Siapa yang Salah?

Tak sedikit orang yang berpendapat bahwa hiburan itu penting. Apalagi eksistensinya menjadi hal yang paling diminati oleh banyak orang. Hiburan tidak lagi hanya bisa didapatkan dari luar rumah. Seiring meningkatnya jaman, perkembangan teknologi semakin menawarkan kehidupan yang praktis, termasuk dalam hal hiburan. Salah satunya adalah televisi. Rasa lelah setelah menjalani aktivitas seharian seakan menumbuhkan nafsu untuk cepat-cepat menyaksikan program hiburan di televisi. Lantas hiburan seperti apa yang dimaksudkan? Serta, siapa saja yang jadi konsumen dari program hiburan di televisi?

Berbagai fenomena kemudian bermunculan seiring dengan berkembangnya sajian hiburan di televisi. Fenomena-fenomena ini sering disangkut pautkan dengan degradasi moral. Salah satu contohnya adalah moral anak bangsa yang mengalami penurunan kualitas karena menyalahartikan hiburan di televisi. Adanya faktor modernisasi dan globalisasi inilah yang menjadi penyebabnya.

Keberadaan hiburan yang tayangannya diluar batas kontrol membuat banyak anak-anak menjadi korban dari adegan yang tidak pantas ditayangkan, mulai dari tutur kata, cara berpakaian hingga berperilaku. Faktanya, kini yang mengkonsumsi drama sinetron di televisi bukan hanya kaum ibu-ibu atau remaja, namun tak sedikit anak-anak dibawah usia 12 tahun juga ikut menonton, bahkan ketagihan dengan drama sinetron tersebut.

Tidak hanya dalam hal acara televisi, bahkan musik pun sedikit banyak berpengaruh pada penurunan mental anak. Banyaknya lagu remaja yang biasanya bercerita tentang cinta, yang beredar di kalangan masyarakat merupakan salah satu alasannya. Anak-anak jaman sekarang cenderung lebih hafal dengan lagu-lagu kaula remaja dibandingkan lagu-lagu yang seharusnya mereka dengar diusia mereka yang masih kecil.

Fenomena lain yang berhasil menyita keprihatinan banyak mata belakangan ini adalah anak-anak SD yang sudah ‘pacaran’ lalu melakukan hal yang belum sepantasnya dilakukan. Seperti beredarnya foto di media sosial, dimana dua anak SD terlihat sedang berciuman. Bukan hanya itu saja, masih banyak lagi foto-foto yang isinya adalah adegan yang belum pantas dilakukan anak-anak. Fenomena tersebut berbicara bahwa anak-anak bangsa kita sekarang sedang mengalami krisis moral. Jika sudah terlanjur begitu, siapa yang pantas disalahkan?

Dalam persoalan seperti ini, perlu perhatian orang tua yang cukup tegas dalam mengatur tontonan anaknya. Tidak semua orang tua tahu apa yang telah disaksikan oleh anak-anaknya  di televisi, karena para orang tua, tentu saja tidak bisa terus memperhatikan anaknya selama 24 jam. Hal-hal kecil seperti ini sering diremehkan. Padahal, yang namanya anak-anak, mereka cenderung tidak berpikir panjang setiap menerima informasi di televisi.

Anak-anak cenderung menerima informasi mentah-mentah tanpa dicerna lagi. Itulah yang terekam di otaknya sehingga anak-anak jaman sekarang juga bisa melakukan hal-hal yang belum seharusnya dilakukan dengan mudah tanpa memikirkan dampak dan resiko yang akan diterimanya. Mental seperti inilah yang akan merusak cara pikir anak-anak bangsa.

Seharusnya mereka sedang kritis-kritisnya dalam memantapkan dedikasinya di bidang edukasi. Bukannya keduluan pubertas karena menyaksikan adegan yang tak sewajarnya ditonton. Seharusnya, para orang tua yang sudah sadar akan pentingnya moral anak tahu apa yang harus dilakukan. Minimal dengan cara menghimbau atau merekomendasikan acara tv yang mendidik. Lantas, apa menjadi tugas orang tua saja untuk menjaga mental anak bangsa?

Bayangkan jika negeri ini diteruskan oleh generasi yang masih buta akan moral dan krisis dedikasi. Sungguh mencemaskan bukan? Jika tidak mau seperti itu, seharusnya Indonesia juga sadar untuk tidak membentuk pola pikir anak bangsa dengan cara yang salah. Bisa jadi masalah seperti ini diabaikan karena dirasa kurang penting. Tapi, inilah realitanya.

Karena tidak banyak yang peduli akan masalah ini, banyak anak-anak bangsa yang telah menjadi korban dari pencucian otak, sehingga mereka menelantarkan moral dan mementingkan kesenangan saja. Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan bahaya yang tengah mengintai anak-anak bangsa lewat program hiburan di televisi. Dengan begitu, degradasi moral bisa diminimalisir dan mental anak-anak bangsa pun ikut terselamatkan. (Anik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *