Dua Mahasiswa Udayana Usung Inovasi Pembelajaran Inklusif “Serasi” ke Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026

Dua Mahasiswa Udayana Usung Inovasi Pembelajaran Inklusif “Serasi” ke Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026

DENPASAR, 27 Agustus 2026 – Prestasi kembali diukir oleh civitas akademika Universitas Udayana (Unud). Dua mahasiswa terbaik Unud, yakni Ni Kadek Dinda Amela Putri Darma dari Program Studi Ilmu Komunikasi (Angkatan 2024) dan I Km Wikananda Rama Satria dari Program Studi Ilmu Hukum (Angkatan 2024), resmi terpilih sebagai Delegasi Duta Bahasa Provinsi Bali yang akan berlaga pada ajang bergengsi Pemilihan Duta Bahasa Nasional Tahun 2026.

Sebagai modal utama dan bukti kontribusi nyata menuju kompetisi tingkat nasional tersebut, kedua mahasiswa Unud ini menggagas serta mengimplementasikan karya inovatif bertajuk Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun Kalimat secara Interaktif). Karya inklusif ini diserahkan secara resmi kepada pihak sekolah di SLB Negeri 2 Denpasar pada Kamis (27/8/2026) sebagai bentuk keberlanjutan program Krida Kebahasaan dan Kesastraan Duta Bahasa Provinsi Bali 2026.

Berangkat dari Kebutuhan Inklusivitas Pembelajaran Bahasa

Inovasi Serasi dirancang secara khusus untuk mengatasi tantangan mendasar yang dihadapi oleh siswa disabilitas rungu dalam menyusun struktur kalimat. Pemahaman mengenai tata bahasa yang runtut merupakan fondasi utama dalam komunikasi agar pesan yang disampaikan dapat dipahami secara optimal.

Melihat urgensi tersebut, Dinda Amela dan Wikananda Rama merancang metode pembelajaran yang visual, interaktif, bertahap, serta adaptif terhadap gaya belajar siswa. Model Serasi menggabungkan media pembelajaran fisik dan platform digital modern. Perangkat fisik yang dihadirkan meliputi Buku Panduan, Kartu SPOK Serasi, Kartu Kata Serasi Berwarna, Kartu Kata Serasi Tanpa Warna, serta Papan Serasi. Seluruh alat peraga ini terintegrasi langsung dengan teknologi digital seperti Artificial Intelligence (AI), platform Wordwall, Padlet, dan Buku Bacaan Bermutu.

Dalam prosesnya, penggunaan kartu berwarna membantu siswa membedakan unsur Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan (SPOK). Setelah memahami konsep dasar secara visual dan konkret melalui Papan Serasi, siswa ditantang menggunakan kartu tanpa warna untuk melatih kemandirian berpikir. Pembelajaran kemudian diperkaya melalui permainan interaktif di Wordwall, pengetikan kalimat di Padlet, serta pengenalan teknologi AI sebagai media bantu untuk memeriksa ketepatan struktur kalimat sekaligus mengasah literasi digital para murid.

Hasil Efektivitas Sangat Memuaskan

Sebelum penyerahan media secara resmi, inovasi karya mahasiswa Udayana ini telah melalui uji coba dan implementasi intensif. Sebanyak 12 siswa SLB Negeri 2 Denpasar mengikuti lima kali pertemuan pembelajaran dengan durasi masing-masing dua jam.

Hasil asesmen menunjukkan lonjakan kemampuan yang sangat signifikan. Nilai rata-rata peserta didik melesat sebesar 69 persen, dari nilai awal 53,42 sebelum intervensi menjadi 90,25 setelah memanfaatkan media Serasi. Peningkatan ini dirasakan oleh seluruh siswa yang terlibat, di mana mereka kini mampu membedakan pola kalimat, membuat kalimat berdasarkan gambar, hingga memanfaatkan AI secara mandiri untuk mengecek susunan kalimat mereka.

Kepala SLB Negeri 2 Denpasar, Ni Wayan Rapiyanti, S.Pd., mengapresiasi tinggi dedikasi serta inovasi yang dibawakan oleh delegasi mahasiswa Udayana ini.

“Anak tuna rungu itu memang dari penyusunan kata dan kosa kata sangat kurang, tetapi dengan datangnya adik-adik dan bantuan pembelajaran Serasi ini membuat anak-anak kami sedikit mampu dalam menyusun kalimat yang berstruktur SPOK. Metode ini sangat baik dan sangat membantu kami di sekolah. Jangan berhenti sampai di sini, semoga ke depannya semakin ditingkatkan dan berinovasi terus untuk membantu anak-anak disabilitas,” puji Rapiyanti.

Kolaborasi Multidisplin dan Komitmen Kebangsaan

Pengembangan Model Pembelajaran Serasi ini tidak lepas dari pendekatan kolaboratif. Di bawah naungan Balai Bahasa Provinsi Bali, Dinda dan Wikananda juga menggandeng Pusbisindo untuk mendapatkan pembekalan mendalam mengenai budaya Tuli dan bahasa isyarat. Langkah ini diambil agar perancangan media benar-benar tepat sasaran dan menghormati etika komunikasi disabilitas rungu.

Prestasi ini tidak hanya mengangkat nama harum Universitas Udayana di tingkat nasional, tetapi juga menegaskan peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang membawa nilai-nilai kesetaraan, edukasi inklusif, dan literasi digital di Indonesia.

Sumber: Rilis Pers Balai Bahasa Provinsi Bali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *