Udara Bersih ditengah Kepulan Asap

Setiap hal pasti memiliki dua sisi yang berbeda layaknya sisi uang logam,sisi baik dan buruk. Begitu juga dengan Car Free Day.

Kegiatan yang tengah digalakan oleh kota Denpasar ini diadakan di wilayah Renon,  dengan tujuan mengurangi pemanasan global yang terjadi saat ini. Tentu saja itu berimbas positif bagi masyarakat, apalagi yang suka berolahraga dan juga yang tinggal di sekitaran Renon. Banyak yang beranggapan bahwa Car Free Day berdampak baik. Akan tetapi, apakah benar Car Free Day selalu berdampak baik, terutama bagi kesehatan?

“ Karena ada Car Free Day semakin tinggi intensitas orang untuk berolahraga. Tetangga juga tidak ada yang terganggu, malah udara terasa lebih segar dan tidak bising”, ungkap I Gusti Agung Socrates Adi Guna, salah satu mahasiswa Tekhnik Informatika Universitas Udayana yang tinggal di wilayah Renon. Dia adalah salah satu masyarakat yang merasa senang akan adanya Car Free Day. Tentu saja udara terasa segar dan tidak lagi terdengar suara bising karena semenjak adanya Car Free Day, jalan utama yang biasa dilewati di sekitaran Renon menjadi ditutup. Oleh karena itu, setiap orang dengan leluasa berolahraga tanpa harus ada rasa takut untuk tertabrak kendaraan.

“Saya naik sepeda ke sini karena dekat dengan rumah” jawab Indira, salah satu masyarakat yang menikmati Car Free Day. Semenjak ada kegiatan ini, banyak masyarakat yang datang dengan langsung menggunakan sepeda, meskipun ada juga yang menggunakan kendaraan bermotor. Setelah sampai di Renon mereka harus memarkirkan kendaraannya di tempat yang telah ditentukan.

Akan tetapi, lain halnya yang dirasakan oleh masyarakat yang wilayah tempat tinggalnya dijadikan jalan alternatif. “Jalanan menjadi berdebu dan macet. Banyak juga yang terjatuh karena kurang hati – hati di jalanan yang baru selesai diaspal”, keluh Dewi, salah satu warga yang tempat tinggalnya dijadikan jalan alternatif. Semenjak adanya Car Free Day jalan – jalan uatama disekitaran lapangan Renon menjadi ditutup dan dialihkan ke jalan – jalan lain yang ada di sekitar jalan utama. Mereka yang daerah tempat tinggalnya dijadikan jalan alternatif merasakan dampak negatif dari adanya Car Free Day. Jalanan menjadi berdebu dan macet karena penutupan jalan yang terjadi di Renon.

Banyak kendaraan bermotor yang melintasi jalan alternatif itu sehingga masyarakat yang tinggal disekitaran itu pun menjadi malas untuk keluar rumah. Memang pemerintah mengatasi masalah tersebut dengan cara mengaspal jalan yang dijadikan jalan alternatif. Akan tetapi, masalah tersebut akan terus terjadi karena jalan yang dijadikan jalan alternatif lebih kecil dibandingkan dengan jalan yang biasa dilewati. Hal inilah yang dirasakan oleh masyarakat yang tinggal disekitaran jalan yang dijadikan jalan alternatif. Ditengah kegembiraan masyarakat yang tengah menikmati fasilitas Car Free Day, masih ada masyarakat lain yang merasa dirugikan. “Memang pernah ada yang kontra dengan pengalihan jalan ini, tapi akhirnya luntur dengan adanya sosialisasi” jelas Made Erwin Suryadarma Sena, S.E, M.Si, Kabag Humas dan Protokol Walikota Denpasar.

Tujuan pemerintah mengadakan kegiatan ini memang baik, yaitu untuk mengurangi dampak dari pemanasan global khususnya polusi udara. Akan tetapi, mereka lupa dengan masyarakat yang tempat tinggalnya dijadikan jalan alternatif. Daerah disekitaran Renon yang dijadikan kawasan Car Free Day mungkin memang akan menjadi bersih dari udara kotor yang disebabkan oleh kendaraan bermotor. Lain halnya yang terjadi disekitaran jalan alternatif. Jalan yang biasanya jarang dilewati, sekarang malah menjadi padat karena semakin sering dilewati oleh para pengendara. Hal itu menyebabkan tujuan dari diadakannya Car Free Day kurang terasa karena udara kotor yang ingin ditiadakan bukannya hilang melainkan berpindah saja.

Seperti yang diutarakan salah satu pengguna fasilitas Car Free Day, Indrawati Morriz, mahasiswa Politekhnik, bahwa tidak ada bedanya sebelum dan sesudah adanya Car Free Day. Dia tetap saja menggunakan sepeda motornya untuk pergi berolahraga ke Renon. Hal tersebut membuktikan bahwa pemerintah kurang tegas dalam penanganan untuk khususnya mengurangi polusi udara. Dengan memperbolehkannya masyarakat menggunakan kendaraan bermotor ke Renon, maka sama saja penyelenggaraan Car Free Day ini kurang efektif.

Mungkin dengan pemikiran yang matang mengenai penutupan jalan tersebut akan lebih baik untuk pelaksanaannya. Untuk saat ini mugkin hal tersebut dianggap sepele, tetapi semakin lama hal tersebut akan menimbulkan masalah. Di saat orang – orang tengah asyik menikmati dan menghirup udara segar di Renon yang dijadikan kawasan Car Free Day, ada orang lain yang menghirup udara dan asap kotor dari kendaraan – kendaraan karena wilayah mereka telah dijadikan jalan alternatif.

Tujuan Car Free Day adalah mengurangi dampak pemanasan global, tetapi dengan pengalihan jalan ini malah nantinya akan mengganggu kesehatan masyarakat. Sebenarnya, apabila sudah direncanakan dengan baik pastilah hal tersebut tidak akan terjadi. Dengan adanya hal ini seakan – akan pemerintah kurang serius untuk mengurangi pemanasan global yang digalakan melalui Car Free Day. Apalagi adanya rencana kalau akan diadakan kegiatan semacam ini di Gianyar. Kalau saja kegiatan semacam ini dilaksanakan tanpa adanya pertimbangan maka akan sama saja, akan terasa kurang maksimal dalam pelaksanaannya. Sebenarnya apakah pemerintah kota Denpasar khususnya, memang peduli akan kesehatan? Ataukah hanya ikut – ikutan saja seperti kota besar yang lain agar mendapat prestise yang lebih layak?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *