Antrian BBM Menjalar, Aktivitas Warga Terpapar
Beberapa waktu belakangan, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang terdapat pada sejumlah wilayah di Bali kerap dipadati antrean kendaraan hingga ke jalan raya. Mengutip dari Tempo, telah terjadi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah wilayah sejak Minggu (11/10/2026). Reporter Pers Akademika melakukan wawancara dengan beberapa mahasiswa, pekerja, dan warga lainnya yang menerima dampak dari masalah kelangkaan BBM ini.
Gubernur Bali Wayan Koster memastikan bahwa masalah kelangkaan BBM sudah dapat diatasi sepenuhnya pada Senin (12/10/2026). “Hari ini (Senin) mulai didistribusikan ke seluruh pelosok Bali, sehingga pada sore ini masalah pasokan BBM sudah bisa diatasi,” ujar Koster, dikutip dari Antara. Kendati demikian, hingga hari ini, Rabu (14/10/2026), antrean panjang masih menjalar di jalanan sekitar area SPBU wilayah Bali. Ragam unggahan dari media hingga warga tengah ramai bertebaran di internet, terdapat sejumlah warga yang membagikan pengalamannya ketika menghadapi antrean hingga lebih dari tiga jam di SPBU.
Reporter Pers Akademika melakukan wawancara dengan beberapa mahasiswa, pekerja, dan warga lainnya yang menerima dampak dari masalah kelangkaan BBM ini.
Wahid, seorang mahasiswa yang mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai driver ojek online (ojol–red) mengaku pekerjaannya menjadi terhalang akibat kelangkaan BBM. “Saya mengantri (Pertamax) di salah satu POM selama tiga jam, mulai dari 05.41-08.40 WITA. Saya memutuskan untuk berhenti bekerja paruh waktu sebagai ojol sebelum keadaan kondusif lagi,” terang Wahid (14/10/2026). Mahasiswa itu melanjutkan, hal tersebut kemudian mempengaruhi pendapatannya. “Pendapatan menurun drastis sih kalau keadaannya masih gini, apalagi di kebutuhan sehari hari (seperti–red) tugas, jajan, uang bensin, perawatan motor, dan lain-lain, aku emang nyari sendiri, jadi bener-bener terpuruk banget. Saya harap pemerintah melek akan masalah ini. Kita sudah bayar pajak kendaraan, perpanjang SIM tapi gak dapet apa-apa,” imbuhnya.
Adapun Yoachin, seorang mahasiswa lainnya juga merasakan hambatan seperti Wahid. Mahasiswa yang tengah mengikuti program magang di luar kampus itu kerap menggunakan jasa ojol untuk menunjang mobilisasinya. “Semenjak hari Senin (11/10–red) kemarin itu, frekuensi aku dapat ojek online itu lumayan susah,” ujar Yoachin (14/10/2026).
Selang sehari kemudian, ia kembali mengalami kesulitan memperoleh driver bahkan hingga dua jam lamanya. Kala itu ia tak hanya berkutat pada satu aplikasi ojol, beberapa aplikasi transportasi daring telah ia kunjungi untuk memperoleh pengemudi ojek. Namun, kendalanya tak berhenti di situ saja, di tengah waktu yang terus bergulir menuju jam magang, Yoachin berhadapan dengan tarif ongkos ojol yang membumbung dua kali lipat dari biasanya, sehingga ia mesti menimbang hingga memperoleh harga yang lebih sesuai. Alhasil, hari itu ia baru tiba di kantor tempatnya magang pada pukul 10.30 WITA, terlambat dua setengah jam dari waktu semestinya.
Hari berikutnya ia memutuskan untuk izin tidak masuk magang, sebab kejadian sehari sebelumnya kembali terjadi padanya. “Aku kesulitan untuk menjangkau aktivitasku kayak biasa. Bahkan untuk ngorder makanan online aja enggak ada gitu. Tempat magangku juga enggak ngasih ee dispensasi atau keringanan sama sekali. Kita tetap disuruh datang. Kalau misalnya telat ya telat,” papar Yoachin. Mahasiswa tersebut menilai bahwa penerapan work from home (WFH) mestinya dapat menjadi solusi sementara.
Di lain sisi, terdapat pula cerita dari AK yang merupakan seorang ibu rumah tangga. Antrean SPBU yang mengular membuat berbagai aktivitasnya yang melibatkan penggunaan sepeda motor jadi terdampak. “Banyaknya waktu yang terbuang percuma hanya untuk mengantre (membeli bensin–red),” kata AK. Ia juga menceritakan bahwa anak-anaknya terpaksa diliburkan di saat kebijakan belajar daring belum diumumkan. “Karena bensin udah di atas (bar–red) merah tadi,” sambung AK ketika menerangkan ketersediaan BBM kendaraannya yang tengah menipis pagi tadi, di waktu seharusnya ia mengantar anak-anaknya bersekolah. “Pemerintah harusnya lebih memperhatikan rakyat kecil, jangan hanya mengambil pajak sedangkan kerja tidak becus, mending turun kalau tidak mampu bekerja,” tandas AK.
Beranjak ke Dayu Wida, seorang pegawai swasta yang juga menghadapi antrean panjang tiga jam lamanya. “Kemarin sih memotong jam kantor tiga jam mau tidak mau ya dan itu memperlambat pekerjaan saya,” kata Dayu (14/10/2026). Ia melanjutkan, “Karena itu siang hari cukup panas ya…Saya pun merasa em apa ya, mungkin sangat rawan dehidrasi gitu. Dan syukurnya kemarin ada yang bagi-bagi air gratis.”
Ia turut menyoroti pentingnya komunikasi pemerintah yang lebih jelas dan terperinci mengenai ketersediaan stok BBM, bukan sekadar pernyataan bahwa pasokan aman, sementara antrean panjang masih terjadi di lapangan. “Amannya itu seperti apa? Di titik mana saja? Jadi, tidak ada simpang siur di masyarakat gitu, ketika sudah mengantre berjam-jam tahu-tahu habis. Masyarakat memang senyata-nyatanya butuh bahan bakar minyak begitu loh,” ucapnya.
Di tengah situasi suplai BBM yang belum pasti, Dayu berharap pemerintah membenahi persoalan dari akarnya, memperbaiki komunikasi publik, serta memperluas jangkauan transportasi umum agar masyarakat memiliki alternatif mobilitas yang layak di tengah ketidakpastian pasokan BBM.
Penulis: Gung Putri
Penyunting: Gusti Ayu
Sumber Referensi:
ANTARA News Bali
Tempo

