Mandala Bhatari Sri: Ideologi Pertanian Laksana Amerta, tetapi Dirundung Derita
Di tengah gemuruh zaman yang menggoda lahan untuk berganti rupa, kebutuhan berubah, lanskap rebah, dan karakter agraris terancam punah. Suara para petani masih terdengar lirih di pematang sawah memuja Bhatari Sri—sang Dewi kemakmuran. Namun bentang persawahan kian terdesak, tradisi agraris terus digerus modernitas, begitu pula ketika sawah mulai dinilai dari sisi ekonomi semata, nilai-nilai sakral yang melingkupinya perlahan mengering bersama tanah yang dijual.
Bhatari Sri adalah dewi kemakmuran dan kesuburan. Dalam denyut nadi pertanian tradisional Bali, Bhatari Sri selalu disebut dalam upacara di sawah, dalam canang yang dipersembahkan di pematang, hingga teks-teks kuno yang dituturkan dari generasi ke generasi. Alam meramu sumber-sumber penghidupan makhluk, sehingga syukur bisa terucap dalam kata dan mantra kepada sang pemberi kemakmuran. Padma Bhuwana (Pulau Bali-Red) memiliki ladang sastra pertanian, termuat dalam lontar-lontar yang berjudul Dharma Pemaculan atau Sri Tattwa, Usadha Sawah, Aji Pari, Siwagama, dan Wariga Krimping.
Menyusuri jalanan ramai Kota Lumbung Beras—Tabanan, sawah yang menjadi sampul utama kini mangkir, memilih mundur dan menyembunyikan diri di balik bangunan-bangunan kokoh. Meskipun lahan-lahan persawahan semakin tergerus, tetapi ritual agraris masyarakat Bali tak pernah terputus. Karena dalam tradisi yang diwarisi, kehidupan agraris sangat mendominasi dalam upacara-upacara di Bali sampai saat ini.
Petani memuliakan sawah sebagai mandala Bhatari Sri, pada setiap ritual atau upacara yang berkaitan dengan sawah dianggap sebagai sebuah bentuk devosi penuh penantian. Sebelum memulai menanam padi, para petani akan melakukan berbagai macam rangkaian upacara. “Setiap musim tanam padi, satu periodik musim tanam padi itu, pertama kita melakukan upacara ritual yang namanya mendak toya (Menjemput air-Red). Mendak toya itu istilahnya kita memohon kepada Yang Di tas itu agar kita tetap diberikan kelimpahan air. Itu biasanya kita lakukan di Pura Ulun Suwi, di bendungan yang lokasinya kita itu di Taman,” ujar Pekaseh Subak Sakeh, I Nyoman Sulastra (15/07/2025).
Aci-aci (bhakti-red) ritual kepada Dewi Kemakmuran seyogyanya dapat dilakukan dengan penuh keyakinan dalam pengelolaan pertanian agar sesuai harapan. Bermula dari ngendagin (memulai bekerja di sawah-red), menyemai bibit, mendak toya, mengolah lahan pertanian dari matekap (Membajak-Red), nglampit (Meratakan tanah-Red), mungkang, mlasah (Meratakan sawah-Red), hingga nandur (Menanam-Red). Berlanjut pada perawatan tanaman padi, mulai dari ngodorin (Menyiangi-Red) yang dilakukan sebanyak dua kali, majukut atau membersihkan rerumputan yang tumbuh di sekitar tanaman padi, nyiag bertujuan agar padi terkena sinar matahari secara merata, ngenyatin atau menguras air pada lahan pertanian, kemudian dilanjutkan dengan upacara mabea kukung sebelum padi berbuah. Bea kukung acap kali dimaknai sebagai hidangan untuk upacara panunggalan intim Bhatari Sri sebagai Nini Patuk dengan Kaki Patuk. Padi-padi itu kemudian dihibur dengan lantunan suara sunari (Alat musik tradisional terbuat dari bambu-Red). Setelah berbuah dan menguning, beberapa helai padi diikat sebagai simbol Dewi Nini yang akan distanakan di Lumbung atau Jineng dengan posisi wayabya (Barat laut-Red), barulah kemudian dilakukan prosesi manyi (Panen-Red) dan ngantukang atau menstanakan Dewi Nini. Setelah Dewi Nini distanakan di Lumbung atau Jineng, dilakukan sebuah upacara mantenin. Bhakti kepada Bhatara Sri tidak sekadar berakhir pada upacara atau ritual belaka, melainkan bagaimana penghormatan ini diharapkan menjadi filosofi kemakmuran masyarakat mengenai pangan yang harus selalu diprioritaskan sebagai pondasi peradaban.
(Winih—bibit padi yang sudah siap ditanam) |
“Sebagai petani juga percaya bahwa, dengan kita melaksanakan upacara-upacara ini, juga akan memberikan kerahayuan (kesejahteraan-red) untuk hasil panen kita ke depannya,” tutur I Ketut Satra (14/7), salah satu petani di Subak Sakeh. Pria paruh baya itu juga memberikan pengalamannya ketika menggarap sawah saban harinya. Beberapa warsa yang lalu sempat terjadi serangan hama tikus di wilayah Subak Sakeh, hingga menyebabkan gagal panen besar-besaran. “Itu salahnya kenapa ada hama tikus itu, karena dulu ini, kan, yang kerja panen itu, kan, banyak dari tenaga luar. Nah, dia itu mondok di sawah, bikin tenda-tenda itu. Nah, dia mondok di sana bersama istri, itu tidak boleh. Cemer (Kotor-Red), dalam bahasa balinya cemer,” pungkas I Ketut Satra (14/07/2025). Beliau juga mengungkapkan perihal laku hidup masyarakat kini merugikan petani, banyak sampah plastik yang bermuara di sawah, dan berujung petani yang membersihkannya.
(Pelinggih Ulun Suwi diserbu sampah) |
“Kalau di sawah itu yang namanya sifatnya suci. Pertama, kita bertengkar di sawah itu memang nggak boleh. Karena itu, kan, riskan juga. Bertengkar di sawah kadang bertengkar kita masalah air, kan. Bertengkar kita istilahnya melakukan hal-hal yang tidak baik, itu memang nggak boleh. Terus buang-buang sampah pun, yang sampah yang sifatnya memang sangat kotor itu memang tidak bisa,” tutur I Nyoman Sulastra (15/07/2025) ketika diwawancarai di kediamannya.
Etik dan etos pertanian juga disebut dalam Adiparwa, terkisah di Domya Carita. Sang Bhagawan memberi sari-sari pengetahuan kepada tiga orang muridnya melalui sebuah ujian. Sang Arunika—salah seorang murid beliau diberi ujian untuk mengerjakan sawah. “Kramanya de niramar?ksa, Sang Arunika kinon ira y?sawaha rumuhun.” Dipetik maknanya secara menyeluruh, kisah Sang Arunika memberikan sebuah penegasan bahwa, mengerjakan sawah bukanlah pekerjaan yang mudah, melainkan memerlukan sebuah ketelitian, ketekunan, kesabaran, dan kesungguhan hati yang lembut nan teguh.
(Nandur—Petani Subak Sakeh tengah menanam padi) |
Salah satu risalah tentang Dharma Pemaculan memuat sejumlah larangan bagi petani yang bekerja di sawah, “Nihan pratingkahing wwang magaga sawah, lwirnya; amidik-midik, amipih enu, amipih rurung, amipih sawah, nyapuh pundukan, ngalahang tukad, mipih jlingjingan, pinaka sawah, wang mangkana katemah de sang Kala Desa Bhumi, phalanya, kena gring tutumpur, mwang koos,” yang memiliki arti, ini perilaku bagi penggarap sawah, di antaranya; amidik-midik, merusak air, merusak jalan, merusak sawah, meratakan pundukan (Pematang sawah-Red), merusak sungai, merusak saluran air, sebagai sawah, mereka yang demikian dikutuk Sang Kala Desa Bhumi, terkena sakit kutukan dan boros.
Gemerlap gelombang perkembangan pariwisata di Bali membuat peribahasa pisau bermata dua tersemat di sana. Bertaruh dengan satu kultur agraris yang kini dirundung senja kala, sawah cenderung yang ditukar menjadi lahan pariwisata. Sebab ramai orang ingin mencicipi dessert wisata budaya, pemandangan ngopi di pinggir sawah atau perbukitan, dan bersantai ria di pinggir pantai sembari meneguk minuman puluhan juta. Hal ini jelas menjadi faktor utama pertambahan penduduk pendatang yang akhirnya mendesak pemerintah untuk menata pemukiman dengan kebijakan land consolidation.
“Tiang (Saya-Red) merasakan ini, Tabanan mungkin 5 tahun ke depan tidak lagi jadi lumbung beras atau lumbung padi karena pembangunannya, tanah-tanah banyak dijual, itu dibangun perumahan dan lain sebagainya itu,” papar I Ketut Satra (14/07/2025). Dalam lanskap perkembangan zaman, tanah penuh mistik dan makna yang diyakini sebagai sumber amerta itu kini tengah laku keras di pasaran. Namun ada hal yang menggores empati, kenyataan bahwa perlahan-lahan persawahan itu tergerus dan lenyap, yang tersisa hanyalah pura-pura subak tanpa sawahnya, dan tak ada lagi yang meneruskan bhakti menjadi petani.
I Nyoman Sulastra selaku Pekaseh Subak Sakeh itu tersenyum getir kala mengungkapkan kendala yang dihadapinya. “Masalah tenaga kerja, karena zaman sekarang sudah jarang anak muda yang mau ke sawah. Itu masalahnya. Karena banyak yang memberi pekerjaan yang lebih, yang lebih bagus, yang lebih bersih, yang lebih menjanjikan. Karena di sawah memang pekerjaan yang berat.”
Tuan-tuan petani yang saban harinya membungkuk mematri ladang garapan sering distigmakan dengan pekerjaan kasar, kotor, tak mampu memenuhi kebutuhan hidup, dan sengsara. Transmisi melampaui cengkraman waktu, petani kini menjadi parameter kesuksesan seorang individu.
“Masyarakat itu tidak hanya cukup untuk makan, banyak kebutuhan-kebutuhan hidup sehingga sangat mudah sawah dijual karena tergiur dengan kebutuhan kehidupan dengan berubah mengalih fungsi itu menjadi rumah, tempat pariwisata dan sebagainya, yang kita harus jujur itu lebih menjanjikan secara ekonomi. Kita tidak bisa menyalahkan juga karena kita tidak bisa terhindar oleh kebutuhan kehidupan sekarang itu sehingga mengalih fungsi lahan sekarang itu memang hal yang sangat sulit untuk dijelaskan dan diantisipasi. Belum lagi kebijakan-kebijakan pemerintah itu yang kadang tidak menyentuh secara mendalam,” tutur I Made Arik Wira Putra saat diwawancarai melalui telepon WhatsApp (24/07/2025).
Ini bukan lagi masalah air yang mengalir di petak-petak sawah, melainkan soal nilai yang perlahan mengering. Ketika sawah tak lagi dimuliakan sebagai ruang hidup, dan hanya dipandang sebagai beban ekonomi atau peluang komersial, maka yang tergerus bukan hanya lahan, melainkan rasa hormat pada tanah dan segala kehidupan yang bertumbuh darinya.
Mandala Bhatari Sri tak sekadar tempat upacara atau simbol religi. Ia adalah pusat tata etika agraris, tempat manusia menata ulang relasinya dengan alam: dengan air, lumpur, benih, dan sesaji. Namun kini, semua itu berjalan dalam diam. Sampah rumah tangga mencemari saluran subak, sementara warisan tak benda berupa tata laku dan rasa malu pada tanah yang rusak—perlahan surut.
Apa yang tersisa kini? Mungkin hanya tubuh-tubuh petani yang tetap bertahan di tengah serbuan perubahan. Mereka masih menanam, masih menghaturkan banten, masih menunduk di hadapan pelinggih Sri Sedana. Namun, makna yang dahulu menghidupkan tindakan itu semakin sayup, tertutupi deru zaman yang tak henti menuntut hasil.
Penulis: Gusti Ayu dan Thiwi
Penyunting: Maya Angelika
Sumber foto: Dokumen Pribadi
kampung bet kampungbet kampungbet
