Tradisi Pawai Ogoh-Ogoh

Salah satu tradisi unik dan populer yang ada di Bali adalah pawai ogoh-ogoh.

Ogoh- ogoh didefinisikan sebagai karya seni para seniman perupa yang memakai bahan dasar bambu dan kayu, berbentuk patung besar dan rupanya bisa mengambil tema peran antagonis, pewayangan dan dari cerita tantri maupun simbul-simbul seperti binatang. Ogoh-ogoh merupakan sarana dalam rangkaian perayaan tahun baru Saka, tepatnya satu hari sebelum hari raya Nyepi atau yang disebut hari pengerupukan. Ngerupuk adalah ritual berkeliling pemukiman sambil membuat bunyi-bunyian disertai  penebaran nasi tawur dan menyebarkan asap dupa atau obor secara beramai ramai. Ritual Ngerupuk dilakukan bersamaan dengan arak-arakan ogoh-ogoh.

Secara umum ogoh-ogoh adalah perwujudan bhuta kala atau kekuatan negatif yang diwujudkan dengan rupa raksasa (setan) yang menyeramkan.Pada hari pengerupukan hampir seluruh daerah di Bali menggelar pawai ogoh-ogoh. Pelaksanaan pawai ogoh-ogoh ini biasanya dilaksanakan pada petang hari (sandhi kala) sampai larut malam menjelang hari Nyepi. Tujuannya untuk menetralisir pengaruh-pengaruh negatif butha kala sehingga mereka tidak mengganggu kehidupan umat manusia dan berubah menjadi dewa yang menciptakan kebahagiaan bagi umat manusia.

Berbeda dengan dulu, kini dalam prakteknya ogoh-ogoh tidak hanya berwujud butha kala (setan). Banyak Ogoh-ogoh yang dibuat menyerupai tokoh kartun, dewa-dewa,  politikus, penyanyi, atau tokoh yang sedang naik daun. Tidak hanya wujudnya saja yang berubah tetapi alunan musik yang mengirinya pun juga berbeda. Ogoh-ogoh yang dahulunya hanya diiringi oleh musik gamelan, kini banyak yang diiringi dengan musik pop atau lainnya. Selain bentuk dan musik pengiring, bahan pembuat ogoh-ogoh juga mengalami perkembangan dengan menggunakan styrofoam sebagai bahan dasar membuat ogoh-ogoh. Tekstur bahan yang halus dan mudah dibentuk, membuat banyak seniman lebih memilih menggunakan styrofoam ketimbang kerangka dari kayu atau bambu.  Hal ini yang membuat bentuk ogoh-ogoh semakin beraneka ragam dari tahun-tahun sebelumnya.(mer)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *