Di Balik Kilau Panel Surya Keliki: Petani Cemas Subak Berganti Beton Villa

Di Balik Kilau Panel Surya Keliki: Petani Cemas Subak Berganti Beton Villa

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)


Desa Keliki yang terletak di Kecamatan Tegallalang dihiasi sawah sejauh mata memandang yang sesekali diselingi pepohonan hingga bangunan bertuliskan “villa” yang menjadi pemandangan khas dari wajah Bali hari ini, yaitu perpaduan antara ketenangan dan geliat industri pariwisata. Begitu sejuk cuacanya ketika sedikit mendung sore itu, dibalik luasnya hamparan sawah dan gemericik aliran air, berdiri pula panel-panel surya yang memberi kehidupan bagi para petani, mengandalkan cahaya sang mentari.

Namun, kehadiran deretan panel surya ini sesungguhnya sedang merekam sebuah ironi yang sunyi. Di satu sisi, teknologi PLTS hadir sebagai dewa penolong yang mengalirkan air ke hilir sawah saat kemarau mencekik. Di sisi lain, setiap kali mata memandang ke arah bangunan-bangunan beton bernama “villa” yang kian merangsek ke tengah pematang, ada kekhawatiran besar yang menghantui di benak para petani. Keberadaan panel energi bersih ini seolah sedang berkejaran dengan waktu melawan laju alih fungsi lahan yang tak terbendung. Setiap petak sawah yang berganti menjadi fondasi semen bukan sekadar hilangnya tanaman padi, melainkan ancaman nyata bagi runtuhnya sistem Subak yang telah lama mengikat kebersamaan warga.


Salah seorang pekaseh dari total tujuh subak yang ada menyampaikan keluhan hatinya, sebut saja Pak Gusti Kawi ia berpendapat bahwa tidak semudah itu untuk mencegah hilangnya sepetak lahan dari genggaman, terutama jika tanah itu satu-satunya yang warga miliki dan bisa diuangkan dengan instan.

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)


“Iya, susah. Karena perkembangan, kalau gak dikasi juga. Mungkin orang punya cuma itu saja kan. Kita sih berusaha untuk gini..untuk melindungi.”


Meski demikian ia tetap bertekad mempertahakan lahan subaknya, karena baginya lahan subak bukan hanya sebagai ladang penghasilan tetapi juga merupakan jiwa dari identitas Bali itu sendiri. Gusti Kawi sendiri tidak mengandalkan pertanian sebagai penghasilan utama, meski begitu ia sadar betul bahwa Subak yang merupakan warisan memiliki fungsi penting dalam kehidupan masyarakat dan lingkungan.


“Iya, nanti kalau habis lahannya gimana? Siapa yang melihara puranya?”


Jika hamparan hijau seluas 500 hektare ini terus terkikis demi industri pariwisata, sistem pembagian air tradisional yang sarat nilai filosofi Tri Hita Karana ini perlahan bisa kehilangan fungsinya, namun tentu ini dilema besar karena bertani sudah tak lagi menjadi mata pencaharian utama.


Disisi lain ada Wayan Nadra yang merupakan Pekaseh Subak Jungut ia mengakui bahwa kehadiran PLTS serta aturan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) selama beberapa tahun terakhir begitu membantunya dalam mengelola dan mempertahankan keberlangsungan subak.


“LSD itu dah yang… sangat membantu petani. Sebelum ada LSD itu… Wah! Makelar makacakan (ada dimana-mana).”


Ia juga sempat bercerita bagaimana luas lahan subak yang sudah ia kelola bertahun-tahun sempat mengalami penurunan luas meski ia tidak pernah membiarkan satupun bangunan berdiri.


“Luas subak tiang kecil, 10,32 are tapi dulu 15,09 setelah itu jadi 10,32 lagi padahal subak tiang tidak ada bangunan. Katanya ada gambar dari satelit, sampai di waktu rapat BPP tiang protes.”

Dari cerita Pak Nadra dapat disimpulkan bahwa ketika aturan pemerintah berjalan dan dipatuhi serta hadirnya teknologi di tengah kesederhanaan kehidupan petani, memicu semangat yang lebih tinggi dalam mempertahankan lahan. Namun, semangat para petani ini tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian. Efektivitas teknologi dan keteguhan regulasi pemerintah seperti penegakan kawasan jalur hijau harus terus berjalan beriringan tanpa celah. Sebab, secanggih apa pun pompa bertenaga surya mengalirkan air ke hilir subak, inovasi tersebut akan kehilangan maknanya jika petak-petak sawah yang dialirinya perlahan habis dikepung dan tertutup oleh fondasi beton pariwisata.


Saat senja mulai turun membasahi bumi Tegallalang, Desa Keliki memberikan sebuah pelajaran berharga bagi siapa saja yang datang berkunjung. Di sini, modernisasi dan warisan leluhur tidak saling bertolak belakang. Mereka justru berjalan beriringan, saling menguatkan, dan membuktikan bahwa teknologi ramah lingkungan bisa menjadi pelindung terbaik bagi kelangsungan sistem subak meski diselipi rasa kekhawatiran akan kehilangan untuk selama-lamanya.

Salah satu karya Tim Pers Akademika dalam AJW BaleBengong 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *