Kerap Dianaktirikan, Padang Lamun Justru Menopang Kehidupan Laut dan Manusia
Fun Fact Tumbuhan Lamun: Si Padang Rumput Liar yang Sering Dianaktirikan
Di dasar laut dangkal tropis, ada padang rumput hijau yang tenang dan penuh kehidupan. Namanya lamun atau seagrass. Banyak orang mengira lamun hanyalah “rumput liar” atau bahkan rumput laut biasa yang terdampar di pantai. Padahal, tumbuhan ini adalah salah satu ekosistem paling penting di pesisir, sering disebut sebagai “hutan bawah laut” yang diam-diam menjaga keseimbangan laut dan darat. Sayangnya, lamun kerap dianaktirikan, terlupakan di tengah sorotan terumbu karang dan hutan mangrove.
Apa Sih Bedanya Lamun dengan Rumput Laut?
Orang sering kali bingung bagaimana cara membedakan lamun dengan rumput laut (seaweed). Penyebab utamanya adalah keduanya sama-sama tumbuh di laut dan berwarna hijau atau kecoklatan. Namun, secara ilmiah, keduanya sangat berbeda.
Lamun adalah tumbuhan berbunga sejati (angiospermae) yang berevolusi dari tanaman darat lalu kembali ke laut sekitar 100 juta tahun lalu (Rahman et al., 2022). Ia memiliki akar sejati, batang (rizoma), daun, sistem pembuluh angkut (vascular system), serta mampu berbunga, berbuah, dan menghasilkan biji (Merly dan Pane, 2023). Sebaliknya, rumput laut adalah alga (bukan tumbuhan sejati) yang tidak memiliki akar, batang, atau daun sejati, hanya struktur sederhana bernama holdfast (bagian dasar rumput laut yang bentuknya seperti “akar palsu” atau pengait sederhana) untuk menempel di substrat, dimana substrat adalah permukaan atau dasar tempat rumput laut menempel (Hasanussulhi, 2021). Rumput laut menyerap nutrisi langsung dari air melalui seluruh tubuhnya dan bereproduksi melalui spora atau fragmentasi (Riyadi et al., 2026).
Cara mudah membedakannya di lapangan yaitu dengan tarikan pelan. Lamun akan tercabut beserta akarnya yang kuat menembus sedimen, sementara rumput laut hanya lepas dari holdfast-nya. Lamun juga cenderung tumbuh dalam padang yang rapat seperti rumput di darat, sedangkan rumput laut sering menempel di batu atau mengapung.
Fun Fact: Lamun dan rumput laut sering “tidak akur”.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rumput laut (terutama yang melimpah atau jenis drift algae) dapat memberikan dampak negatif pada lamun melalui kompetisi cahaya, ruang, dan pelepasan senyawa yang menyebabkan anoksia (kekurangan oksigen) (Thomsen et al., 2012). Efek negatif ini lebih kuat ketika biomassa rumput laut tinggi atau saat jenisnya berbentuk sheet/filamentous seperti Ulva.
Manfaat Lamun bagi Lingkungan
Padang lamun bukan sekadar “rumput biasa”. Ia menyediakan ecosystem services yang luar biasa. Lamun berfungsi sebagai nursery ground atau tempat asuhan bagi biota laut dan habitat bagi ribuan spesies ikan dan invertebrata, termasuk ikan ekonomis penting dan larva udang (Ghofari et al., 2026). Akar dan rizomanya menstabilkan sedimen, mencegah erosi pantai, serta mengurangi energi gelombang saat badai. Daunnya menyaring nutrisi berlebih dari darat, sehingga meningkatkan kualitas air dan melindungi terumbu karang di dekatnya.
Salah satu manfaat paling krusial adalah sebagai penyimpan karbon biru (blue carbon). Padang lamun mampu menyimpan karbon dalam sedimen hingga ribuan tahun karena lingkungan anoksik di bawah tanah (Baharuddin, 2023). Meski hanya menutupi 0,1% dasar laut, lamun menyumbang sekitar 18% karbon yang tersimpan di lautan. Penelitian mengungkapkan bahwa nilai ekonomi ekosistem lamun sangat tinggi, termasuk dukungan terhadap perikanan, perlindungan pantai, dan siklus nutrisi dengan estimasi global mencapai ribuan dollar per hektar per tahun (Wahyudin et al., 2019).
Lamun di Pesisir Mulai Terancam?

Sayangnya, padang lamun global mengalami penurunan signifikan. Sejak 1880, sekitar 19% padang lamun yang dipantau telah hilang, dengan laju rata-rata 7% per tahun di beberapa wilayah. Ancaman utama meliputi pembangunan pesisir, sedimentasi dari deforestasi darat, polusi nutrisi, jangkar kapal, dan aktivitas pariwisata. Perubahan iklim semakin memperburuk situasi melalui kenaikan suhu laut, kenaikan muka air laut yang menyebabkan hilangnya cahaya, serta badai ekstrim. Temuan dari berbagai studi menunjukkan bahwa ancaman ganda (multiple stressors) seperti polusi dan perubahan iklim dapat menyebabkan homogenisasi komunitas lamun dan penurunan ketahanan ekosistem (Tahir et al., 2025). Di beberapa tempat, hilangnya satu hektar lamun dapat melepaskan karbon tersimpan dalam jumlah besar, justru memperburuk pemanasan global.
Lalu bagaimana kondisi lamun di Bali?
Di Bali, padang lamun tersebar di berbagai pesisir, termasuk Sanur, Tanjung Benoa, Nusa Lembongan, dan Pantai Pandawa (Putra et al., 2025). Spesies umum yang ditemukan antara lain Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halodule pinifolia, dan Syringodium isoetifolium. Luas lamun di Bali diperkirakan sekitar 1.300 hektar, meski data ini terus diperbarui melalui pemantauan menggunakan drone dan citra satelit. Hasil riset terkini menunjukkan kondisi bervariasi. Beberapa lokasi seperti Sanur dan Samuh memiliki status ekologi yang baik (berdasarkan Seagrass Ecological Quality Index/SEQI), sementara lokasi lain mengalami tekanan sedang hingga buruk akibat pariwisata, sedimentasi, dan aktivitas perahu (propeller scars) (Atmaja et al., 2026). Pariwisata laut yang intensif di Bali menjadi ancaman utama, karena jangkar, snorkeling, dan sampah mikro (microplastics) yang merupakan potongan plastik yang sangat kecil, biasanya berukuran kurang dari 5 mm dapat merusak padang lamun. Namun, lamun di Bali tetap penting sebagai pendukung perikanan lokal dan wisata bahari berkelanjutan.

Mengapa Lamun Masih Belum Dimanfaatkan untuk Perekonomian?
Meski memiliki potensi ekonomi besar seperti dukungan perikanan, wisata edukasi, dan jasa karbon biru pemanfaatan lamun di Indonesia, termasuk Bali, masih minim. Penyebab utamanya adalah rendahnya kesadaran masyarakat dan pemangku kepentingan terhadap nilai lamun. Berbeda dengan rumput laut yang sudah menjadi komoditas budidaya besar-besaran, lamun sulit dibudidayakan secara intensif karena membutuhkan kondisi sedimen dan kualitas air yang spesifik. Selain itu, tantangan manajemen meliputi kurangnya data pemetaan akurat, konflik penggunaan lahan pesisir (pembangunan hotel, reklamasi), serta minimnya regulasi khusus yang melindungi lamun sebagai aset blue economy. Di beberapa studi, nilai ekonomi lamun di Indonesia diperkirakan sangat tinggi jika dihitung dari jasa ekosistemnya, namun pemanfaatan langsung (misalnya sebagai bahan kerajinan atau pakan) masih terbatas karena kurangnya inovasi dan pasar (Kurniawan et al., 2020).
Funfact penutup: Satu hektar padang lamun dapat menyimpan karbon lebih efisien daripada hutan tropis di darat pada tingkat tertentu, dan ia menjadi rumah bagi dugong yang merupakan mamalia laut langka yang gemar memakan lamun. Melestarikan “rumput liar” ini berarti menjaga masa depan pesisir dan iklim kita.
Daftar Pustaka
Rahman, S., Rahardjanto, A., & Husamah, H. (2022). Mengenal padang lamun (seagress beds).
Merly, S. L., & Pane, L. R. (2023). Buku Ajar Ekosistem Padang Lamun. Rena Cipta Mandiri.
Hasanussulhi, M. (2021). Identifikasi Jenis-Jenis Makro Alga pada Zona Intertidal di Pantai Nembrala Desa Nembrala, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao. Jurnal Ilmiah Unstan Rote, 1-7.
Riyadi, F. M., Safitri, I., Yunita, N. F., Kurniawati, A., Satriani, G. I., Dewi, A. P. W. K., … & Indriyawati, N. (2026). RUMPUT LAUT Biologi, Pemanfaatan, dan Pengelolaan Berkelanjutan. LSO Creative.
Thomsen, M. S., Wernberg, T., Engelen, A. H., Tuya, F., Vanderklift, M. A., Holmer, M., Diez, J., & Silliman, B. R. (2012). A meta-analysis of seaweed impacts on seagrasses: Generalities and knowledge gaps. PLoS ONE, 7(1), Article e28595.
Putra, A. G. S. W., Widyasari, N. L., Maharani, M. V., & Putri, P. I. D. (2025). Kondisi dan luas sebaran ekosistem padang lamun di wilayah pesisir Pulau Bali. Jurnal Ecocentrism, 5(1), 21-30.
Atmaja, P. S. P., Darmendra, I. P. Y., & Hidayah, Z. (2026). Spatial variation in the ecological condition of seagrass meadows in the Lesser Sunda Islands, Indonesia: A SEQI-based framework. Regional Studies in Marine Science.
Ghofari, M. A., Mauludiyah, S. A. L., Isnaini, N. I. F., Nursan, M., Renjaan, M. J., Selviani, E., & Sukirno, P. A. (2026). EKOSISTEM PESISIR Mangrove Lamun, dan Terumbu Karang dalam Keseimbangan Laut. LSO Creative.
Baharuddin, N. P. (2023). Analisis Simpanan Karbon Padang Lamun di Perairan Desa Sapoiha, Kolaka Utara (Doctoral dissertation, Universitas Hasanuddin).
Wahyudin, Y., Mulaya, D., Ramli, A., Rikardi, N., Suhartono, D., & Trihandoyo, A. (2019). Nilai Ekonomi Keanekaragaman Hayati Pesisir dan Laut Indonesia (The Economic Value of Coastal and Marine Biodiversity in Indonesia). Jurnal Cendekia Ihya, 2.
Tahir, I., Mantiri, D. M. H., Rumengan, A. P., Paembonan, R. E., Harahap, Z. A., Baksir, A., … & Ismail, F. (2025). Adaptasi berbasis karbon: strategi pengelolaan mangrove dan padang lamun di kawasan konservasi. Kamiya Jaya Aquatic.
Kurniawan, F., Arkham, M. N., Rustam, A., Rahayu, Y. P., Adi, N. S., Adrianto, L., & Damar, A. (2020). An ecosystem services perspective for the economic value of seafood production supported by seagrass ecosystems: An exercise in Derawan Island, Indonesia. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 414(1), Article 012008.
Penulis: Deepika
Penyunting: Gita
Sumber gambar: Pinterest & dokumentasi pribadi

