Tari Baris Cina, Tarian Pengusir Wabah Penyakit

Tari Baris merupakan tari tradisional Bali yang menceritakan kegagahan prajurit Bali ketika berperang. Tarian ini memiliki beragam jenis, salah satunya Tari Baris Cina. Konon tarian ini dipercaya mampu mengusir wabah penyakit.

Jika berbicara tentang Pulau Bali, memang tak akan lepas dari seni. Salah satu seni yang dimiliki oleh Bali adalah seni tarian. Beberapa seni tari Bali telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia tak benda oleh UNESCO  dalam Sidang ke-10 Komite Warisan Budaya Tak Benda di Windhoek, Namibia, pada tahun 2015.  Ragam tari yang ada di Bali cukup banyak, salah satunya adalah Tari Baris. Tari Baris merupakan tarian yang biasanya dibawakan oleh kaum laki-laki. Tari yang memiliki gerakan dinamis ini menceritakan kegagahan para prajurit Bali ketika berada di medan perang pada masa lampau. Berdasarkan catatan sejarah Kidung Sunda tahun 1955, Tari Baris muncul pertama kali pada saat pelaksanaan ritual keagamaan sekitar pertengahan abad ke-16. Kata “Baris” yang menjadi nama dari tarian ini dapat dimaknai sebagai pasukan atau prajurit. Pasukan atau prajurit identik dengan baris berbaris yang menyebabkan tarian ini juga disebut sebagai “barisan pasukan”. Barisan pasukan yang dimaksud adalah ketika para kesatria Bali sedang menghadapi peperangan, sehingga Tari Baris pun dijuluki sebagai cermin kegagahan para prajurit Bali pada saat berperang.

Ternyata Tari Baris tak hanya dipentaskan sebagai suatu cerita dari kegagahan para Prajurit Bali. Ada jenis Tari Baris yang memiliki cerita mistis dibaliknya. Tari Baris tersebut bernama Tari Baris Cina. Sesuai dengan namanya, tarian ini merupakan akulturasi kebudayaan Cina di Pulau Bali. Pakaian atau kostum yang digunakan oleh para penari Tari Baris Cina yaitu hitam dan putih yang melambangkan dua kutub berbeda di alam semesta (rwa bhinneda). Tarian diiringi oleh seperangkat instrumen musik yang dinamakan Gong Beri. Dua jenis instrumen pada Gong Beri yang bernama Gong Ber dan Gong Bor menghasilkan suara yang tidak merdu, namun uniknya, ketika dipadukan dengan instrumen lainnya, musik atau suara yang dihasilkan menjadi khas suasana peperangan.

Tari Baris Cina dipercaya atau diyakini sebagai penolak bala oleh masyarakat di Banjar Semawang, Desa Sanur, Denpasar. Hal ini menjadikan Tari Baris Cina sebagai tari yang sakral dan hanya akan ditampilkan ketika upacara keagamaan tertentu, atau atas permintaan masyarakat sekitar ketika membayar kaul atau sesangi (janji).  Pada saat Purnamaning Kalima (bulan penuh), Tari Baris Cina akan rutin ditampilkan karena pada hari tersebut berlangsung upacara piodalan di Pura Giri Kusuma yang terletak di Pedungan, Denpasar Selatan. Kepercayaan masyarakat sekitar mengenai sesuatu yang bersifat niskala pun menjadi alasan pertunjukan Tari Baris Cina ini diadakan. Misalnya ketika ada masyarakat yang sedang terkena wabah penyakit, maka tarian ini ditampilkan sebab dipercaya dapat menghilangkan penyakit tersebut.

Kepercayaan tersebut berasal dari cerita sejarah yang pernah terjadi di Bali. Mengutip dari laman online nasionalisme.co, Ida Ratu Tuhan I Wayan Rentha selaku Kelian Pemaksan Pura Giri Kusuma mengatakan bahwa ada cerita turun-temurun mengenai wabah penyakit besar-besaran yang pernah terjadi di daerah Banjar Semawang. Peristiwa ini dikenal pula dengan istilah grubug. Penyakit tersebut tak kunjung hilang meski berbagai upaya telah dilakukan. Hingga suatu ketika, ada penglingsir (orang tua) bernama Anak Agung Lingsir mendapatkan wahyu yang mengisyaratkan bahwa wabah tersebut dapat hilang dengan menampilkan Tari Baris Cina. “Pada kenyataannya memang benar, sejak ditampilkannya tarian ini, grubug tersebut hilang,” tandasnya.

Akan tetapi keberadaan atau kemunculan Tari Baris Cina memiliki versi yang berbeda. Tidak ditemukannya prasasti yang mencantumkan sejarah Baris Cina mempersulit penentuan tahun pasti dari kemunculan tarian ini. Pemangku Pemaksan Pura Ida Ratu Tuhan, Mangku Rica mengaku tidak mengetahui sejarah lahirnya tari Baris Cina di Semawang. “Saya napet (temukan) sudah ada tari Baris Cina, yang banyak tahu adalah Wayan Rentha, karena penglingsir-nya banyak yang tahu,” tuturnya. Tetapi ketika ditanyakan kepada Wayan Rentha, ia pun turut mengatakan hal senada. “Tiang (saya) hanya mengetahui berdasarkan cerita secara turun-temurun,” paparnya.  Sedangkan menurut buku Evolusi Tari Bali, pakar Etnonusikologi dan Pengamat Tari Bali Profesor I Made Bandem memperkirakan tari Baris Cina muncul sekitar tahun 835, saat Prasasti Blanjong dituliskan. Namun hingga hari ini, tahun kemunculan Tari Baris Cina masih belum dapat dipastikan. (Setiawati/Kristika/Juniantari/Akademika)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *