Tiap Tahun, Ribuan Hektare Sawah “Musnah”

Kemajuan sektor pariwisata mengikis keberadaan sawah di Bali.
Kemajuan sektor pariwisata mengikis keberadaan sawah di Bali.

 

Pertumbuhan sektor pariwisata Bali kian mengeliat. Setiap tahunnya wisatawan mancanegara mengalir deras. Kondisi tersebut jelas menguntungkan Bali, karena pariwistaa merupakan sektor andalan pendapatan pulau dewata. Namun, seiring dengan pesatnya laju pertumbuhan pariwisata, eksistensi subak sebagai ciri khas Bali ikut terancam. Bahkan, alih fungsi lahan kian tak terbendung lagi.

Seperti yang diungkapkan mantan Kelian Banjar Tengah Desa Selat, Klungkung, I Wayan Sudiarsa. Menurutnya, laju pertumbuahan pariwisata telah memaksa adanya alih fungsi lahan. Celakanya, alih fungsi lahan ini telah merambah sektor pertanian, yang didalamnya terdapat subak. “Alih fungsi lahan mau tak mau ikut mengganggu keberadaan subak. Makin sedikit lahan, makin berkurang juga eksistensi subak,” terangnya.

Lahan sawah yang beralih menjadi bangunan beton kini marak dijumpai. “Tiap tahunnya, Bali kehilangan 10 ribu hektare sawah. Ini sangat mengkhawatirkan, apalagi lahan sawah di Bali jumlahnya tidak seberapa luas,” tutur Sudiarsa. Bapak dua anak ini menambahkan, di Desa Selat saja dalam 10 tahun terakhir, hampir seluruh sawah bagian barat rata “ditanami” beton. Baik itu untuk keperluan restoran, hotel, ataupun permukiman.

Tingginya kebutuhan lahan untuk sektor pariwisata mau tak mau ikut mendongkak harga jual sawah. Kondisi inilah yang menurut Sudiarsa menjadi godaan terbesar bagi petani, hingga memicu maraknya penjualan tanah kepada investor. “Tanah sawah milik orang tua saya saja pernah ditawar investor seharga 200 juta per are. Padahal harga normalnya hanya sekitar 20 jutaan per are” ceritanya.

Alih fungsi lahan dikhawatirkan dapat mengancam keberlangsungan sawah dan subak sebagai lembaga yang menaungi para petani. “Apabila alih fungsi lahan terus diizinkan, sawah akan habis dan yang paling menderita adalah para petani. Inilah yang saya katakan tadi bahwa alih fungsi lahan dapat mengancam kelestarian subak ” ungkap Sudiarsa.

Berbagai dampak negatif dikhawatirkan muncul seiring menyusutnya subak. Menurut Sudiarsa, berkurangnya sawah dapat berimbas pada ketahanan pangan. Selain itu, subak yang selama ini dipandang sebagai salah satu pilar kebudayaan Bali juga terancam hilang. Tidak hanya kepentingan irigasi, subak juga memiliki nilai luhur. Sudiarsa mengatakan, subak dapat mempererat kekeluargaan dan persatuan antar anggota masyarakat. “Subak mengatur irigasi sawah mulai dari mencari sumber air, menjaga dan membaginya secara adil. Subak ini yang mengakibatkan petani di Bali akur. Debit air telah disesuaikan agar setiap petak mendapatkan aliran air yang sesuai dan sama rata,” jelasnya.

Sementara itu, tudingan alih fungsi lahan akibat gencarnya laju pariwisata ditanggapi salah seorang pemilik hotel di Gianyar, Nengah Honda. Menurutnya alih fungsi lahan dibeberapa daerah memang cukup mengganggu subak, namun semua itu sudah melewati berbagai kajian matang. “Kebutuhan akan penginapan di Bali bertambah seiring meningkatnya wisatawan. Persaingan dunia perhotelan juga semakin kuat, lahan strategis sawah lah yang menjadi pilihan kami,” ujarnya.

Pengusaha berpostur tambun ini menambahkan, adanya kearifan lokal Bali juga ikut mempengaruhi alih fungsi lahan. “Sejak awal tahun 1970-an ketinggian bangunan di Bali dibatasi tidak lebih dari 15 meter katanya sih keramat. Selain itu tidak boleh lebih dari 4 lantai dan melebihi tinggi pohon kelapa. Kebijakan ini bahkan masuk dalam Perda RTRW,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat bimbang para pelaku pariwisata. Satu sisi mereka memerlukan lahan untuk keperluan pariwisata, namun disisi lagi subak harus diselamatkan. “Kekhawatiran juga menghantui kami sebagai pelaku pariwisata. Tapi mau bagaimana lagi? Toh ini juga untuk membangun pariwisata yang lebih baik,” ucapnya. (kdy)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *