Tradisi Mahasiswa Bidikmisi Curhat Perihal Ngaret di Sosial Media

Lagi, keluhan dari mahasiswa penerima Bidikmisi Universitas Udayana tersebar di sosial media pada pertengahan bulan Maret 2017 lalu. Banyak mahasiswa menilai dana senilai Rp. 1.950.000 yang baru cair ke Universitas Udayana pada tanggal 17 Maret 2017 itu terlambat dari jadwal. Sosial media pun dipilih sebagai jalan pintas untuk mengeluarkan unek-unek.

Penggunaan media sosial sebagai tempat curhat kembali terjadi di lingkungan mahasiswa penerima Bidikmisi Universitas Udayana. Meski Rektorat Universitas Udayana pernah berpesan kepada mahasiswa untuk meminimalisir aksi tersebut, tapi bagaikan tradisi, curhatan-curhatan masih sering dijumpai di sosial media seperti Facebook, LINE, dan lainnya. Bidikmisi merupakan tanggungan biaya pendidikan dan kebutuhan hidup dari DIKTI kepada mahasiswa miskin dan berprestasi yang dicairkan secara periodik. Adapun keluhan mahasiswa yakni terkait “ngaretnya” proses pencairan dana bantuan kebutuhan hidup untuk periode Januari—Maret 2017. Dana senilai Rp. 1.950.000 tersebut baru cair ke Universitas Udayana pada tanggal 17 Maret 2017, yang menurut banyak mahasiswa tergolong terlambat dari jadwal.

“Menurut saya sangat ngaret banget. Karena setahu saya, Bidikmisi cairnya di awal bulan. Bisa kita liat kemarin cairnya sangat lambat hingga mencapai 2 minggu lebih untuk menunggu,” aku Aziz Fathani (19), mahasiswa Fakultas Peternakan sekaligus penerima Bidikmisi angkatan 2016. Hal senada juga dikatakan oleh Riza Surya Mahendra (19), mahasiswa Fakultas Teknik. Ia yang tergabung dalam Forum Bidikmisi Nusantara di Facebook mengatakan beberapa universitas dan politeknik negeri sudah ada yang mendapat pencairan dana sebelum UNUD.

Meski setuju bahwa pencairan Bidikmisi tergolong ngaret, akan tetapi sebagian mahasiswa tetap memandang tindakan curhat di sosial media sebagai hal yang tidak perlu untuk dilakukan. Akan tetapi tetap bukan berarti tidak ada yang setuju. Bagaikan pro dan kontra, Hernanda Kartika (19), mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP sekaligus salah seorang yang menyetujui tindakan curhat di sosial media. “Kalau dibilang setuju atau nggak, aku setuju-setuju saja asalkan mereka bisa mempertanggungjawabkan postingan mereka dan nggak asal saja. Karena, kalau memang dirasa melalui verbal atau non-verbal sudah tidak efektif, media sosial menjadi jalan satu-satunya. Media sosial itu punya pengaruh yang dahsyat.”

Ketua UKM Generasi Bidikmisi Udayana periode 2016/2017, I Agus Bayu Sentana (21) mepaparkan definisi dari ngaret adalah apabila pencairan dana dilakukan diluar rentang waktu yang telah dijadwalkan oleh DIKTI. Menurutnya juga, pencairan dana pada 17 Maret lalu tidak terlambat, sebab masih berada didalam kurun waktu 3 bulan sesuai ketetapan.

“Proses pencairan dana langsung dari DIKTI ke rekening mahasiswa. Jadi kalau terjadi keterlambatan, maka masalahnya hanya ada di DIKTI. Rektorat tidak ada ikut campur tangan sama sekali,” ujar mahasiswa semester 6 Fakultas Kedokteran Hewan ini. Sebagai salah satu mahasiswa senior penerima Bidikmisi, Bayu mengaku pencairan dana beasiswa ini memang tidak terjadwal pasti dengan tanggal, hanya berupa rentang waktu setiap 3 bulan. Tambahnya juga, karena ketiadaan jadwal penanggalan pasti untuk pencairan, wajar apabila prasangka-prasangka terlambat seperti ini muncul. Kenyataannya pula, kejadian ini memang sering terjadi. Dia tidak menyalahkan sebab menurutnya mahasiswa terkadang bernafsu untuk mendapatkan uang, menjadikan mereka tidak sabaran menunggu.

Meski Rektorat Universitas Udayana tidak ada campur tangan dengan masalah pencairan, nyatanya pernah sekali terjadi mahasiswa protes di sosial media hingga Wakil Rektor III turun melakukan audiensi. “Kejadiannya sudah lama. Sebenarnya pencairannya tidak telat, hanya benar-benar di penghujung akhir dari rentang waktu pencairan. Waktu itu mahasiswa banyak yang ribut di sosial media, mengatakan bahwa uangnya dideposito oleh BAK Rektorat. Ada juga yang sampai melapor ke badan pengawas kinerja pengawai. Lalu Rektorat mengambil tindakan, Wakil Rektor III turun melakukan audiensi ke mahasiswa,” jelasnya.

Mahasiswa asal Kabupaten Badung itu juga menambahkan dirinya berharap jangan sampai hal tersebut terulang lagi. Menanggapi perihal munculnya lagi statusstatus curhatan mahasiswa di sosial media, dirinya berpesan kepada mahasiswa untuk lebih baik tetap sabar menunggu dan mengurangi kebiasaan ribut-ribut di sosial media yang sifatnya negatif. Alasannya tak lain karena tindakan tersebut dapat mempengaruhi nama Universitas Udayana.(krt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *