Wanita Cantik Konsumsi Publik

Oleh: Kiki Kristika

Editor: Via

Ilustrator: Pradnyanandana

Perempuan mana yang tidak senang dipuji cantik? Tapi, jika yang “memuji” adalah akun media sosial yang secara khusus mengunggah foto-foto cantik dan seksi para perempuan untuk menjadi bahan konsumsi publik, apakah ini masih bisa dihitung sebagai “pujian”?

Perempuan mana yang tidak senang dipuji cantik? Saya yakin bahwa memiliki tubuh seksi, kulit mulus nan bersih, senyum manis dan jago dalam urusan berdandan adalah hal yang diidam-idamkan oleh mayoritas perempuan di dunia. Jika anda yang sedang membaca tulisan ini adalah seorang perempuan, saya kira anda akan sependapat. Namun jika anda adalah laki-laki, pasti pernah terbersit keinginan di benak anda untuk memiliki pasangan yang cantik dan menarik. Tidak usah malu-malu untuk mengakui.

Sepertinya sah-sah saja kalau saya mengatakan bahwa manusia selalu menjatuhkan penilaian pertama terhadap manusia lainnya dari penampilan mereka. Baik laki-laki maupun perempuan sesungguhnya tak ada bedanya. Wanita cantik dan pria tampan otomatis akan lebih banyak memiliki penggemar ketimbang mereka yang berparas biasa atau bahkan, maaf, jelek. (Saya mengerti jika anda ingin menyanggah dengan pernyataan, “Paras bukan segalanya” atau “Percuma cantik/tampan kalau sifatnya buruk”. Namun dalam tulisan ini, saya hanya akan membahas perihal fisik. Saya akan menjelaskan lebih lanjut mengapa.)

Sebelum anda menjatuhkan komentar bahwa tulisan saya sejauh ini sangat picik, atau mengotak-kotakkan kaum “cantik” dan “buruk rupa” dengat amat jelas, saya ingin mengklarifikasi dua hal. Pertama, secara pribadi saya meyakini bahwa semua orang cantik/tampan apa adanya, sesuai dengan fisik serta sifat masing-masing. Kedua, saya membuat tulisan ini justru karena kasihan dengan para perempuan berparas cantik tersebut.

Mungkin sampai di sini anda bertanya, “Kenapa kasihan?”. Tidakkah menjadi cantik adalah impian semua orang, sebuah anugerah yang patut disyukuri? Apa yang perlu dikasihani dari orang cantik?

Seperti yang saya katakan di awal, perempuan mana yang tidak senang dipuji cantik? Tapi, jika yang memuji mereka adalah akun media sosial, yang secara khusus mengunggah foto-foto cantik dan seksi mereka untuk menjadi bahan konsumsi publik, apakah ini masih bisa dihitung sebagai pujian?

Saya mencermati hal ini ketika sedang online di akun Instagram milik pribadi. Secara tidak sengaja saya menemukan akun milik seorang mahasiswi yang cukup terkenal di kampus saya. Seseorang ini tidak akan saya sebut namanya, namun untuk pengetahuan anda saja, dia memiliki paras yang cantik, banyak followers dan sering melakukan paid promote suatu produk bisnis. Tipikal sejenis selebgram (selebritis Instagram), namun level ketenarannya masih di ranah kampus serta kota tempat tinggalnya.

Kemudian dari daftar followers-nya—yang tertera di laman profil akun, setelah kata-kata “diikuti oleh”—saya mendapati nama akun “Unud Cantik” (@unudcantik). Hanya dengan sekali lihat saya langsung bisa menerka akun jenis apa Unud Cantik itu. Sebelum ini, saya pernah melihat akun di Instagram yang khusus “mempromosikan” mahasiswi-mahasiswi atau gadis-gadis cantik. Satu-satunya yang mendorong saya untuk menjelajah lebih jauh karena baru tahu jika ada akun serupa yang secara khusus didedikasikan untuk mahasiswi-mahasiswi cantik di kampus saya.

Penilaian saya terhadap akun tersebut seketika anjlok persis saat membaca bio/deskripsi akun. Di sana tertulis, “Mention/DM teman cantik kamu (nama + fakultas + IG nya). College is more fun when these girls are around.” (terjemahan: Perkuliahan terasa lebih menyenangkan dengan kehadiran cewek-cewek cantik ini). Wah, tidakkah kalimat ini terasa merendahkan harga diri dari mahasiswi cantik?

Coba anda cermati baik-baik. Bisakah anda merasakan bahwa kalimat tersebut mengandung kesan yang menjadikan para mahasiswi cantik sebagai suatu “objek”? “Objek” yang saya maksud di sini adalah “objek cuci mata”, sebagai salah satu “bahan penyemangat” menjalani perkuliahan yang melelahkan. Namun tentu tak menutup kemungkinan untuk, mohon maaf, menjadi “objek fantasi seksual” dari oknum tak bertanggung jawab.

Saat tulisan ini dibuat, akun tersebut telah mengunggah sebanyak 121 kali dan memiliki followers sebanyak 4.275. Meski masih jauh kalah jumlah dengan akun Instagram “UI Cantik” (@ui.cantik) yang memiliki followers sebanyak 256.000 atau “ITB Cantik” (@cantiknyaitb) dengan 13.500 followers. Tetapi sedihnya, akun-akun sejenis ini bertebaran lebih banyak lagi jumlahnya di media sosial, baik yang secara langsung menggunakan nama kampus dari sang pengelola atau yang tidak. Contohnya seperti: @kampuscantik, @cantikdenpasar, @cantikbali_ dan masih banyak lainnya. Untuk seterusnya dalam tulisan ini, saya akan merujuk akun-akun sejenis itu dengan “Akun-Akun Cantik”.

Hal yang saya tidak habis pikir lagi, ternyata untuk kategori ranah Unud saja, Akun-Akun Cantik ini ternyata memiliki peranakan yang cukup banyak: @cantikteknik, @cantikep_unud, @unud.cantik, @fkunudcantikganteng. Belum lagi jika anda mencari di Instagram dengan menggunakan tagar #unudcantik, maka anda akan menemukan kurang lebih 275 kiriman yang mayoritas merupakan foto perempuan dalam beragam pose.

Rata-rata, setiap Akun Instagram Cantik memiliki tata cara yang serupa dalam mendapatkan bahan untuk diunggah sebagai konten. Para admin mendapatkan informasi melalui followers dengan sistem tag, mention atau Direct Message (DM). Seorang pengguna Instagram melihat foto teman atau kenalan mereka di timeline. Kemudian, mungkin didorong oleh rasa iseng atau ingin membantu temannya mendapatkan pujian atas kecantikannya, si pengguna Instagram men-tag dan mention Akun Instagram Cantik pada postingan tersebut. Dengan demikian, sang admin akan mendapatkan satu bahan baru untuk diunggah sebagai konten.

Namun skenario di atas tak hanya satu-satunya cara. Seseorang bisa mengirimkan DM langsung kepada admin Akun Instagram Cantik berisi foto entah milik dirinya sendiri atau orang lain untuk diunggah. Dengan kata lain, admin-admin dari Akun Cantik tidak perlu susah payah dalam mendapatkan bahan.

Semakin banyak pula konten yang dipublikasikan, lantas sebagai timbal baliknya akan lebih banyak lagi orang terpancing untuk ikut berkontribusi memberikan bahan. Mulai dari alasan hanya iseng hingga serius ingin menggunakan kesempatan mempromosikan diri atau teman. Seolah ada kepuasan tersendiri saat melihat foto diri kita diunggah oleh akun dengan ribuan followers dan mendapat ratusan hingga ribuan likes serta komentar dari orang-orang yang memuji kecantikan kita.

Mungkin seiring dengan perkembangan teknologi, cara untuk mendapatkan pujian pun turut berkembang hingga ke ranah dunia maya. Hal ini mulai terlihat sebagai sebuah simbiosis mutualisme antara Akun Cantik dan followers mereka. Namun siapa bilang kalau semua wanita yang fotonya pernah dipublikasikan oleh Si Akun Cantik, merasa nyaman dengan tindakan tersebut? Pernahkah anda berpikir bagaimana jika yang terjadi justru sebaliknya? Bagaimana jika mereka tidak pernah menginginkan hal tersebut dan justru merasa risih lantaran foto-foto mereka dikirim oleh orang lain untuk diunggah oleh akun tertentu?

Saya tidak tahu persis alasan sang admin membuat Akun-Akun Cantik tersebut. Bisa jadi maksudnya hanya sebatas lelucon. Bisa pula karena ia memang ingin memberikan suatu wadah apresiasi di dunia maya kepada para gadis-gadis cantik. Tapi apapun alasannya, tetap lebih baik jika akun-akun pengekspos wanita cantik ini tidak pernah diciptakan. Mengapa?

Yuk Pikir Lagi

Mula-mula, apa persisnya manfaat dari keberadaan akun cantik ini untuk masyarakat? Sebagian pihak mungkin berpendapat jika akun-akun ini merupakan bentuk apresiasi terhadap perempuan-perempuan cantik, sekadar guyonan, sarana untuk ngeksis atau unjuk diri ke ranah publik, atau memang benar dijadikan sebagai sumber mencari “bahan cuci mata”. Namun selebihnya? Saya rasa nihil. Akun tersebut hanya media untuk sebatas melakukan promosi diri dan mendulang ketenaran serta kepercayaan diri bagi pihak-pihak tertentu. Tidak ada manfaat atau kontribusi yang bisa ia berikan kepada masyarakat.

Kedua, akun-akun cantik itu bisa membunuh rasa percaya diri perempuan-perempuan lain yang fotonya tidak pernah dimuat di laman tersebut. Potret-potret cantik yang diunggah dan dihujani ratusan atau ribuan likes serta komentar oleh pengguna media sosial akan membangun sebuah pandangan yang kuat di benak seseorang mengenai definisi “cantik”. Potret-potret cantik yang menjadi sorotan dunia maya itu akan berakhir menjadi standar kecantikan bagi perempuan lainnya.

Akibatnya, mereka akan terdorong untuk mengubah diri agar dapat menjadi mirip dengan sosok yang mereka kerap lihat. Dorongan perubahan ini pun dapat diibaratkan bagai pisau bermata dua. Di satu sisi perubahan membawa hal positif dengan mendorong seorang perempuan untuk lebih merawat serta menaruh perhatian pada dirinya. Di sisi lain, bukan tak mungkin seorang perempuan justru menjadi sangat membenci kondisi fisiknya. Ia sulit mensyukuri rupa tubuhnya sebab telah terobsesi untuk mencapai standar cantik yang telah tertanam dalam dirinya.

Jangan salahkan jika ada seorang perempuan yang meyakini definisi dari “perempuan cantik” adalah mereka yang berpipi tirus, kulit putih dan wajah mulus bebas luka, bercak atau jerawat. Jangan salahkan jika akhirnya mereka berujung membenci kulit gelap atau sawo matang mereka, pipi tembam dan adanya bercak-bercak di wajah. Penumbuhan dan pemupukan rasa iri serta minder juga mungkin terjadi jika seseorang secara terus-menerus disuapi oleh foto-foto yang membawa justifikasi kata “cantik” tersebut.

Namun yang paling beresiko adalah bahaya yang satu ini. Bukan tidak mungkin kalau foto-foto yang diunggah oleh Akun-Akun Cantik di media sosial disalahgunakan oleh oknum tak bertanggung jawab. Berawal dari menjadi “objek cuci mata,” kemudian bisa berkembang menjadi “objek fantasi seksual,” siapa yang bisa menduga?

Melansir dari artikel inikata.com edisi 18 Februari 2018, tercantum terdapat studi yang dilakukan oleh SugarCookie terkait frekuensi seseorang melakukan aktivitas seksual (masturbasi) dengan menggunakan foto orang lain. Dari survei yang dilakukan terbuka di media sosial dan diikuti oleh hampir dua ribu partisipan di Amerika Serikat dan Inggris, didapat hasil 2 dari 5 pria menggunakan foto seseorang sebagai alat perangsang gairah atau bahan masturbasi. Hal itu pula berarti ada sekitar 40 persen orang yang menggunakan foto orang lain sebagai referensi aktivitas seksual mereka.

Lebih-lebihnya lagi, masih banyak akun media sosial yang secara khusus mengunggah foto-foto gadis cantik secara publik (non-private account). Alhasil menjadikan foto-foto ini menjadi semakin mudah untuk dikonsumsi oleh siapa saja, termasuk oknum tidak bertanggung jawab. Sebab mau bagaimanapun, potensi foto-foto cantik dan seksi dikonsumsi oleh “predator” (sebutan bagi pelaku kejahatan seksual) akan tetap ada.

Kita selaku masyarakat yang memiliki intelektual seharusnya mampu bersikap lebih bijak dalam bermedia sosial. Tidak pernah ada salahnya untuk kita lebih memperhatikan dan berhati-hati dengan konten yang kita bagikan di dunia maya. Sebab sekali sudah tersebar, informasi tersebut bisa mencapai ranah yang sangat luas dan sulit untuk ditarik kembali.

Anda boleh jadi tidak setuju dengan tulisan ini dan memilih untuk tetap mem-follow, memberi like, komentar, menyebarkan dan “menikmati” konten yang diunggah oleh Akun-Akun Cantik. Jika anda ternyata adalah pihak yang pernah dimuat fotonya oleh Si Akun Cantik, semoga saja ketakutan saya di atas tadi tidak sampai sungguhan menimpa anda. Semoga anda justru mendapat lebih banyak teman, followers dan semakin dikenal publik untuk hal yang positif.

Namun jika anda merasa bahwa tulisan ini ada benarnya atau minimal anda tidak ingin foto anda, kerabat, atau teman dekat anda menjadi korban konsumsi publik yang tidak bertanggung jawab, anda bisa membantu dengan berhenti memberi umpan balik pada akun-akun tersebut. Berhenti pula merekomendasikan lebih banyak wanita cantik untuk dipromosikan. Sebab saya rasa, perempuan sejatinya bukanlah barang atau objek yang bisa dipromosikan. Meski mungkin tujuan anda hanya untuk “sebatas candaan”, tapi marilah kita senantiasa berhati-hati. Lihatlah kembali bahaya apa yang mungkin ditimbulkan oleh “candaan” tersebut, agar kelak tidak ada penyesalan jika sungguhan terjadi hal yang tidak diinginkan oleh kita bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *