Tidak Ada Nomor Keluhan Pelanggan Pada Rokok,Kenapa?

Pelan tetapi pasti. Begitulah rokok membunuh pecandunya. Hampir semua produsen rokok tak mencantumkan nomor keluhan konsumen. Lantas ketika akan mengeluh karena efek samping yang ditimbulkannya, konsumen akan disalahkan.

Merokok adalah pilihan individu. Begitulah kira-kira kalimat yang akan diterima pecandu rokok yang sudah terserang efek samping merokok. Saat ini baik perokok aktif maupun pasif mempunyai resiko yang sama terhadap efek yang ditibulkan rokok.

Menurut dr.Pankaj Chaturvedi, MBBS, MS, FAIS, FICS dari Voice of Tobacco Victims (VOV) India, rokok adalah satu-satunya produk yang beredar di Indonesia yang tidak mencantumkan nomor layanan pelanggan dalam produknya. Celakanya kini hampir 63% pria dan 8% wanita di Indonesia adalah perokok aktif.

Ternyata bahaya nikotin dari rokok tak hanya dirasakan penikmatnya. Petani tembakau pun tak luput dari efek beracun senyawa nikotin. Setiap harinya petani tembakau mengalami paparan racun nikotin secara langsung dari tanaman tembakau yang basah karena hujan ataupun embun. Keracunan nikotin ini disebabkan oleh terserapnya nikotin dari pemukaan daun tembakau yang basah melalui permukaan kulit.

Selama ini perusahan rokok selalu mengatasnamakan nasib petani tembakau dibalik penyanggahan larangan merokok. Di India undang-undang regulasi tembakau telah berhasil dijalankan sejak disahkan pada tahun 2003 lalu. Undang-undang ini melarang perokok untuk merokok di tempat umum, melarang penayangan iklan rokok di media massa, melarang penjualan rokok di sekitar sekolah, juga melarang menjual rokok untuk anak berusia di bawah 18 tahun.

Petani tembakau di India pun sempat memberi perlawanan terhadap berlakunya undang-undang ini. Namun pada kenyataannya pemerintah berhasil mengganti rugi penghasilan mereka  dengan memberikan alternatif tanaman pengganti selain tembakau seperti gandum dan jagung.

Seharusnya petani di Indonesia juga mudah untuk diajak beralih menanam tanaman lain misalnya ketela atau padi. Konon Indonesia adalah negeri agraris, dengan demikian logikanya Indonesia tidak mungkin mengipor beras dari luar. “Seharusnya kita tidak perlu impor beras, isi perut sendiri kok kita gantungkan ke tetangga. Negara ini sebenarnya mampu swasembada beras hanya kurang kesadaran dan keyakinan dari pemerintah akan potensi yang kita miliki.”ujar Prof.Dr.Ir Dewa Ngurah Suprapta M.Sc, Guru besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana.

Apa yang membuat para petani di India awalnya bersikeras untuk menanam tembakau adalah karena perusahaan rokok sudah lebih dulu membayar tembakau sesuai areal tanah yang ditanami, berbeda dengan tanaman lain yang baru mendapat keuntungan setelah panen. Tanaman tembakau sama sekali tidak memiliki manfaat kesehatan, kecuali untuk insektisida. Bahkan kumbang dan serangga pun enggan mendekati tanaman tembakau.

HENNY