UKM Masih Penuh Rintangan, DPM dan Rektorat Ciptakan Strategi

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Udayana merupakan sebuah wadah bagi mahasiswa untuk menyalurkan minat dan bakatnya. UKM bergerak di luar kegiatan akademis untuk mendukung mahasiswa dalam mengembangkan soft skill. Penyaluran minat dan bakat mahasiswa dimulai dari kegiatan-kegiatan yang terorganisir secara sistematis dengan berlandaskan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu unggul, mandiri, dan berbudaya.

UKM sendiri berada dibawah naungan Dewan Perwakilan Mahasiswa-Pemerintahan Mahasiswa (DPM-PM) Universitas Udayana yang berperan dalam menampung, menyalurkan dan mengawal aspirasi civitas akademika. Saat ini, menurut ketua DPM-PM Universitas Udayana, Gede Oki Budisaputra, terdapat 33 UKM yang terdaftar namun yang masih aktif yaitu hanya terdapat 28 UKM. DPM sering menerima keluhan dari setiap UKM. Biasanya keluhan tersebut mengenai masalah pendanaan ataupun keanggotaan. Keanggotaan yang sedikit dan pendanaan yang tidak cukup merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari eksistensi UKM itu sendiri.  Hampir di setiap UKM memiliki kendala dalam pendanaan. Hal tersebut menjadi akar dari hambatan-hambatan yang terjadi di unit kreativitas ini.

“Yang selalu menjadi permasalahan yaitu soal dana, dan ini membuat penyaluran minat dan bakat masih sedikit,” tutur ketua DPM-PM Universitas Udayana, Gede Oki Budisaputra.

Pendanaan untuk kegiatan UKM seperti untuk menyelenggarakan perlombaan, dalam penyalurannya memiliki proses yang cukup panjang. Dana yang seharusnya sudah ada di awal sebelum melakukan kegiatan, biasanya baru diberikan setelah UKM tersebut melaksaanakan kegiataannya. Karena itu, banyak dari mahasiswa mencari dana dengan cara penggalian dana ataupun sumbangan dari pihak ketiga yang berupa sponsor.  Pendananaan yang terhambat juga mengakibatkan proses dari perkembangan kreativitas mahasiswa menjadi terhambat. Hal tersebut berbanding terbalik dengan tujuan yang diharapkan oleh pihak rektorat maupun unit kegiatan itu sendiri. Baik dari pihak rektorat yang mengharapkan sebuah prestasi dan mahasiswa yang ingin menyalurkan minat dan bakatnya.

Hal yang tidak kalah pentingnya yaitu mengenai keanggotaan. Anggota merupakan suatu unsur utama dalam sebuah organisasi. Keanggotaan menjadi sumber dari berjalan atau tidaknya sebuah UKM. Contohnya pada UKM Udayana Science Club (USC) yang berfokus dalam bidang penalaran, memiliki kendala dalam keanggotaan yang menyebabkan aktivitas dalam USC tidak berjalan dengan baik serta tidak memiliki agenda kegiatan. Namun kembali dari tujuan utama UKM yaitu menyalurkan minat dan bakat mahasiswa. Maka dalam hal tersebut dari pihak rektorat sendiri pun tidak dapat memaksa atas keikut sertaan ataupun partisipasi dari mahasiswa. “Kita tidak bisa menekan mahasiswa untuk ikut berbagai kegiatan dalam UKM, karena sesuai namanya minat dan bakat, terkadang ada suatu UKM yang sedikit ada peminatnya,” ujar Wakil Rektor III bidang kemahasiswaan, Dr. I Nyoman Suyatna, S.H., M.H.

Selain dari kurang adanya minat, faktor lokasi juga menjadi alasan yang sering diungkapkan mahasiswa. Terlebih tidak dipusatkannya UKM pada universitas dan hampir di setiap fakultas memiliki UKM-nya sendiri. Keberadaan UKM di tingkat fakultas memiliki fungsi yang hampir sama dengan UKM yang berada di tingkat universitas, yaitu sebagai wadah untuk kreativitas mahasiswa yang berdasarkan pada bidangnya masing-masing. UKM di tingkat fakultas juga dikatakan dapat menunjang eksistensi dari fakultas itu sendiri. naik di luar fakultas maupun di lingkungan fakultas sendiri. Banyak pula dari fakultas-fakultas yang lebih memberikan apresiasi kepada kegiatan fakultasnya ketimbang kegiatan di Universitas. Seperti misalnya memberikan poin lebih pada Sistem Kredit Partisipasi (SKP) di kegiatan-kegiatan lingkungan fakultasnya lebih banyak dibanding SKP pada kegiatan di tingkat universitas. Oleh sebab itu, ada beberapa dari mahasiswa yang lebih memilih aktif dalam kegiatan di fakultas saja, untuk mencapai poin SKP yang sudah ditentukan di setiap fakultas. Seperti halnya yang diterapkan oleh Fakultas Teknik serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang memberikan poin lebih untuk SKP pada kegiatan-kegiatan di bidang tertentu lebih banyak pada tingkat fakultasnya ketimbang di tingkat universitas.

Melihat hal tersebut, untuk meningkatkan partisipasi dan eksistensi dari UKM itu sendiri. DPM-PM berserta pihak rektorat pun membuat suatu program kerja. Dimulai dari pihak rektorat yang akan memberikan penghargaan kepada setiap UKM yang telah menyumbangkan prestasi kepada universitas. Adanya pengklasifikasian dana, yaitu semakin banyaknya prestasi maka sistem pendanaan pun akan mengalami peningkatan. Cara ini diharapkan dapat memberikan suatu motivasi bagi setiap UKM untuk membuat suatu prestasi. Dari pihak DPM-PM sendiri, dalam melakukan suatu pengawasan kepada setiap UKM pun memiliki suatu program kerja. Program kerja tersebut yaitu akan membuat suatu pengklasifikasian UKM dengan menempatkan setiap unit berdasarkan jenis yang sama.

“Jadi setiap UKM diplotkan, misalnya UKM di bidang seni ada UKM kesenian, ada UKM teater. lalu bela diri ada Merpati Putih. Ini untuk mempermudah koordinasi, soalnya terkadang ketua UKM tidak terlalu aktif. Jadi jika salah satu dari UKM tidak bisa hadir maka cukup pimpinan dari kesenian saja yang hadir,” ucap Ketua DPM-PM Universitas Udayana, Gede Oki Budisaputra.

Dilihat dari manfaatnya, UKM itu sendiri memiliki berbagai manfaat bagi mahasiswa. Tidak hanya saat mengikuti unit tersebut melainkan juga setelah pasca selesai nantinya. Adanya pengalaman, pembelajaran, dan bekal untuk kedepannya yang tidak bisa didapat melalui pendidikan secara formal. Dan hal tersebut dapat dipenuhi dengan mengikuti UKM yang sesuai dengan minat dan bakat, melalui pengembangan soft skill mahasiswa. Seperti halnya UKM Wushu yang merupakan pencetus terbentuknya Wushu di Bali. Manfaat dari mengikuti UKM sangatlah banyak, selain menambah pengalaman dan teman. UKM juga dapat menjadi tempat untuk melepas kejenuhan setelah aktivitas di kampus.

“Saya sendiri merasakan habis ikut UKM selain lebih rajin olahraga, bisa sambil refreshing jadi lebih sehat, dan ada teman-teman baru, terus linknya makin banyak,” tutur ketua UKM Wushu Universitas Udayana, Kadek Budiartawan.

Adanya UKM diharapkan tidak hanya untuk menghasilkan sebuah prestasi namun juga dapat mengembangkan minat dan bakat dari mahasiswa. Partisipasi dari mahasiswa sangatlah dibutuhkan. Yang berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dapat bersaing baik di tingkat nasional maupun internasional. Tidak hanya dalam hard skill namun soft skill juga sangatlah penting dan dapat diperoleh pada aktivitas-aktivitas diluar pendidikan secara akademis. Dalam hal tersebut, mahasiswa bisa menggunakan kegiatan-kegiatan di UKM untuk meningkatkan karakter dan soft skill-nya. Namun keaktifan dari mahasiswa saja tidak cukup untuk mengoptimalkan kreativitas mahasiswa. Peran aktif dari rektorat dan lembaga-lembaga yang terkait sangatlah penting, tidak hanya memberikan sebuah legalitas namun juga ikut dalam mengawasi tumbuh kembang dari UKM itu sendiri. Oleh karena itu dukungan dari universitas dan partisipasi dari mahasiswa yang berjalan sinergis adalah bukti dari keberhasilan suatu UKM.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *