Gelar Diskusi Pojok, Mahasiswa Unud Bedah Polemik Sampah Bali
“Sukses besar pemerintah berhasil memindahkan bau Suwung ke depan pintu rumah rakyat” merupakan tema yang diangkat oleh Perhimpunan Mahasiswa Ilmu Politik (Himapol) Fisip Universitas Udayana (Unud) dalam menggelar forum diskusi bertajuk “Diskusi Pojok Democra-tea & coffee” yang dilaksanakan di area Ruang Terbuka Hijau (RTH), Kampus Sudirman, Unud, pada Jumat, 29 Mei 2026.
Kegiatan ini menghadirkan analis politik dan hukum, sekaligus dosen Program Studi Ilmu Politik, Unud, Dr. Efatha Filomeno Borromeu Duarte, S.I.P., M.Sos, Ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Unud, I Gusti Agung Ngurah Oka Paramahamsa, dan perwakilan mahasiswa Unud, Matthew Owen Van Fredlian, sebagai narasumber. Ketua panitia, Ni Wayan Eka Mardani, menjelaskan bahwa forum ini dibentuk guna mengulas isu-isu hangat, salah satunya persoalan sampah di Bali yang terus berulang. Acara ini juga menjadi wadah sosialisasi bagi mahasiswa baru dalam mengenalkan dasar berpikir. “Kita memusatkan mahasiswa baru itu, harus dikenalkan dengan apa sih yang ada, apa sih yang bakal kita bahas di politik ini,” tambah Kesha Erika Febrina selaku koordinator humas dalam acara.
Diskusi kemudian dibuka dengan pemaparan oleh Efatha yang menyoroti pengelolaan sampah di sejumlah negara telah dikembalikan kepada struktur pemerintahan terkecil dengan menyentuh langsung masyarakat. Ia menilai pemerintah perlu memperkuat kebijakan yang melibatkan seluruh pihak berkepentingan, sebab persoalan ini tidak akan selesai jika hanya dibebankan kepada pemerintah. “Upaya kita juga untuk menyadarkan semua pihak bahwa ini adalah tanggung jawab bersama,” terangnya. Efatha turut mempertanyakan mengapa masalah sampah terus berulang dan mencontohkan program TPS 3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) yang menjadi sia-sia jika hanya berhenti pada pemilahan tanpa menghasilkan nilai guna lanjutan.
Menilai persoalan dari sisi regulasi, Owen melengkapi pembahasan dengan memaparkan konsep green constitution yang menjelaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab untuk menjamin hak setiap warga negara agar dapat hidup dalam kondisi lingkungan yang bersih, nyaman, dan sehat. Ia juga menambahkan bahwa persoalan saat ini menjadi masalah yang saling melempar antara masyarakat dan pemerintah hingga semua pihak lupa untuk bergerak. “Kita saling melempar permasalahan ini sampai kita lupa bahwa semua ada pada kemauan kita untuk bergerak,” tegas Owen.
Namun, realitas munculnya bau sampah di pemukiman warga justru dinilai Gung Pram sebagai bukti nyata dari buruknya tata kelola pemerintahan yang selama ini membuang-buang waktu dan anggaran. “Saya melihat dari pandangan saya pribadi adalah fokus dari pemerintah kita itu menjaga citra pariwisata Bali, bukan membangun sistem dan solusi yang sustain atau berkelanjutan.” tandasnya. Ia menjabarkan adanya implementation gap, yaitu kesenjangan pelaksanaan akibat komunikasi yang buruk, kebijakan reaktif, serta ketidakterbukaan data publik. Menurutnya juga, pemerintah selama ini hanya berfokus menyelesaikan masalah di bagian tengah dan hilir, sementara akar persoalan dibagian hulu justru tidak pernah diselesaikan.
Di Akhir diskusi, ketiga narasumber menekankan bahwa ruang diskusi harus dilanjutkan dengan aksi nyata, yang dimulai dari kesadaran diri sendiri dalam mengelola sampah. “Kalau tidak, bukan hanya diskusi tanpa aksi, tapi kita merasa bahwa masa depan tidak bisa kita ubah,” pungkas Efatha.
Penulis: Christin
Penyunting: Gita
Reporter: Sekar & Gung Putri

