DIBALIK LAYAR PEJUANG BEASISWA

Denpasar (18/10) – Clinical Workshop III merupakan kegiatan berbagi informasi mengenai beasiswa luar negeri. Acara ini dihadiri oleh depalan belas orang, bertempat di STIMIK Primakara Denpasar yang berlangsung dari pukul 16.30-20.00 WITA.

Suasana Clinical Workshop III bertempat di STIMIK Primakara Denpasar (18/10)
Suasana Clinical Workshop III bertempat di STIMIK Primakara Denpasar (18/10)

Kegiatan ini hadir setelah terselenggaranya Clinical Workshop I pada 21 Juni 2014 di Inline House, Renon dan Clinical Workshop II pada 1 Juli 2014 di Mailaku Rumah Nongkrong, Singaraja. Clinical Workshop III menghadirkan pembicara yang membahas mengenai Recommendation Letter, LoA, Interview, Administration. “Ini merupakan acara kumpul bersama, berbagi mengenai pengalaman berjuang meraih beasiswa,” ungkap Made Hery Santosa, peraih beasiswa La Trobe University.

Dalam diskusi yang berlangsung tiga setengah jam ini juga menghadirkan Kitty Morin, peraih beasiswa AAS S2 di Monash University. “Kalau menulis aplikasi itu harus realistis, meskipun hal kecil tapi harus relevan dengan tujuan kita,” jelas Kitty yang juga sebagai pengajar di Universitas Cendrawasih. Kitty juga menjelaskan tentang harus mempelajari isi dari aplikasi (formulir) yang diunggah sebelum maju ke tahap wawancara. “Biasanya saat wawancara akan ditanyakan tentang aplikasi yang ditulis sebelumnya,” tegas Kitty.

Selain itu, Pande Made Sumartini juga berbagi pengalaman menganai keberhasilannya meraih beasiswa Fulbright di Amerika. “Saran saya, persyaratan sebelum mengajukan beasiswa minimal sudah dipersiapkan kurang lebih satu tahu,” ungkap Pande yang telah menulis kisah hidupnya dalam cerita berjudul “Kebaya Pinjaman”. Pande juga memberikan saran tentang penulisan surat rekomendasi, “Menulis recommendation letter jangan pernah nulis langsung kirim, disimpan dahulu kemudian dibaca dan diedit lagi agar lebih bagus.”

“Perjuangan meraih beasiswa itu tidak mudah, perlu tahapan yang berliku dan menguras tenaga,” tambah Helmy Syakh Alam, peraih beasiswa Indonesia-Austria Scholarship Programme. Helmy berbagi pengalamannya saat mengurus administrasi beasiswa yang mengharuskannya memenuhi persyaratan dokumen ke departemen terkait di Jakarta.

“Kehadiran pembicara disini bukan menggurui melainkan berbagi pengalaman mengenai berjuang beasiswa di luar negeri,” kata Hery Santosa. Hery juga mengungkapkan ini merupakan kegiatan sosial, tidak perlu bayar dan belum tentu menjamin lolos beasiswa. “Jika ingin sukses, harus ada niat dan kerja keras. Awal yang besar dimulai dari langkah yang kecil,” pesannya. Kegiatan ini ditutup dengan launching “Komunitas Pejuang Beasiswa”. (dj)

You May Also Like