Diskusi Publik Mahasiswa di Bali: Bebaskan Semua Tahanan Politik!
Front Mahasiswa Nasional (FMN) Denpasar menggelar diskusi publik pada Senin, (29/12/2025), di Kampus Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unud, Denpasar. Tepat di depan Lab Sejarah FIB, peserta duduk bersama membahas perkara penangkapan sejumlah aktivis dan menuntut agar seluruh tahanan politik dibebaskan.
Kabar penangkapan sewenang-wenang dan teror terhadap beberapa aktivis dan pejuang yang kerap menyuarakan isu hak asasi manusia (HAM) menuai kekhawatiran bagi berbagai pihak, FMN cabang Denpasar salah satunya. Hal tersebut disampaikan oleh Reyna Agatha, perwakilan FMN kala diwawancarai di FIB pada (29/12/2025). “Kenapa kita pada akhirnya ada di sini adalah kekhawatiran bersama, solidaritas kita atas penangkapan sewenang-wenang teman kita, Tomy Wiria (TPW-red),” ujar Reyna.
Lebih lanjut, Reyna menuturkan bahwa kegiatan tersebut juga beranjak dari kerisauan atas persoalan nasional yang terjadi dalam pemerintahan Prabowo-Gibran. “Pola-pola kriminalisasi atau pola-pola pembungkaman itu saat ini jelas banget dilakukan dan gak bersembunyi-sembunyi lagi gitu,” imbuh Reyna.
Pada diskusi yang bertajuk “Demokrasi yang Tak Tahan Uji: Aktivisme, Represi, dan Masa Depan Kebebasan Sipil” itu, FMN juga menggandeng sejumlah mahasiswa dari berbagai organisasi dan fakultas, serta turut menghadirkan perwakilan lembaga bantuan hukum (LBH) Bali sebagai pemantik diskusi. Andi, perwakilan LBH Bali mengatakan bahwa dalam kasus penangkapan TPW pada (19/12/2025) lalu, terdapat unsur formil yang tidak dilakukan. “Ketika memang pembuktian belum dilakukan, sudah penetapan tersangka dan undang-undangnya ada 3 yang disangkakan, maka ini menjadi cacat formil dan materil yang sangat nyata terlihat,” kata Andi ketika ditemui pada (29/12/2025).
Dalam ruang dialog itu pula, salah seorang pemantik menyoroti pergerakan atau aksi perjuangan di Bali yang masih kerap dibenturkan secara horizontal. Berkenaan dengan hal tersebut, Reyna berharap agar diskusi ini dapat mendorong mahasiswa untuk dapat bersama-sama membangun kesadaran politik baik sebagai mahasiswa maupun masyarakat umum. Supaya dapat meningkatkan kepekaan terhadap demokrasi. “Harapanku sama seperti yang diharapkan teman-teman yang lain adalah kita membaur, kita sustain, kita bergerak,” terang Reyna.
Pada penghujung kegiatan, massa berdiri merapat menyampaikan tiga poin tuntutan pernyataan sikap. Adapun tuntutan tersebut yakni:
“Kami dari solidaritas kawan Tomi Wiria dari Bali, menuntut:
Pertama, bebaskan semua tahanan politik.
Dua, hentikan kriminalisasi kepada rakyat yang sedang berjuang.
Tiga, negara harus menjamin hak berserikat, berkumpul, dan berpendapat.”
Mengenai Tomy Wiria yang juga merupakan mahasiswa Unud, Reyna berpandangan bahwa setidaknya pihak kampus dapat memastikan mahasiswanya dalam kondisi baik-baik saja. Sebagai wujud bahwa kampus dapat menjadi ruang yang aman bagi mahasiswa, utamanya mahasiswa yang aktif bersuara serta mengkritisi berbagai isu yang terjadi. “Mungkin kalau boleh saran, perhatikan pendidikan politik di kampus. Kalau misalkan kampus tidak bisa melakukan apa-apa, paling gak kampus bisa menjamin adanya pendidikan politik,” tandas Reyna.
Penulis: Gung Putri
Penyunting: Putri Wara
Reporter: Gung Putri

