Setumpuk Nila Rusak Susu Sebelanga

Bermasa-masa silam, orang Bali bisa hidup berdampingan dengan alam tanpa harus menggerogotinya alih-alih dengan berbagai tujuan. Lahan hijau masih terhampar di mana-mana. Warna-warni kelopak bebungaan juga buah-buah musiman yang masak layaknya surga bagi sang kupu, masih tergelar di mana-mana. Rinai aliran air pun masih leluasa menari di atas jernihnya sungai-sungai.

Lautan pun masih bisa berdamai dengan pesisir, tanpa harus menghantamnya hingga keropos. Tetapi, masa-masa itu perlahan ‘diculik’ dan digantikan dengan masa-masa ‘pembinasaan’. Waktu kemudian membuatnya membiru, tersedu. Karena sepanjang perjalanan manusia untuk terus-menerus memenuhi tujuannya, alam akan tetap bersedih dan bahkan marah. Tidakkah kita tergugah untuk menyelamatkannya?

Kita tidak akan bisa menyangkal, kita tidak bisa bertahan tanpa ekologi lingkungan yang stabil. Ibarat sebuah alur rantai makanan, lingkungan menempati posisi sebagai produsen yang notabene sentral dari perpanjangan siklus-siklus berikutnya. Ruang gerak kita pun tidak akan pernah lepas dari intervensi lingkungan. Tanpa kita sadari, kita hidup dari lingkungan yang kita ciptakan sendiri. Memberi bumi waktu bernafas adalah cara yang bijak untuk melestarikan lingkungan. Tetapi, apakah kita sudah memberi ruang bumi untuk bernafas? Apakah memberi bumi bernafas dengan cara membabat hutan, membuat polusi udara, polusi air dan polusi tanah?

“Tiga sektor yang harus diperhatikan kini, yakni hutan, air dan pesisir,” tegas Agung Wardana, Direktur Eksekutif (Wahana Lingkungan Hidup) Walhi Bali. Tambahnya, hutan sebagaimana fungsinya sebagai paru-paru dunia, surga paling kaya oksigen, perlahan-lahan dibabat, digunduli, diambil kayu-kayunya, dan ujung-ujungnya di jadikan tempat mendaur uang. Air, merupakan kebutuhan mendasar setiap makhluk hidup selain makan. Yang cukup membahayakan sekarang, persediaan air bersih menyusut, karena berbagai sebab, salah satunya pencemaran.

Daerah-daerah resapan air mulai berkurang. Mata air- mata air mulai dilahap dan dijadikan industri air minum. Pestisida, residunya di buang ke sungai-sungai. Kurangnya budaya penghematan air. Pesisir pantai, tentu kita tidak lupa akan tsunami yang melanda Aceh 2006 silam. Bagaimana ombak setinggi 10 kaki menghantam pesisir. Juga abrasi pantai yang membuat air pasang yang menghantam beberapa daerah pesisir di Jawa, Nusa Tenggara dan Bali dan mengakibatkan penduduk sekitar pantai kewalahan akibat air yang masuk ke gubuk-gubuk dan mengancam hidup mereka.

“Alam tidak terkelola dengan baik. Hutan lebih mudah terbakar. Alih fungsi terbesar, karena proyek-proyek pemerintah. Seperti, geothermal, TPA di Suwung, pelebaran Jalan di kawasan mangrove,” tegas Agung. Fenomena alih fungsi lahan ini memang marak disoroti belakangan ini. Para pemodal yang datang, urbanisasi, modernisasi, natalitas yang tinggi merupakan segelintir faktor penyebab. Pembangunan ada dimana-mana. Pabrik-pabrik, toko-toko, semakin memadati wajah Bali. Jika hampir semua lahan diperuntukkan untuk pembangunan, konsekuensinya lingkungan akan tercemar.

“Jika banyak daerah-daerah peruntukkan yang tidak sesuai dengan RTRWP, jelas akan terjadi perubahan lingkungan,” tegas Wayan Suwarna, Ketua PPLH Unud.

Menurut Ketua Bapedalda, I Gde Putu Wardana, perubahan lingkungan sekarang disebabkan oleh tiga faktor. “Faktor pertama, pertambahan penduduk. Penduduk butuh lahan untuk hidup, pemenuhan kebutuhan penduduk berdampak pada limbah. Ini tidak bisa dihindarkan. Kedua, pertambahan ekonomi. Semakin banyak industri, pengembangan produk-produk dan dampaknya ke lingkungan juga. Ketiga, perkembangan informasi dan teknologi, seperti komputer, telepon seluler, mesin-mesin hampir semuanya mengandung senyawa logam. Belum lagi media-media yang mengandung senyawa kimia. Kendaraan yang asap knalpotnya mengepul di mana-mana. Permasalahan lingkungan di Bali sangat kompleks dan lintas sektor. Dimanapun sektor itu, masalah lingkungan pasti muncul. Entah pertaniankah, pariwisatakah, dan lain sebagainya,” urai Putu Wardana.

Tingkat polusi di Denpasar semisal. “Sumber air bersih menurun, akibat pencemaran air. Hutan-hutan juga dalam kondisi kritis. Daerah resapan air mulai menurun. Alih fungsi lahan yang oleh masyarakat di jadikan peternakan ataupun untuk kegiatan lain,” ujar Putu Wardana. Sambungnya, aktivitas dan pembangunan industri juga turut menyumbang polusi udara tersebar. Sumur-sumur teriritasi, akibat udara kotor yang dengan leluasa menyusup ke air. Asap kendaraan juga berbahaya.

Begitu halnya dengan sampah. Kawasan Konservasi Hutan Mangrove saja sudah digerayangi oleh sampah. Ngurah Sarwa, salah satu Kasi Pengelolaan pada kawasan Hutan Mangrove Ngurah Rai menuturkan, rata-rata masyarakatlah yang merupakan pelaku aktif pencemaran lingkungan ini.

“Untuk mengantisipasi hal ini, kami sudah berupaya mengadakan sosialisasi, penyuluhan-penyuluhan mengenai pembuangan sampah ke daerah-daerah, terutama bagi penduduk yang tinggal dekat kawasan sungai, agar lebih memperhatikan lingkungan,” tandas Sarwa. Menurutnya, ini adalah upaya yang alot karena memang sangat sulit untuk mengubah pola pikir mereka, mengubah kebiasaan mereka untuk memulai sesuatu baru yang lebih menguntungkan bagi semua memang sangat sulit. Penuntasan masalah lingkungan memang harus disegerakan. Bukan hanya bencana alam yang memang karena alam, tetapi faktor dari tangan-tangan manusia juga yang paling banyak berpotensi merusak lingkungan.

Astarini Ditha

You May Also Like