Menantang Sang Ilahi dan Psikodinamika dalam “Tuhan, Izinkan Aku Berdosa”
“Ya Allah, aku ingin mencintai-Mu dengan bahagia, dengan bebas. Dengan rindu setiap saat tanpa ditakut-takuti neraka, atau diiming-imingi surga”
Dalam bayang-bayang pengabdian tanpa syarat, tersirat kekecewaan mendalam dari seorang yang merasa dipercundangi oleh Tuhan. Ini tentang perjalanan spiritual Kiran, kisah perempuan taat yang menantang Tuhan atas segala pengkhianatan demi penderitaan yang muncul bertubi-tubi di dalam kehidupannya. Cerita dimulai dengan perkenalan Kiran sebagai mahasiswi taat beragama yang kerap mendakwah dan mengikuti syariat Islam, sebagai tanda pengabdiannya di jalan Tuhan. Ia memilih tinggal di rumah milik bu Ami, seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) yang mempersilakan Kiran untuk menyewa indekos dengan harga miring. Pada suatu masa, Kiran yang mengikuti suatu organisasi keagamaan mendapatkan informasi bahwa Abu Darda, sang ulama pemimpin dari organisasi tersebut meminta dirinya untuk taaruf. Kiran kalut, ia tidak ingin melakukan pernikahan itu. Sementara di sisi lain, ayah Kiran sakit-sakitan. Terdesak dengan himpitan ekonomi, Kiran mempertimbangkan tawaran tersebut.
Namun, Kiran tersentak lantaran Abu Darda hendak meminangnya menjadi istri ketiga. Ketika Kiran menemui Abu Darda, muncul fitnah yang membuat Kiran harus membela dirinya. Kinan memilih kabur, karena diburu dan ditekan oleh orang-orang disekitarnya yang menganggap Kiran telah mencoreng nama Ulama mereka. Di tengah kekalutan itu masih ada Daarul, teman organisasi Kiran yang berjanji untuk membantunya. Namun sayangnya, apa yang kemudian datang justru pengkhianatan pelik dari kemunafikan orang-orang di sekitar Kiran.
Pengkhianatan pertama datang dari sang ibu, yang tidak mau mendengarkan penjelasan Kiran dan langsung menyalahkan putri semata wayangnya. Kiran didera duka dan kecewa, tuntutannya kepada Tuhan muncul, “Aku salah apa ya Allah?”, murkanya. Pengkhianatan selanjutnya dari Daarul, yang datang dan membawa luka baru. Kinan yang hilang arah memilih untuk menantang Tuhan. Ia menjadi Pekerja Seks, seorang simpanan. Dengan hidup bersama Tomo, si dosen bermuka dua, Kiran memanfaatkan jejaringnya untuk menelanjangi kemunafikan dan borok para pejabat-pejabat sok alim, dan semua itu ia lakukan untuk menjawab tantangan dari Tuhan.
Lika-liku perjalanan hidup Kiran diwarnai dengan luka silih berganti, termasuk bagaimana ia berusaha membongkar kedok para pejabat-pejabat sok alim dengan video rekaman yang ia sisipkan dalam senyap. Jalan yang ditempuh Kiran tak pernah mudah, karena semakin dalam ia menyelam, maka semakin rentan pulalah dirinya terperosok ke dalam bahaya. Kiran yang berhasil merekam kemunafikan Alim, si pejabat kondang yang mengkhianati namanya sendiri itu, kini merasa terancam sehingga memutuskan melarikan diri. Kiran hendak pergi pamit, tetapi Bu Ami yang jatuh sayang mengajaknya untuk kabur bersama. Celakanya di saat lengah Kiran diculik, ia disiksa selama tiga hari. Remuk redam sudah tubuh yang menanggung penderitaan fisik dan psikis itu.
Meskipun penderitaannya datang silih berganti, dalam siklus pengkhianatan ini, tidak semua orang berpaling dari Kiran. Ada Bu Ami, sosok yang sangat mempedulikan Kiran, bahkan di atas keselamatannya sendiri. Ada pula Hudan, pemuda nyentrik pecinta lingkungan yang menjadi saksi atas sumpah Kiran menantang Tuhan. Namun, Luka di hati Kiran kian menganga atas kepergian orang-orang terkasihnya. Kiran semakin jatuh dalam lubang yang gelap dan tak berujung. Ia semakin menantang, sejauh mana Tuhan akan menambah penderitaannya?
Film ini menggambarkan dinamika psikologis dari karakter Kiran yang mencari jawaban atas penderitaan yang dialami. Dalam paradigma Psikodinamika, karakter Kiran pada awalnya menempatkan superego, sebagai basis pertahanan moral yang membentuknya jadi mahasiswi taat beragama yang sangat meyakini Tuhannya. Namun, ketika kekerasan dan pengkhianatan yang menyakitkan mendobrak pintu imannya, Kiran berpaling ke dunia yang berbeda. Ia memilih jalan ekstrim, me-release Id atau hasratnya akan kekecewaan kepada Tuhan lewat tindakan pemberontakan. Bentuk pemberontakan Kiran adalah mekanisme pertahanan diri (ego) dalam bentuk reaksi formasi, yakni sebuah mekanisme menunjukkan sikap yang berlawanan dari apa yang dirasakan untuk menyembunyikan rasa sakitnya. Hal ini dapat dilihat dari pilihan hidup Kiran yang menjadi Pekerja Seks untuk mengupas borok pejabat sok alim dan membuktikan kemunafikan mereka, sebagai jawaban atas rasa kecewa, cinta, dan rindunya pada sang Pencipta yang Kiran rasa kini telah berpaling dari-Nya.
Film ini mengajarkan kepada kita bagaimana dinamika tokoh utama dalam pencarian memahami dan menghadapi rintangan dalam kehidupan. Film ini dapat dikatakan sebuah pemantik yang mengajak kita refleksi sejenak mengenai titik balik yang mempertanyakan dorongan hasrat dan kompas moral–tidak sekadar hitam dan putih. Tentang bagaimana perjalanan spiritual menuju Tuhan bisa dilalui dari semua jalan, bahkan lewat jalan kotoran sekalipun. Seperti apa yang dilakukan Kiran, untuk sekali lagi membuktikan seberapa ia mencintai Tuhannya, dan berharap untuk kembali bukan dengan rasa takut, melainkan dengan bahagia, dengan bebas.
Penulis: Maya
Penyunting: Christine
kampungbet kampungbet kampungbet kampungbet kampungbet kampungbet kampungbet kampungbet kampungbet kampungbet
