Kemuning

Kemuning

“Perempuan bangsawan yang menikah dengan laki-laki bukan bangsawan, dia akan terkena kutukan.” 

Langit Denpasar kembali bersolek, parasnya molek terhias rona jingga. Debur ombak menyapa tepian terdengar pecah, namun tak rikuh membasahi bibir pantai, dan tak ada yang seberani dirinya untuk menabrak batuan karang. Surat cinta yang datang dari laut untuk sang tepian, mengundang gulungan air menari, meliuk-liuk hingga menimbulkan corak putih yang menggores air kehijauan. Begitu cara mereka berdansa. 

“Pernikahan patriloma dulunya memang ditentang. Tapi kini sudah tidak lagi,” jawabku. 

Kayuhan dayung mendadak berhenti membuat kano yang kami tumpangi terdiam tepat di depan pemandangan matahari yang akan terbenam. “Jadi, karena aturannya udah gak seperti dulu lagi, kamu beneran mikir bisa nikah sama dia?” Perempuan cantik dengan aksesori bunga anggrek itu menatapku dengan pandangan heran. “Meski masyarakat sudah menganggap hal ini normal, tapi kita gak tahu dengan kutukan leluhur. Jangan lupa kita ini hidup di Bali, Gek. Setiap jengkal tanah yang kita pijaki ini punya rohnya.” lanjutnya.

Seberkas cahaya menyorot tajam, biasnya menggores panas hingga menusuk relung terdalam. Riak debur ombak menelan sunyi, dan keterdiamanku berarti sebuah pemberontakan mutlak. Sehembus keresahan terombang-ambing di permukaan air, menyenggol benda terapung yang kami tumpangi ke kanan dan ke kiri. “Buat keputusan Gek nanti akan menikah dengan siapa, Aji membebaskan. Masalah Ibu yang ingin Gek menikah dengan yang sewangsa, biar Aji yang nanti membicarakan. Semoga Ibumu mengerti.” Sekelebat bayangan laki-laki paruh baya menjajaki kepalaku. Tutur ayah menggema, mengoyak kabut dupa dan meluncur begitu saja sewaktu kuajak Sewindu bertandang ke Griya1

Karena bagi keluarga bangsawan di Bali, perempuan yang memutuskan menikah dengan laki-laki golongan biasa adalah sebuah aib. Perempuan itu akan diasingkan oleh keluarganya, tak lagi diakui sebagai bagian dari keluarga. Maka kenapa perempuan selalu menjadi hal kesekian dalam strata sosial masyarakat.  

“Dayu Kemuning, dengar! Cinta yang sesungguhnya tidak lahir dari emosi yang menggebu-gebu, itu hanya ilusimu saja. Masih banyak waktu untuk memilih. Laki-laki bangsawan bertebaran di luar sana,” ucap Dayu Harum padaku sore itu di hadapan stana sang Baruna. 

Tampak sekali jatuh cinta telah berhasil menyesatkan seorang Ida Ayu yang dianggap sebagai matahari—Hyang Surya bagi seluruh masyarakatnya. Sebuah rasa yang memandikan setangkai bunga Kemuning di tengah hiruk pikuk raya yang ramai polusi menjadi wujud bunga baru yang segar nan rupawan. Begitu narasi yang kerap terdengar di lingkungan Griya. Banyak sekali tetua yang menyayangkan keturunannya menyukai seorang sudra. Dayu Harum adalah utusan mereka yang diam-diam dimasukkan dalam rencana untuk mengubah keputusanku. 

“Sewindu, sebenarnya kamu artikan apa kita selama ini?” Kemudian kini, kuberanikan bertanya pada sosok laki-laki yang membuatku menentang keluargaku. Serangkai bunga pemberiannya terasa hiasan tanpa makna, sama sekali tak terasa esensinya. “Saya sama seperti perempuan umumnya, Ndu. Ingin diberi hal yang pasti. Benarkah saya ada di hati kamu?” lanjutku. Kemudian dengan lancang kutelisik retinanya yang legam itu, mengobrak-abrik tiap sudutnya, benarkah ada aku di dalamnya?

Segaris senyum melengkung pada bibirnya, entah apa maksudnya. Kemudian pemuda itu meraih tanganku dan menunjukkannya padaku. “Sudah berapa lama kamu menemani saya, ya?” Pertanyaan retoris itu meluncur begitu saja dari mulutnya. “Selama itu, betapa ingin saya memelukmu dengan erat. Memanggil namamu dengan akrab, menyentuh rambutmu yang bergelombang indah. Namun saya tidak bisa. Saya selalu ingat bagaimana kita hidup di lingkungan adat yang kental, Kemuning. Melakukan semua yang saya ingin berarti saya telah dengan sadar membuat dosa besar. Mana boleh orang rendah semacam saya ini menyentuhmu lebih dari sekadar menggenggam tangan?”

“Sewindu!” ujarku memotong ucapannya. “Hubungan beda wangsa sudah lumrah terjadi di lingkungan masyarakat kita saat ini. Sudah banyak yang menormalisasi hal ini, karena kedudukan masing-masing orang harus setara. Masa ini, adalah masa kesetaraan, semuanya harus setara.” Kuarahkan tangannya menyentuh pundakku, helai-helai rambutku, hingga wajahku. Semua bagian yang dianggap tabu untuk disentuh oleh mereka yang tak setara. 

Pemuda itu menarik tangannya kaku. “Saya tidak ingin kamu merendahkan diri hanya untuk seorang laki-laki, Kemuning,” ujarnya datar.  “Kemuning, semester depan saya tidak jadi ambil magang. Saya putuskan untuk mengikuti pertukaran mahasiswa,” imbuh laki-laki itu. 

“Kita tidak sedang membahas itu, Ndu!”

“Hubungan yang kamu mau itu sebuah kemustahilan, Kemuning. Tolong sadari, kita tidak bisa sewenang-wenang dengan hukum adat yang berlaku!” 

Aku terdiam, menatapnya lamat. Jadi, hubungan ini hanya aku yang mengharapkannya? Pantas saja, berkali-kali mencari bayanganku dalam manik legamnya tak kunjung kutemui. “Apa keuntungan lahir sebagai keturunan bangsawan di masa ini, Ndu? Apakah dengan nama ‘Dayu’ ini diberikan hak istimewa bebas antri saat berbelanja? Apakah dengan nama itu saya bisa terbebas dari kemacetan jalan raya?”

“Maaf.” Hanya itu yang terucap dari bibirnya.

Seramai-ramainya jalanan pulau Bali mendadak terasa kosong saat itu juga. Di kursi pojok belakang milik bus kota, kami yang duduk berdampingan, lengan baju yang biasanya menempel, mendadak terasa terpisah jarak ribuan kilometer. Mulutku mendadak membisu, bahkan oksigen tak dapat menggetarkan pita suaraku. “Sama saya, belum cukup buat kamu senang, ya, Ndu?” tanyaku pada akhirnya. 

Suaraku yang keruh itu berakhir lesap dilahap udara. Tiga halte terlewati, tujuh kilometer sudah ditempuh, hingga sampai pada halte pemberhentian milikku, Sewindu tidak turun. Sekadar ucapan perpisahan tak keluar dari mulutnya. Hari itu, sosok pemuda yang aku agungkan memilih melanjutkan perjalanannya, seorang diri, tanpa seseorang bernama Kemuning yang selalu berjalan di sebelahnya.

Keputusannya bukan tanpa sebab, tetapi sudah terencana sangat matang. Karena ternyata dia tak pernah benar-benar membuang Seruni dari hatinya. Sewindu hanya memindahkan posisinya ke ruang paling dalam dan rahasia di hatinya. Seorang perempuan seanggun rintik hujan yang selalu siap memberikan penghidupan pada sosok Sewindu. Laki-laki berkacamata yang hampir selalu membuat seluruh sel dalam tubuhku memekarkan bunganya kini justru menghancurkanku.

“Dayu Kemuning?”

Aku mengerjapkan mata, buru-buru mengusap sudut mataku yang berair. Sekelebat bayangan masa lalu kembali pentas di kepalaku. Namun kupilih menyembunyikan semuanya dalam kepura-puraan yang semakin menghimpit dada. Mana mungkin aku berani menatap manik mata yang siap meledekku habis-habisan itu. 

“Kamu dengar apa yang saya bilang, kan? Kalau Sewindu mau menikah minggu depan,” kata Dayu Harum mengulang ucapannya barusan. 

“Iya, saya dengar.”

Sepupuku itu menutup paksa iPad yang tengah aku gunakan. “Lihat! Ini laki-laki yang kamu agung-agungkan itu,” ucap Dayu Harum sembari menyodorkan ponselnya yang berisi undangan pernikahan lengkap dengan foto-foto mempelai. 

“Setelah ditinggal buat pertukaran mahasiswa ke Surabaya, kamu masih aja nunggu dia. Sampai hari ini, terhitung 10 tahun kamu menunggu laki-laki itu, Gek. Menemani dia selayaknya seorang sahabat, mendengar cerita suka dukanya dengan perempuan lain. Hyang Jagat, kenapa saudari saya yang satu ini sangat bodoh?” keluh Dayu Harum. 

“Ya, mungkin memang bukan jodoh,” jawabku. Aku tersenyum letih, menatap Dayu Harum kemudian beberapa kerabat Griya yang tengah sibuk membuat sarana upacara. “Setidaknya kalian bisa lebih tenang, kan, sekarang?” 

Dayu Harum menipiskan bibirnya. “Kami bukannya menentang tanpa sebab. Karena kami sudah tahu akan berakhir seperti ini.”

Andaikata banyak orang yang paham dengan konsep sekala dan niskala dalam kehidupan manusia masa kini, maka kutukan yang dikatakan bisa jadi hal yang masuk di akal logika seseorang. Sebab, tak ada peraturan yang dibuat dengan sembarangan dan serampangan di dunia ini. Ada sebab muasalnya, ada akibat yang menunggunya. 

Setelah masa pertukaran mahasiswanya habis, Sewindu memang kembali, tetapi tidak seorang diri. Pemuda itu menautkan seorang gadis pada hatinya. Sewindu berhasil membenahi hubungannya yang sempat kandas bersama perempuan cantik bernama Seruni. Meski harus menjalani hubungan jarak jauh, komunikasi mereka dijaga sangat baik. Sama-sama saling mengusahakan. 

“Tuhan, ini adalah kutukanmu yang ke delapan, masih ada dua kali kesengsaraan yang harus aku jalani,” ucapku lirih pada langit sore itu. 

Bertahun-tahun berjalan semestinya. Peranku pada delapan kali kehidupan ini adalah untuk menyaksikan Sewindu merajut bahagia dengan takdirnya yang bukan aku. Aku telah terkena kutukan, menjalani kehidupan selama delapan kali dengan melajang dan mengemis cinta pada sosok Sewindu—orang yang kupilih menjadi suamiku di kehidupan terdahulu. Demi cintaku padanya, seperti saat ini, aku melepaskan kebangsawananku untuk menikah dengannya. Menentang para tetua, leluhur dan Hyang Jagat. Fisikku melintasi dan mengelana bersama waktu dengan ingatan yang tak pernah pudar sedari kehidupanku sebelum-sebelumnya. Penolakan Sewindu dan sikapnya selalu sama. Jeda kalimatnya kuingat hampir diluar kepala. Namun aku tak pernah menyesal menjalaninya, meski hanya sekali kurasakan dicintai oleh Sewindu.

Karena kamu dengan berani memecah gelombangku, maka aku rela menjelajahi waktu, hanya untuk melihatmu di kehidupan yang lain. Dalam kepercayaan reinkarnasi, hidup sebagai laut akan menjadi takdir yang lebih baik karena dapat menghabiskan kehidupan bersamamu.

***

Daftar istilah

  1. Nama kediaman keluarga bangsawan terkhusus kasta Brahmana
    ↩︎

Penulis: sanaragrey

Penyunting: Santika

Ilustrator: Jesslaine

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *