Yang Pergi Kembali Lagi

Lubuk Linggau, 15 Maret 2016. Kala itu langit cerah dengan matahari yang teriknya tiada tara. Langkahku perlahan menjadi derap yang kemudian berubah menjadi lari karena kulitku sudah tidak sanggup menahan panasnya terik matahari yang seolah membakar kulit. Suara “tap-tap” sepatuku terdengar nyaring diiringi teriakan teman di belakangku yang seolah meminta aku untuk memperlambat lariku. Rok kotak-kotak yang hampir diterbangkan angin tetap aku paksa untuk berlari kencang menuju jalanan yang terdapat deretan pohon rindangnya.

Aku biasa pulang dengan berjalan kaki karena kosanku berada tidak terlalu jauh dari sekolahku, melewati dua pabrik roti, kebun singkong dan rumah pria tampan idamanku, tapi tidak jarang pula aku memilih naik ojek yang hanya membayar dua ribu rupiah saja. Di masa SMA, apa yang paling kamu ingat? Mungkin masa di mana kamu mulai saling jatuh cinta dengan lawan jenis, saling memberi satu sama lain dengan sahabat dan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Sama, aku juga begitu awalnya. Mengapa awalnya? Iya, sebelum kejadian yang seolah menyayat hatiku secara perlahan.

Seperti biasa setiap pulang sekolah aku selalu merebahkan tubuhku di tempat tidur selama dua menit sebelum akhirnya melepas seragam sekolahku. Aku buka pintu kamarku dan kulempar tubuhku ke atas kasur dengan tangan meraba remote AC. “Segaarrr,” ucapku sambil menutup mata. Belum satu menit mataku terpejam, tiba-tiba dering telepon membangunkanku. Aku bangkit dari kasur dengan agak malas dan kuangkat telepon dengan nada kesal.

“Apaaa, aku lelah butuh istirahat,” jawabku ketus.

“Ayahh…. Ayahh kecelakaan, sekarang dia di RS A.R Bunda lantai 3 Kamar Kamboja.”

Aku terduduk lemah mendengar suara adikku di seberang telepon. Tanpa pikir panjang aku berlari sambil menahan tangis dengan seragam yang belum aku ganti. Aku kesal karena tidak ada angkot yang lewat selama lima menit aku berdiri di halte depan sekolahku. Enggan menunggu, akhirnya aku memutuskan untuk berlari, di seperempat perjalanan tiba-tiba ada angkot yang berhenti. Aku naik dan merogoh saku kemeja putihku, untungnya ada sisa uang tiga ribu rupiah yang cukup untuk membayar angkot dan mendapat kembalian lima ratus perak.

“RS A.R Bunda depan Lapangan Merdeka ya, Pak,” ucapku.

“Iya neng,” sahut si bapak dengan ramah.

Sayangnya aku tiba di rumah sakit pukul 13.30 dan itu merupakan jam istirahat. Aku semakin kesal dengan keadaan, setelah menunggu cukup lama tapi pintu lobi tidak dibuka juga, aku memutuskan untuk mengendap-ngendap lewat dari jalan ambulans. Akhirnya aku bisa masuk melalui pintu belakang yang langsung berhadapan dengan UGD. Aku mencari tangga darurat dan berlari menuju lantai tiga di mana ayahku dirawat. Mataku liar mencari Kamar Kamboja, aku kemudian masuk ke ruang dua dari sudut kiri.

Langkahku terhenti, aku mati rasa saat itu ketika melihat pria kesayanganku terbaring dengan darah yang mulai mengering di bagian celana dan bajunya. Dadaku sesak, sangat sesak, mataku berkaca-kaca menyaksikan lelaki yang paling kuat saat ini sedang bertahan antara hidup dan mati. Tangannya melambai lemas memberi isyarat agar aku tidak menangis, sayangnya air mataku semakin berjatuhan.

“Ayaahhh, kenapa bisa begini?” tanyaku dengan sedikit terbata, tapi dia hanya diam dan menggeleng lemas. Dua puluh menit setelah itu ayahku dibawa ke lantai dasar menuju ruang operasi. Aku, paman, dan ibuku mengikuti dari belakang. Empat jam kami menunggu di luar ruangan, pikiranku kacau menunggu selama itu, aku takut ayahku tidak terselamatkan. Aku terus membatin.

“Bagaimana kalau operasinya gagal?

 “Bagaimana kalau ayahku tidak terselamatkan?

“Bagaimana kalau ayahku buta, kalau matanya harus diangkat?

Aku terus membatin sambil menangis, akhirnya pintu dibuka dan ayahku didorong ke luar menggunakan bed RS, mata kirinya diperban, bibirnya juga. Aku sedikit sesak melihatnya, ditambah lagi ada anak kecil yang berteriak, “Ibuu… matanya hilang, dia tidak punya mata.” Aku marah saat itu, ingin rasanya aku menampar mulut anak tersebut. Bed roda tersebut didorong oleh pamanku menuju lift. Tiga hari lebih ayahku tidak sadarkan diri dan hanya mendapat suntikan setiap harinya, aku tidak tahu apa itu.

Di bulan pertama ayahku masih belum sadarkan diri, bulan berikutnya juga, dan sejak hari itu sekolahku kacau, hidupku berantakan, rumah sakit sudah menjadi rumah kedua bagiku. Bulan ketiga ayahku masih belum sadar, padahal itu bulan di mana aku harus mempersiapkan pendaftaran ke perguruan tinggi. Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah sampai ayahku sadar dan sehat seperti sebelum kecelakaan itu terjadi. Sayangnya di bulan kelima ayahku menghembuskan nafas terakhirnya. Sehari setelah dia siuman, kami sempat bicara saat itu.

“Sekolah kamu gimana, Nak?” tanyanya padaku.

“Baik, semua berjalan lancar, Yah. Setelah Ayah pulih aku akan melanjutkan kuliah.”

Aku memeluknya dengan erat seolah berkata “Jangan pernah tinggalkan aku”. Tepat pukul 03.00 WIB ayahku pergi untuk selamanya, di umur yang masih 17 tahun aku tidak sanggup menghadapi kenyataan pahit itu. Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa ayahku sudah pergi ke surga. Aku kacau, hancur, hilang arah semenjak kepergian ayahku. Setahun setelah beliau pergi aku masih dalam keadaan terpuruk, entah bulan berapa dan dari siapa aku mulai mengenal barang “jahanam” itu. Aku liar dan kehilangan diriku sendiri, kehilangan keluargaku dan kehilangan hidupku yang dulu. Aku bukan lagi anak ayah yang penurut, aku anak buangan yang menjijikkan. Aku semakin kenal gemerlapnya kehidupan, sebut saja aku si gila yang rindu rumah.

Aku tinggal di mana saja yang aku mau, aku menipu agar bisa membeli barang jahanam yang kuanggap sebagai “penenang” tersebut. Hampir satu tahun lebih aku menjalani hidup yang sangat tidak normal. Sampai dipenghujung jalan aku singgah ke toko kue dengan niat bisa mencopet di sana. Tatapanku lemah melihat sosok pria yang ada di hadapanku, badannya jangkung, ada sedikit kumis di atas bibirnya dan rambutnya sedikit memutih, umurnya sekitar 40 tahunan. Sosok itu mirip sekali dengan ayahku. Tanpa diperintah, air mataku berjatuhan. Aku tertawa menahan malu tapi aku juga merasa bersalah pada ayahku, karena keadaanku yang sekarang sangat memalukan.

“Dek, kamu kenapa?” tanya pria itu padaku.

“Sayaa… saya sedang mencari Ayah saya.”

“Memangnya beliau ke mana? wajah kamu terlihat sangat lelah.”

Entah bagaimana ceritanya sampailah aku di rumah yang cukup besar itu. Di dalamnya ada ibu-ibu yang berumur sekitar 37 tahunan, dan tak lama ke luar seorang laki-laki seumuranku. Dia kaget melihat aku yang berpenampilan setengah gelandangan. Awal dari kehidupanku yang baru dimulai dari hari itu, hari di mana aku menemukan segala yang hilang dariku.

Oleh: Wayan Sanggeni

Editor: Kristika, Juniantari

Ilustrator: Adinda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *