Tentang Mimpi

Dahiku mengerut tak paham. Semalam, aku tengah mendapatkan luka tusuk di bagian mataku. Bahkan, keluargaku terpecah. Aku melihat darah bertebaran. Saat aku tersadar pagi ini, aku tengah bersama ibuku yang juga menderita luka sayat, bahkan lebih parah dari luka tusuk milikku. Jadi, kami pun memutuskan untuk meninggalkan tempat terkutuk ini—rumah.

Sebelum pergi, kami memutuskan untuk mencari pakaian hangat. Tanpa kuduga, ayahku terbangun. Aku terkejut, ibuku pun terlonjak kaget. Tetapi anehnya, ayah tidak terlihat sekejam malam itu. Malam di mana ayah berhasil untuk memukul, menusuk, dan melukai kami tanpa ampun. Seakan ayah haus darah. Namun saat ini, wajahnya tidak seperti itu. Layaknya seorang ayah pada umumnya, kini, ia hanya menampilkan surai rambut hitam yang perlahan pudar keputihan dihiasi sorot kedua mata sayup seperti kelelahan sehabis bekerja lembur. Semacam, hanya sekadar terbangun dari tidur dan seolah-olah tidak ada kejadian semalam.

Aku terburu-buru memakai hoodie yang aku ambil. Aku menggeleng kuat melihat kondisi ayah yang jauh berbeda itu. Mengapa sangat berbeda? Padahal, aku jelas ingat bahwa mata kananku ini ditancapkan sesuatu olehnya. Setelah menusuk mataku semalam, aku juga ingat bahwa aku berlari terbopong-bopong dengan menyeimbangkan benda ini dalam tubuhku. Itu karena aku takut. Takut ketika aku bergerak, maka benda panjang ini akan mencucuk bola mataku lebih dalam. Seusai memakai hoodie dan mengabaikan ayah yang sedang mengusap wajahnya, aku melirik pada ibuku. Namun, aku kembali dibuat terkejut. Sebab, ketika melihat ibu, tubuhnya tampak jauh berbeda dari sebelumnya. Darah di wajahnya yang teriris beberapa menit lalu kini lenyap atau bersih tanpa bekas.

Sangat jelas di ingatanku bahwa kami saling menyadari tentang keberadaan satu sama lain di malam menuju fajar itu. Tidak hanya itu, kami juga bersama-sama berusaha meminta pertolongan kepada ‘Ike’ di depan rumah. Kala itu, ia sedang asik mencuci motor milik abangku. Nanar harapan kami saat ibuku menggedor-gedor bilik jendela meminta pertolongan pada ‘Ike’.

“Bang bang wo, Bú yào gàosu ta.

Méi shénme, Ni kàn qilai hen lèi Zoule !”

Aku melihat dengan jelas bahwa ‘Ike’ menengok ke arah ibuku. Itu berarti, dia menyadari panggilan kami saat itu. Namun,’Ike’ tidak terkejut pada darah di tubuh ibuku. Darah yang aku yakini sangat tampak jelas terlihat keberadaannya di area wajah ibuku. Meskipun tertutup sebagian oleh tirai jendela—seakan mencoba menyembunyikan luka sayat di wajahnya.

‘Ike’ tidak memahami kalimat permintaan tolong ibuku atau dia sengaja mengabaikan kami? Aku juga tidak paham. Sungguh! Hal ini membuatku frustasi. Bagaimana tidak? Waktu terus berjalan, ketakutanku terhadap amarah ayah semalam yang tampak seperti kerasukan itu masih berputar-putar dalam otakku. Menampilkan adegan demi adegan ketika aku berusaha menghindari ayah yang berakhir dengan adanya benda panjang itu di genggamannya, dan tanpa aba-aba menghunuskan stiletto itu, tepat ke arah mataku. Hanya panas dan aliran darah tanpa henti yang kurasakan semalam. Tetapi saat ini, tubuhku melemas menyadari perubahan-perubahan itu. Perlahan-lahan, tidak ada kesakitan, tidak ada kengiluan atau rasa perih dari tusukan stiletto semalam. Aku terbengong-bengong. Ada apa ini? Tak lama, Ibu menyadarkanku dari lamunan singkat tentang malam itu. Ayah bangkit dari posisi tidurnya–

Bagaimana ini? Aku takut!

Ayah membuka mulutnya, kemudian berkata dengan nada suara khasnya yang berat, “Akan kemana kalian?” hanya ketakutan dan rasa was-was yang bisa kugambarkan kala memandang ayah. Namun, tubuhku benar-benar tidak merasakan rasa sakit itu lagi.

Mengapa tiba-tiba hilang? Ke mana rasa sakit luar biasa itu?

Aku langsung melihat ke kedua tanganku. Mengapa sangat bersih? Tidak tampak ada sisa-sisa darah yang mengering akibat cucuran air mata bercampur darah di tanganku ini. Seakan menjawab pertanyaanku, kulihat sebuah cermin panjang di samping. Aku berkaca melihat pantulan tubuhku yang ternyata tidak memiliki bekas luka. Hanya menampakkan wajah kurusku yang lusuh dalam balutan mimik ketakutan.

Merasa keadaan sangat aneh, aku langsung berlari menuju ke lantai bawah. Aku bersembunyi di ruang tengah dengan detak jantung yang bertambah kencang. Setelah mencoba memastikan diri dalam keadaan yang agak membaik, perlahan aku ke luar dari ruangan itu.  Untuk ke sekian kalinya, aku dibuat terkejut. Baru saja aku hendak memberanikan diri untuk membawa ibu kabur setelah menenangkan diri, aku malah melihat perempuan yang kusayangi itu sedang menyiapkan makanan di dapur. Tidak sendirian, ibuku ditemani oleh abangku. Mengapa keluargaku lagi-lagi tampak normal? Ke mana perginya bukti-bukti kejadian semalam? Tambah ganjil karena walau merasakan dengan jelas keanehan ini, aku malah tidak ketakutan lagi.

Kudekati posisi ibu, saat aku menengok lebih dekat, ibu tengah menyajikan makanan ‘aneh’ dengan daging mentah tuna yang masih tampak segar darahnya. Tanpa menunggu aba-aba, daging yang tengah kutatap ini sudah dilahap cepat oleh abangku. Aku tertegun. Pasalnya, sebelumnya, abangku tidak suka seafood.

Kulihat ke belakang, ayah sedang mendekati keberadaan kami. Aku terdiam tak berkutik. Setelah sampai, ayah dengan senyum hangat mengambil sumpit dan menaruh lauk itu  ke sendok yang ada di dekatku, kemudian menyuruhku memakannya. Walau ragu, aku pun memberanikan diri untuk mengambil potongan daging tuna mentah pemberiannya dan melahapnya. Ternyata, rasanya sangat lezat.

Darah ini—kenapa ikan ‘tuna’ memiliki darah sebanyak ini? Apakah orang-orang memakan tuna mentah dengan darah sebanyak ini?

Benar-benar ada yang tidak beres dengan situasi kali ini. Bahkan, ‘Ike’ ada di dalam ruangan ini. Ia mengambil sesuatu di dalam kulkas. Aku jadi teringat akan ucapan ibu kepadanya semalam saat kami mencoba untuk meminta pertolongan—setahuku itu cara meminta tolong. Langsung saja aku mencoba untuk mengetiknya pada layar smartphone milikku. Bang bang wo, Bú yào gàosu ta. Méi shénme, Ni kàn qilai hen lèi Zoule !

Tanpa menunggu lama, bahasa Mandarin itu sudah berbahasa Indonesia. Dengan arti, ‘Bantu aku jangan katakan padanya. Tidak apa, kau terlihat sangat lelah. Pergilah!’

Hah? Ada apa ini sebenarnya? Bagaimana ‘Ike’ dan Ibu seperti terhubung?

Aku tidak mengerti dengan situasi saat ini, bahkan kejadian malam itu. Pikiranku kalut.

Apa hanya aku yang ingat kejadian tragis semalam?

“Ini kubawa timunnya, okay? Sangat segar dan enak. Ah! Tuna yang disajikan juga sangat segar, darahnya maksudku.” Ujar ‘Ike’ kembali menuju dapur.

Sarapan kembali berlanjut meski ‘Ike’ pergi. Kami, ayahku dan abangku tentunya kembali melanjutkan sarapan dengan hidangan utama tuna segar yang sangat cepat berkurang. Bagaimana tidak cepat habis? Semuanya sangat lahap memakan tuna itu.

Ibu datang membawa hidangan yang dibuatnya saat ia berkutat di dapur. Makanan yang wajib ada, gorengan. Suasana sarapan ini seakan sangat normal. Semacam, tidak ada yang mengenal kejadian berdarah semalam. Hanya tawa yang memenuhi isi ruangan ini. Gelak tawa dari masing-masing anggota keluarga kecuali aku—karena tiba-tiba saja, abangku pandai melontarkan bahan lawakannya. Hal itu membuatku mencoba menerima suasana nyaman ini. Aku berusaha menyimpulkan bahwa kejadian berdarah semalam tidak pernah terjadi. Namun, ketika aku mencoba untuk berbaur dan tertawa bersama mereka—

 

—aku terbangun. Benar-benar terbangun dari tidur dengan mata yang sakit luar biasa. Ke mana perginya mimpi itu? Napasku tersengal-sengal. Aku menginginkan mimpi manis itu lagi!

 

Penulis : Unit_A

Penyunting : Nanik Dwiantari

You May Also Like