Siang Itu, Temanku Bunuh Diri

PERINGATAN: Konten eksplisit dan bersifat memicu (trigger warning). Pembaca diharapkan untuk mampu bersikap bijak dalam menanggapi isi konten. Disarankan untuk tidak membaca apabila konten dirasa mengganggu.

***

Bayangkan ini: kamu bermaksud melewatkan siang yang terik di ruangan sekretariat organisasimu dengan tidur siang. Sekalian ngadem gratis di depan kipas angin, begitu ceritanya. Sebuah rutinitas biasa yang kamu lakukan hampir setiap hari seusai kuliah belakangan ini. Itu gara-gara, satu-satunya kipas angin yang kamu punya di indekos rusak dan kamu belum punya cukup uang untuk membawanya ke tukang service kipas di pasar pagi.

Tapi setelah membuka pintu ruang sekretariat, kamu justru mendapati tubuh temanmu dalam kondisi tergantung di langit-langit. Sepasang matanya terbelalak, melotot memancarkan kehampaan dan tertuju tepat ke arahmu. Seolah-olah dia tahu bahwa kamu akan datang dan bermaksud menyapa. Ada simpul tali yang menjerat erat lehernya, area di sekitarnya membiru.

Persis beberapa senti di bawah kakinya, sebuah kursi plastik tergeletak dalam posisi jatuh seperti habis ditendang oleh seseorang secara sengaja. Tidak sulit mencari tahu siapa yang menendang kursi tersebut sampai-sampai temanmu sukses berakhir tergantung.

Kemudian, bayangkan kamu seketika menjerit. Menjerit sekeras-kerasnya hingga rasanya suaramu mampu merobohkan satu gedung kampus. Kamu menutup mata, berusaha mengenyahkan pemandangan mengerikan yang sayangnya, sudah tertanam begitu lekat dalam benakmu. Terlambat, memang.

Tapi mau bagaimanapun, kamu masih saja berusaha untuk mengusir gambaran wajah hampa dan dingin milik seseorang yang biasanya terlihat penuh kehangatan dan tawa. Kamu menjerit selayaknya itulah cara melarikan diri terbaik. Otakmu antara mendadak buntu atau mendadak lenyap. Mungkin juga keduanya.

Tubuhmu gemetar. Gemetar luar biasa hebat. Kamu jatuh terduduk bersimpuh di lantai, masih menjerit lantang hingga paru-parumu terasa terbakar. Kedua matamu pun memanas, mulai meneteskan air. Deru napasmu berubah menjadi pendek-pendek. Lamat-lamat, jeritanmu mulai redam.

Teredam karena dua hal: kelelahan dan bunyi ribut-ribut khas derap langkah lari dari arah belakangmu. Semakin lama keributan semakin dekat dan tajam. Kemudian, tahu-tahu saja, telingamu dipenuhi oleh sejuta pertanyaan yang tak mampu kamu jawab lantaran terlampau syok. Entah berapa banyak persisnya orang yang datang, tidak ada yang sempat menghitung.

Tidak sedikit dari mereka bertanya, “Ada apa?” baik yang dengan nada menuntut atau hanya sekadar penasaran. Lebih tidak sedikit lagi yang langsung menemukan jawaban yang sebenarnya telah terpampang jelas di hadapan mereka. Gumaman “Ada apa?” pun segera berganti menjadi “Oh Tuhan!”. Kini lebih banyak yang memekik. Beberapa malah langsung mengambil langkah mundur, takut. Ngeri. Sementara kamu hanya bisa menatap kosong dengan derai air mata yang berjatuhan tak terbendung.

Jika kamu bisa membayangkan semua itu, kuucapkan selamat! Sekarang kamu tahu betapa terguncangnya aku siang tadi. Sebab siang tadi, salah seorang temanku di organisasi telah mengakhiri hidupnya. Akulah yang menemukan jazadnya.

***

“Surya cowok yang baik. Nggak ngerti kenapa dia bisa sampai bunuh diri,” ucap Erin. Dia adalah satu dari banyak orang di kampus yang mengulang opini tersebut seperti kaset rusak. Aku sampai hilang jejak soal berapa kali telingaku sudah menangkap kalimat senada itu belakangan ini.

Seminggu berlalu, namun rasanya seperti tidak ada yang berubah. Setiap koridor yang kulalui, setiap anak tangga yang kunaiki, setiap sudut ruangan yang kutempati, semuanya menggaungkan topik seputar Surya dan aksi bunuh dirinya. Tidak ada tempat untuk menghindar apalagi bersembunyi. Aku menghela napas untuk menstabilkan diri. Rasa-rasanya aku bisa muntah kapan saja.

“Banyak yang bilang dia depresi,” ucap suara Adnan. Semenjak kasus ini “meledak” juga, cowok pendiam itu kini jadi lebih sering mengungkapkan isi pikirannya.

“Ah, mana mungkin!” Lena, yang duduk disebelah Adnan, membantah dibarengi gerakan menampik udara kosong dengan cukup keras. “Itu si Surya, si cowok cengengesan yang kerjaannya ngelawak terus! Aku memang nggak ikut UKM* fotografi, sih, tapi aku pernah satu divisi kepanitiaan sama dia. Gila, deh, Surya tuh kocak banget anaknya. Ngelawak melulu kerjaannya.”

“Benar, nggak mungkin dia depresi. Surya ceria-ceria saja tuh pas nongkrong sama kita di sekre,” Erin mendukung pendapat Lena. Meski tidak benar-benar berada dan terlibat dalam percakapan mereka, aku bisa melihat Adnan mengendikkan bahunya dari tempatku duduk.

“Nggak tahu juga. Tapi siapa yang bisa yakin kalau dia baik-baik saja seperti kelihatannya?” tanyanya kemudian, membuat kedua cewek yang mengapit duduknya terdiam sejenak.

Aku juga ikut terdiam. Pertanyaan Adnan ada benarnya. Aku sendiri juga tidak yakin dengan kondisi Surya sampai dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Maksudku, aku mengenal Surya dengan cukup baik. Dia persis seperti yang dibicarakan Lena dan Erin; cowok humoris, cengegesan, dan—sepanjang yang aku tahu—juga sesosok penyabar.

Kematian Surya dengan cara yang “tidak terduga” jelas membuat kami semua terkejut. Tidak ada yang menyangka…

Seketika aku merasa mustahil ada orang lain yang tahu perasaan dan masalah yang dihadapi Surya di semasa hidupnya. Bagaimana mungkin kita bisa memahami perasaan orang lain dengan persis? Dengan sebenar-benarnya?

“Kalau pun Surya benar depresi,” Lena melanjutkan. “Kenapa dia nggak cerita aja, gitu? Kita kan teman dia. Dia harusnya berbagi ke kita kalau ada masalah atau apa.”

“Iya, sih. Bodoh banget dia sampai milih bunuh diri.”

“Dia kira dengan mati masalahnya akan selesai? Nggak kan?”

Entah ini hanya perasaanku saja atau aku memang melihat kehadiran “raut itu” di wajah Lena dan Erin. Raut yang biasa kita pasang saat menyalahkan tindakan orang lain. Raut yang intinya menandakan bahwa kitalah Sang Mahabenar atas suatu kasus.

Sementara Adnan tampak tidak tertarik lagi dengan obrolan tersebut. “Aku cuma kecewa aja sih, sama tindakan Surya. Kukira dia orang yang cerdas dan akan berpikir panjang. Apalagi, bunuh diri itu dosa,” ucapnya seraya membuka buku kuliahnya.

Kejadian selanjutnya aku tidak begitu mengerti. Dengan tangan gemetar dan napas memburu, aku mengepak kembali buku-buku kuliah beserta alat tulisku lengkap ke dalam tas. Sebab kulakukan dengan sembarangan pula, bunyi-bunyi yang kutimbulkan alhasil menarik perhatian seisi kelas. Lebih-lebih suasana kelas sedang tidak terlalu ramai. Aku juga bisa mendengar bisik-bisik yang tercipta di belakang punggungku.

“Dia aneh, tahu. Sejak kematian Surya, dia benar-benar pendiam.”

“Mungkin dia belum bisa move on. Bayangin aja, dia yang pertama kali nemuin Surya. Masih dalam kondisi tergantung, lagi, di TKP. Ngeri banget nggak tuh?”

“Ah, dianya aja sih yang lebay. Kejadiannya sudah lewat jugaan.”

Kusampirkan tasku ke punggung lalu berjalan cepat meninggalkan kelas. Langkahku bahkan tidak berhenti saat dosen yang akan mengajar berjalan masuk ke kelas. Aku dan si bapak dosen berpapasan di ambang pintu. Kudengar dia bertanya, “Anda mau kemana?”

Dia tak pernah mendapatkan jawaban dariku. Aku hanya melengos melewatinya. Suasana kelas benar-benar membuatku bergidik ngeri. Aku tidak tahan jika harus menghabiskan waktu lebih lama lagi di tempat itu, persisnya bersama orang-orang itu.

***

Seperti yang bisa siapapun duga, aku menghindari ruang sekretariat untuk waktu yang lama. Hingga frekuensi obrolan mengenai Surya di kampus akhirnya menyusut, mengecil, lalu akhirnya berhenti begitu saja.

Meski keadaan bisa dibilang telah kembali normal, sesungguhnya aku tidak ada niat mendatangi ruang sekretariat organisasiku siang ini. Hanya gara-gara temanku dari himpunan jurusan menitipkan surat partisipasi lomba untuk ketua organisasiku. Alhasil, aku harus meletakkannya di kotak surat sebelah pintu masuk sekretariat. Itu permintaan dari ketua organisasiku sendiri, Amelia, saat kuhubungi via chat. Dia sedang kuliah, jadi baru bisa membaca surat nanti sore.

Sulit menjelaskan rasanya kembali melangkah menyusuri koridor yang dulu selalu kulewati—hampir setiap hari, malah. Kuakui rasanya menakutkan saat bertemu kembali dengan koridor yang begitu familiar di ingatanku. Jajaran pintu-pintu berlabel nama UKM masing-masing di sisi kanan-kiriku terasa mengintimidasi. Tanpa aba-aba, tubuhku mulai gemetar. Aku bahkan sempat berhenti di tengah jalan untuk menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri.

Perlu usaha mati-matian untukku menguatkan diri. Berulang kali aku perlu mengingatkan diri kalau yang akan kulakukan hanya meletakkan surat di kotak sebelah pintu dan pulang sesegera mungkin. Tidak perlu masuk ke dalam. Tidak perlu mengingat hari itu. Dengan berat hati, kuseret paksa kedua kakiku untuk terus bergerak. Jantungku berdebar-debar begitu keras seiring dengan memendeknya jarak antara posisiku dengan pintu bercat biru gelap. Debarannya membuat dadaku nyeri.

Akhirnya pintu ruang sekretariat UKM-ku muncul di pandangan. Pintu yang menjadi gerbang dari hari-hari burukku. Mau tak mau, ingatanku melayang kembali pada hari aku jatuh terduduk persis di ambangnya. Tapi kekhawatiranku menguap saat aku mendapati pintu sekre terbuka dan ada banyak orang berkerumun dan lalu lalang. Aku mendapati banyak wajah dan sosok yang kukenal. Mereka teman-teman satu organisasiku sendiri. Anehnya, semua orang terlihat panik.

Beragam suara bercampur menjadi satu. Suara pekikan, seruan nama Tuhan, tangisan meraung-raung, obrolan-obrolan panik dan beraura sendu. Semua dicampur aduk seperti adonan. Ketika akhirnya aku sampai di depan sekre, aku melihat Faris, salah satu seniorku, tengah memberi komando kepada dua cowok—anak baru, aku masih belum familiar dengan nama dan wajahnya—untuk menelepon pihak kampus dan rumah sakit.

Pemandangan chaos ini membuat perutku mencelus. Di sisi lain, anehnya, aku seperti bisa menebak kejadian apa yang tengah berlangsung. Melawan rasa penasaranku, kuberanikan diri menyeruak di antara mereka semua, mencari tahu. Aku mendapati sekumpulan teman-teman cewek saling berpelukan dan menangis. Bahkan di antara mereka ada Erin. Dia menangis hingga maskaranya luntur dan tak tampak memerdulikannya barang sedikitpun.

Aku ingin mendekatinya dan bertanya, namun urung karena melihat sosoknya yang kurus tampak begitu rapuh. Aku yakin jika tidak disangga oleh pelukan Tari, Erin pasti sudah tergeletak di lantai dan tak mampu untuk bangkit. Kuputuskan untuk bertanya pada Cika, temanku yang lain dan tengah berdiri tak jauh dariku.

“Cik, ini ada apa ya?” tanyaku pelan seraya mengetuk bahunya dengan telunjuk. “Kenapa kamu dan teman-teman menangis, Cik?”

Dia tidak menjawab. Aku terdiam sejenak. Mungkin dia tidak mendengar suaraku di tengah keriuhan ini. Bisa jadi.

Sayangnya asumsiku terpatahkan tak lama kemudian. Itu saat akhirnya aku menemukan penyebab dari keributan ini secara langsung: ada sesosok tubuh tergeletak di lantai tengah sekre. Tubuh yang sangat mirip dengan aku sendiri. Ada cutter di tangan kiri dan lautan darah merah yang menjadi alas sosok itu berbaring dengan damai.

Darahnya begitu banyak dan melebar kemana-mana. Sampai-sampai menodai amplop surat dengan cap organisasi himpunan jurusanku. Benda tipis itu jatuh tergeletak tak jauh dari tubuhku yang sudah tak bergerak. Darah itu ternyata bersumber dari pergelangan tangan kananku sendiri.

Hari itu, untuk pertama kalinya, aku berhasil melepaskan ketakutanku dan menggantinya dengan kedamaian paling dalam.

*Ket:
UKM = Unit Kegiatan Mahasiswa

Penulis/Editor: Kiki Kristika
Sumber foto: Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *