan membuat kepala saya bertanya-tanya. Di posternya terdapat enam orang yang berada di pinggir jalan dengan kepala tertutup kertas koran serta di sampingnya terdapat judul pementasan yaitu “DOR”. Ketika saya menonton pementasan mereka, saya merasa ada yang berbeda. Pertama, saya sempat merasa tertipu oleh kata-kata “pementasan monolog” yang terdapat di poster sebab kenyataannya justru terdapat banyak orang di atas panggung. Kedua tidak ada jarak antara penonton dengan pemain, bukan hanya karena jarak antara penonton dan pemain yang dekat, tetapi karena penonton bersinggungan langsung dengan pemain. Tubuh saya seakan merasakan dan masuk ke dalam pementasan mereka. Ketiga, meski bentuk pementasan terkesan absurd, tetapi pesan yang ingin mereka sampaikan kepada penonton masih tetap ada dan pesan itu pun sampai ke diri saya.  Semenjak saat itu, saya tertarik dengan Kalangan.

Setelah pementasan, saya berkenalan dengan Jong, begitu nama sapaannya, yang merupakan sutradara dari pementasan “DOR”. Proses berkenalannya pun unik. Dengan arak sebagai media, kitapun berkenalan. Pada saat itu, saya merasakannya secara nyata, bahwa apa yang selama ini ditulis di pakaian-pakaian sebagai, “Arak is connecting people” itu benar adanya.

 

AWAL WARNA

Sore hari di Taman Baca Kesiman, saya tidak sengaja bertemu dengan Jong. Inilah awal warna saya dengan Teater Kalangan. Saat itu Teater Kalangan sedang mempersiapkan pementasan di Taman Baca Kesiman dalam acara Anugrah Jurnalisme Warga 2017 Balebengong dengan judul pementasan “Aku Dimana?”. Jong menawarkan saya untuk mebuat ilustrasi poster pementasan Teater Kalangan. Saya pun mau, dan inilah yang saya suka darinya; dia membebaskan saya untuk membuat gambaran besar pementasan yang Teater Kalangan akan mainkan. Setelah melalui sedikit proses diskusi, akhirnya poster pementasan itupun jadi.

Saat hari-H acara, penonton yang baru datang di undang untuk masuk ke grup chat LINE—pada saat ini, pementasan belum dimulai. Kemudian, acara dimulai dengan lomba serta sesi diskusi terlebih dahulu. Ketika pementasan Teater Kalangan akhirnya dimulai, grup LINE berbunyi terus menerus, dimana hampir semua penonton yang berada di lokasi sudah bergabung masuk di dalam grup. Disitu saya menduga bahwa undangan masuk ke grup LINE di awal tadi merupakan bagian dari pementasan.

Lagi-lagi tidak ada jarak antara penonton dan pemain selama pementasan. Penonton tidak duduk manis di kursi dan pemain fokus bermain di atas panggung selayaknya pementasan pada umumnya. Pemain hadir di antara penonton, mengajak semua orang ikut menjadi bagian dari pementasan. Jika pementasan diibaratkan sebagai warna oranye, maka pemain adalah warna merah dan penonton adalah warna kuning yang melebur menjadi satu pementasan berwarna oranye. Benar-benar ciri khas dari Teater Kalangan.

Panggung yang dipergunakan pun tidak ada bedanya dengan kursi-kursi manis penonton. Panggung adalah semua area penonton dan pemain. Penggunaan simbol sebagai bentuk representasi pesan yang ingin disampaikan Kalangan kepada penonton menjadi sangat dekat, dan setelah selesai pementasan, penonton tidak hanya tepuk tangan. Mereka semua membawa bekal pulang yaitu sebuah pesan bermakna.

 

MENGENAL BANYAK WARNA

Semenjak saat itu, saya cukup sering mampir ke rumah tumpangan Kalangan di Teater Orok Unud. Di sana saya bertemu dengan lebih banyak warna. Saya bertemu dengan teman SMA saya yaitu Tress yang biasanya sebagai pemain sekaligus penata panggung. Selain dirinya ada pula Iin Valentine, seorang jurnalis yang sangat “metaksu” saat berteater. Adapula Jacko yang seorang penari, Anang yang menggemari musik, Novyra murid SMA yang membuat saya melihat perspektif berbeda dari buku, Desi seorang guru, dan Nindya sang calon dokter yang gemar menyanyi, serta lebih banyak warna lainnya yang menghiasi Teater Kalangan.

 

LATIHAN YANG BERWARNA

Teater Kalangan memberikan sesuatu yang baru dalam proses latihan untuk pementasan. Saya mengikuti proses latihan bersama Kalangan saat produksi pementasan, “Buah Tangan Dari Utara,” yang mengangkat isu PLTU Celukan Bawang. Respon terhadap ruang yang selalu digunakan dalam proses latihan membuat saya melihat persepektif lain bahwa ruang ini, entah itu suara, tubuh, maupun tempat bukanlah sebagai penggangu atau penghalang untuk bereksplorasi. Justru ruang-ruang ini sebagai teks yang bisa dimanfaatkan untuk sebuah pementasan.

Nyanyikanlah harapan, perjuangankan tujuan, bahagia kehidupan, bahagia kehidupan,” sebuah lirik lagu oleh Sisir Tanah yang menjadi lagu wajib diputar dalam proses latihan Teater Kalangan. Lagu itulah yang biasa direspon dengan berjingkrak-jingkrak sebagai bagian dari pemanasan latihan. Lukisan, pohon, irama musik, dan hal-hal yang dekat dengan kita biasanya menjadi partitur dalam bergerak.

Keberadaan banyak warna di Teater Kalangan menimbulkan obrolan yang sangat asik. Mulai dari obrolan serius sampai dengan yang penuh bumbu guyonan terjadi baik di awal latihan, akhir, maupun di luar latihan. Tidak ada kesan saklek (kaku, galak) dalam proses latihan, juga tidak hanya sebatas latihan lalu pulang, tetapi ruang latihan ini dimanfaatkan untuk setiap orang tumbuh dan mengenal warna-warna lain.

 

RUMAH BAGI WARNA

Saya sangat sepakat dengan tulisan Iin Valentine tentang Teater Kalangan yang menjadi rumah bagi siapa saja yang ingin tinggal. “Teater Kalangan menjadi rumah bagi siapa saja yang ingin tinggal. Itu sebabnya di awal saya menyebutkan “penghuni” untuk menggambarkan orang-orang yang ada di dalamnya.  Tidak ada batasan berapa lama harus menetap, tidak ada keharusan untuk selalu tinggal, semua berhak pergi kapanpun ingin pergi.  Tetapi, ketika sudah memutuskan untuk tinggal, harus dijalani dengan sungguh-sungguh,” tulisnya.

Penghuni rumah itulah yang saya ibaratkan dengan warna. Satu warna yang menjadi inspirasi untuk warna lainnya. Semangat kolektif untuk membangun Teater Kalangan menyebabkan warna-warna di dalamnya berkembang dan mengetahui bahwa ada warna lain yang ada selain warnanya; bahwa ada perspektif lain yang ada selain perspektifnya; dan itu menyebabkan wadah diskusi yang ada di Teater Kalangan tumbuh dengan subur.

 

WARNA HARAPAN UNTUK KALANGAN

Selama saya berproses bersama Kalangan, banyak hal yang saya dapat. Warna-warni yang ada di Teater Kalangan menjadikan komunitas ini bukan hanya sekedar memproduksi teater, tetapi sebuah “Rumah Bagi Warna”, yang setiap warnanya mampu tumbuh dan berkembang bersama. Warna yang saling kritik autokritik dengan warna lainnya. Warna yang biasanya menghabiskan rokok dan kopi saat berdiskusi. Warna yang nantinya entah hadir sebagai warna Teater Kalangan atau justru hadir dengan warna lain.

Melalui mereka pula saya belajar tentang ruang yang ada di sekeliling kita, tentang penonton yang bukan hanya duduk manis dan pemain yang sibuk memikirkan pentasnya di atas panggung. Terdapat perspektif yang berbeda, bahwa penonton adalah bagian dari pementasan.

Saya berharap Teater Kalangan terus tumbuh dengan apapun warna yang tetap tinggal di dalamnya; teater dengan karyanya yang semakin “gila”, dengan semangat kolektif yang membara, dengan simbol-simbol yang selalu digunakan dan pesan yang selalu hadir dalam setiap pementasan. Semoga apa yang dihadirkan Kalangan mampu memberi persepektif warna yang berbeda khususnya di Bali. Sebab, seni adalah media penyampaian rakyat yang tidak akan terlepas dari apa yang menjadi keluh kesah masyarakat.

Seperti semakin tingginya pohon, maka semakin kencang pula angin yang menerpanya. Hal serupa terjadi pula dengan Teater Kalangan, yang semakin hari semakin tumbuh subur, maka akan semakin kencang pula cobaan dan permasalahan menerpa mereka. Akan tetapi pertumbuhan Pohon Kalangan harus sejalan dengan semakin kuat dan luas akar yang mengakar pada tanahnya sehingga mampu menghasilkan buah-buah yang bukan hanya sekedar enak untuk dikonsumsi, tetapi sehat untuk tubuh dan pikiran yang mengkonsumsinya. (Deoris/Kristika/Akademika)