Okokan Kediri: Dari Ladang Sunyi ke Panggung Ramai

Okokan Kediri: Dari Ladang Sunyi ke Panggung Ramai

Tak sekedar alat bunyi, okokan adalah pusaka bersuara. Dahulu ia hadir sebagai pelindung di ladang, kini berdiri di tengah panggung dan arak-arakan budaya. Di tangan masyarakat Kediri, warisan ini tidak membeku dalam nostalgia, tapi terus menggema dan menjadi kebanggaan desa. 

Di tengah lanskap persawahan Kediri, Tabanan, terdengar ketukan khas dari sebuah benda yang bergoyang di leher sapi. Benda tersebut adalah Okokan, sebuah alat tradisional yang awalnya berbentuk kalung (keroncong-red) dari kayu, dengan rongga di bagian tengah dan memiliki 2 bilah kayu yang tergantung di dalamnya. Alat ini akan mengeluarkan suara yang berat dan beirima ketika sapi bergerak.  Bahan dasar Okokan umumnya kayu Teep (sejenis kayu nangka/cempedak). Fungsi utamanya sederhana tetapi penting yaitu menjadi penanda keberadaan sapi di sawah yang luas. 

Selain sebagai penanda keberadaan sapi, masyarakat desa Kediri juga mengenal okokan sebagai alat bunyi yang dulunya digunakan oleh masyarakat setempat untuk mengusir hama dan sebagai penangkal bala. Menurut cerita turun-temurun yang masih dipegang erat oleh masyarakat adat Kediri, Okokan berakar dari sebuah masa krisis. Ida Bagus Ketut Arsana selaku Bendesa Adat Kediri, menceritakan bahwa, dahulu di desa Kediri terjadi grubug (sebuah peristiwa di mana banyak masyarakat yang sakit hingga meninggal karena wabah, dan ladang pun turut diserang oleh hama-red). Di tengah situasi darurat itu, para penglingsir (tetua adat-red) berkumpul dan mengadakan persembahyangan di Pura Kahyangan Puseh. Dari persembahyangan tersebut, para penglingsir menerima pawisik (wahyu-red) bahwa untuk mengusir wabah dan hama di sawah, masyarakat harus membunyikan benda-benda yang dapat mengeluarkan suara. 

Menanggapi pawisik tersebut, masyarakat Kediri sepakat untuk menggunakan alat-alat seperti Tempeh (wadah dari anyaman bambu-red), Kulkul (kentongan kayu-red), dan Okokan. Alat-alat tersebut dibunyikan serempak oleh masyarakat dengan mengitari setiap sudut desa. Suara yang dihasilkan diyakini mampu mengusir energi negatif. Hasilnya, perlahan masyarakat yang sakit mulai pulih, kematian pun menurun drastis dan hama yang menyerang dapat teratasi.

Tradisi ini kemudian dikenal sebagai Nektekan Nangluk Merana (suatu ritual dan tradisi penolak bala untuk menangkal wabah dan serangan hama-red), yang hingga kini masih dijalankan oleh masyarakat Kediri. Selain dimaknai sebagai bentuk ritual penolak bala, tradisi ini juga menjadi momen yang dinanti dan diikuti dengan penuh semangat oleh setiap kalangan masyarakat desa Kediri.  

Hari ini, suara okokan tak lagi hanya menggema di tengah hamparan sawah atau saat tradisi Nektekan Nangluk Merana digelar. Ia kini juga tampil dalam berbagai panggung pertunjukan, mulai dari penyambutan, festival budaya, hingga ajang sekelas Pesta Kesenian Bali (PKB). Peranannya telah melebar, tidak lagi semata sebagai sarana ritual, melainkan juga sebagai ekspresi seni yang disaksikan oleh publik luas. 

Transformasi ini salah satunya ditandai dengan munculnya kelompok-kelompok seni (sekaa-red) okokan di Kediri. Sekaa Okokan Brahma Diva Kencana adalah salah satu kelompok seni yang aktif dalam pementasan okokan dari panggung ke panggung.  Ketua Sekaa Okokan Brahma Diva Kencana, I Made Sanuartha  menjelaskan bahwa Sekaa okokan dibentuk atas inisiatif masyarakat Kediri sendiri, terutama kalangan anak muda yang ingin mengenalkan tradisi mereka ke khalayak yang lebih luas. “Akhirnya dari sana kami regenerasi supaya tahulah orang-orang di luar bahwa Kediri punya tradisi ini, Makanya kami membentuk Sekaa,” ujarnya.  Dalam proses pembentukannya, perdebatan pun muncul di kalangan masyarakat terkait bagaimana menjaga kesucian dan kesakralan okokan sebagai bagian dari upacara adat, sembari tetap membuka ruang untuk memperkenalkannya melalui pertunjukan publik. Untuk menjawab kekhawatiran tersebut, maka disepakati untuk membedakan okokan yang digunakan dalam pertunjukan dan okokan yang hanya digunakan dalam Nektekan Nangluk Merana

Tak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, keberadaan sekaa okokan juga memberi dampak ekonomi yang nyata bagi para anggotanya. Setiap kali tampil dalam acara seperti festival, para pemain mendapatkan upah yang cukup untuk dijadikan tambahan penghasilan. Lebih dari itu, aktivitas berkesenian ini juga membawa pengaruh sosial yang baik. Anak-anak muda memiliki ruang untuk berkreasi, berinteraksi, sekaligus menjauhkan diri dari hal-hal negatif. Sekaa okokan pun menjadi wadah yang efektif untuk membangun kebersamaan dan menumbuhkan rasa bangga terhadap tradisi sendiri. 

Seiring dengan bergesernya fungsi okokan dari ranah agraris ke pertunjukan, sejumlah penyesuaian dilakukan. Perubahan bentuk fisik okokan menjadi salah satu penyesuaian utama dalam konteks pertunjukan. Jika sebelumnya okokan digunakan sebagai kalung kayu berukuran kecil yang dikalungkan pada sapi sebagai penanda keberadaan hewan di sawah, kini ukurannya dibuat lebih besar dengan panjang 1 meter dan lebar 50-60 cm. Ukuran tersebut dipilih agar mampu menghasilkan suara yang lebih keras, bergema, dan memberikan kesan magis saat ditampilkan di ruang terbuka maupun di panggung pertunjukan.  

Secara visual, okokan tetap mengacu pada bentuk tradisionalnya. Namun, kini okokan hadir dengan tambahan desain visual khas di setiap banjar. Tambahan visual ini tidak sekadar mempercantik, tetapi juga menjadi identitas visual yang membedakan satu kelompok dari yang lain, tanpa menghilangkan esensi bentuk aslinya. 

Sementara itu, fungsi agraris yang dahulu melekat pada okokan mulai bergeser. Peran okokan sebagai alat bantu baik untuk menghalau hama maupun menandai posisi sapi mulai ditinggalkan. (Selain karena modernisasi pertanian seperti penggunaan traktor yang menggantikan sapi), saat ini juga jarang terjadi serangan hama besar-besaran di lahan pertanian seperti pada masa lalu. Kondisi ini membuat fungsi okokan sebagai alat agraris tidak lagi relevan dalam praktik pertanian masyarakat Kediri saat ini. 

Perubahan yang terjadi pada okokan menunjukkan bagaimana sebuah tradisi dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dari alat yang dulunya digunakan di sawah, kini okokan tampil dalam berbagai ruang publik sebagai bagian dari seni pertunjukan. Fungsi dan bentuknya mungkin mengalami penyesuaian, namun masyarakat tetap menjaga kesakralan dari okokan itu sendiri.  “Nggak, tetap sakral,” tegas Ida Bagus Ketut Arsana, Bendesa Adat Kediri. Transformasi ini tidak hanya memperluas ruang hidup okokan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana warisan budaya bisa tetap relevan di tengah perubahan zaman yang pesat. 

Pementasan-Pementasan Okokan. Sumber: balipost.com

Meski mengalami berbagai penyesuain untuk kebutuhan pertunjukan, sejumlah unsur penting dari okokan tetap dipertahankan hingga hari ini. Material dasar yang digunakan, yakni kayu Teep, masih menjadi pilihan utama karena menghasilkan bunyi yang lebih bagus serta memiliki bobot yang lebih ringan. Dari masyarakat sendiri, okokan masih dipandang sebagai warisan penting yang layak dijaga dan diteruskan. Masyarakat Kediri merasa bangga tradisi ini kini dikenal lebih luas dan menjadi identitas budaya yang khas bagi desa Kediri. 

Pelestarian okokan maupun tradisi Nektekan Nangluk Merana pun terus berlangsung secara turun-temurun. Meskipun tidak dituangkan dalam aturan tertulis, pemimpin adat dan tokoh masyarakat selalu mendorong masyarakat untuk terus menjaga keberlangsungan tradisi ini di setiap generasinya. “Siapa yang selaku bendesa adat, selaku kelian banjar tetap menjaga tradisi kita,” ujar Ida Bagus Ketut Arsana. Kini, tradisi Nektekan Nangluk Merana tetap dilaksanakan setiap tahun, khususnya dua minggu sebelum Hari Raya Nyepi dan puncaknya pada Hari Pengerupukan. Alih-alih membuat ogoh-ogoh seperti desa lainnya, masyarakat Kediri memilih mengelilingi desa dengan okokan sebagai bentuk pengusiran aura-aura negatif. 

Bagi masyarakat Kediri, perubahan bentuk dan fungsi okokan bukan dianggap sebagai bentuk kehilangan, melainkan sebagai bentuk adaptasi dinamika zaman. Tradisi ini kini tidak hanya menjadi bagian dari ritual adat, tapi juga sumber kebanggaan sekaligus peluang ekonomi bagi masyarakat. Ida Bagus Ketut Arsana, menegaskan bahwa okokan sudah menjadi identitas yang melekat kuat di desa mereka, bahkan telah mendapatkan hak paten sebagai warisan khas Kediri. Ia juga menekankan pentingnya menjaga okokan dengan baik karena merupakan peninggalan leluhur. “Kedepan yang penting menurut kami ini merupakan warisan nenek moyang kita, leluhur kita yang kita tetap dijaga dengan baik,” ungkapnya.  

Hal senada juga disampaikan oleh I Made Sanuartha. Ia berharap tradisi ini tetap dilanjutkan oleh generasi setelahnya. “Makanya kami sebagai kakak-kakak dari generasi muda-muda nike, terus mengimbau supaya gimana tradisi ini tetap ajeg sampai anak-anak kami nanti bisa mengenal dan bisa mementaskan,” ujarnya. Ditengah perubahan zaman dan tantangan modernisasi, semangat untuk menjaga warisan budaya tetap menyala. Suara okokan mungkin akan meredup diakhir pertunjukan, tapi gemanya terus mengalun di dalam jiwa masyarakat Kediri. Ia bukan warisan yang hanya untuk disimpan dalam lemarin kenangan, tapi untuk terus dibunyikan dalam kebersamaan.

Penulis: Christin

Penyunting: Dayu Dyana

Sumber foto: Bali Post

kampung bet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *