Seniman Kamasan: Kini Masamu, Generasi Transisi

andis

Bagi anda yang merupakan masyarakat asli Bali tentunya akan familiar dengan kesohoran Desa Seni asal Kabupaten Klungkung, Desa Kamasan. Benar, desa ini merupakan satu dari sekian desa yang memiliki insan-insan inovatif dan berkultur seni sejak zaman kerajaan. Tangan-tangan terampil yang terlahir di desa ini bahkan telah menembus pasar nasional. Tak tanggung-tanggung, Presiden ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono-pun sangat mengagumi Desa Kamasan. Semasa kepemimpinannya, beliau menyempatkan datang ke desa ini disela-sela kunjungannya ke Bali beberapa tahun yang lalu.

Namun, jika anda berkunjung ke Desa Kamasan dimasa sekarang ini, mungkin anda akan merasakan sedikit hal yang berbeda. Tuntutan zaman yang kian memodernisasi tak pelak juga memengaruhi gaya hidup penduduk Desa Kamasan. Alat-alat kerja untuk membuat karya seni seperti lukisan, wayang serta pande-pande pemahat bokor, perhiasan dan sebagainya kini sudah semakin terkikis dan berkurang karena tidak memiliki generasi penerus yang bisa melanjutkan pekerjaan seni yang dulunya merupakan mata pencaharian utama para warga.

Lalu, kemana generasi penerus tersebut?

Tak sedikit dari mereka yang lebih memilih untuk bekerja untuk kapal pesiar selepas menyelesaikan masa pendidikannya di Sekolah Menengah Atas. Pola pikir yang konsumtif membuat mereka memberanikan diri untuk bekerja meninggalkan desanya ini, guna memenuhi kehidupannya kelak karena tergiur uang yang memang tak sedikit. Namun, tak semua remaja di sana memiliki pemikiran seperti itu. Beberapa akhirnya memberanikan diri untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat perkuliahan dan memprospek kehidupannya untuk membangun desa kesayangan mereka ini, kelak.

Tapi, meski berangkat dari kemauan tersebut, tentunya tak akan mampu seutuhnya untuk mempertahankan nilai-nilai estetika seni yang telah dilestarikan generasi emas dimasanya. Kegiatan seni melukis, memahat dan sebagainya yang sejak dulu tersohor ke pelosok Bali ini, jika tidak diimbangi dengan tindakan pelestarian nyata, tentu akan sulit untuk mengangkat nama desa ini seperti dulu lagi.

Menarik sekali untuk menantikan aksi nyata yang akan direalisasikan muda-mudi desa ini dalam mengembalikan gaungnya seperti dimasa-masa sebelumnya. Akankah dimasa mendatang Desa Kamasan akan tetap menjadi desa Seni? Anda akan mengetahuinya kelak. (andis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *