Sebuah Mimpi, Bertemu Presiden

40635-pesan_sang_jenderal_

 

Judul Buku      : Pesan Sang Jenderal, Aku Ingin Jadi Presiden

Penulis             : Tri Bayu Aribowo

Penerbit           : Dapur Buku

Tahun Terbit    : Mei 2014

Jenis Buku       : Motivasi

Tebal               : 148 halaman

 

“Bagi sebagian orang, cita-cita hanyalah mimpi.

Bagi sebagian yang lain cita-cita adalah tujuan hidup”

Seuntaian kalimat sederhana itu tercantum di dalam sampul buku ini. Sebuah buku motivasi yang mampu mengantarkan kita dalam menumbuhkan kembali jiwa nasionalisme dengan menghormati para pejuang yang telah menyumbangkan jiwa dan raganya demi kemedekaan bangsa Indonesia. Di dalamnya, buku ini menceritakan mimpi seorang anak laki-laki yang ingin bertemu presiden untuk menyampaikan pesan dari Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Namanya Bayu, seorang anak laki-laki yang sedang duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama di Kota Pacitan. Bayu dikenal sebagai anak yang gigih, hampir setiap hari Bayu pergi dan pulang dari sekolah dengan berjalan kaki. Terkadang dia harus berlari jika ingin sampai lebih cepat. Bayu hidup bersama ibunya, Sumiasih dan kakeknya, Mbah Jiwo. Mbah Jiwo merupakan seorang kakek pejuang yang dulu pernah menjadi ajudan dari Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Mbah Jiwo mempunyai hutang berupa pesan kepada Sang  Jenderal, namun pesan itu tidak kunjung sampai kepada presiden karena Mbah Jiwo telah berpulang terlebih dahulu. Sebelum meninggal Mbah Jiwo menyampaikan agar Bayu dapat menyampaikan pesan itu kepada presiden, dan Bayupun berjanji untuk menyampaikan pesan tersebut.

Suatu hari Bayu harus pindah bersekolah ke Jawa Timur karena terbesit keadaan. Disana, Bayu tinggal bersama keluarga Pak Martinus yang merupakan saudara dari ibunya. Di sekolah yang baru, Bayu memiliki banyak teman, dan mereka mendukung Bayu untuk bertemu dengan presiden. Dari sinilah Bayu akhirnya mendapatkan ide dari teman-temannya untuk dapat bertemu dengan presiden.

Di dalam cerita ini, penulis juga menyampaikan petikan-petikan motivasi yang mampu menggugah pembaca. Setiap tulisan dilengkapi dengan gambar sehingga pembaca lebih mudah dalam menginterpretasikan cerita yang tersaji. Di bagian akhir buku, penulis menyajikan kata-kata mutiara dari Panglima Besar Jenderal Soedirman. Sayangnya, di dalam ceritanya banyak sekali penulisan yang salah  dan ceritanya sangat sulit untuk dimaknai. (sui)

You May Also Like