Mabuk di Lautan Tawa Bersama Teater Kini Berseri

Pementasan Teater Kini Berseri pada Rabu (21/8), di gedung Natya Mandala di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. (Foto: Resita/Akademika)
Pementasan Teater Kini Berseri pada Rabu (21/8), di gedung Natya Mandala di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. (Foto: Resita/Akademika)

Riuh gelak tawa memenuhi gedung Natya Mandala di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Rabu, (21/8) malam kemarin. Kurang lebih 200 penonton yang hadir merasa sangat terhibur dengan pentas seni operet yang dibawakan oleh salah satu teater yang sedang naik daun,  Kini Berseri.

Pada tahun 2013 ini, Teater Kini Berseri (Tekiber) merayakan ulang tahun yang ke-5 dengan memberikan pementasan meriah. Bagaimana tidak, pementasan operet kali ini tidak tanggungnya diadakan selama enam hari yang dimulai dari 19 – 24 Agustus 2013. Dengan mengusung judul unik, “Bajak Laut Mabuk Laut” Tekiber berlatih keras sejak tiga bulan lalu demi memberikan hasil yang maksimal.

“Latihannya cukup keras dimulai sejak reading naskah untuk dubbing, latihan gerakan, penghapalan naskah, serta persiapan lainnya”, ujar Dewa Gede Aditya selaku pemeran Hendry Morgan dalam pentas ini.

Bagaimana bisa bajak laut mabuk laut? Judul unik yang digunakan Tekiber dipementasan kali ini ternyata memiliki latar belakang yang cukup mengesankan.

“Masalah ide sebenarnya mengalir dari teman-teman anggota yang terhitung ulet dan terpercaya. Maka disetujuilah judul ini. Karena kami memiliki pandangan untuk mengangkat sesuatu profesi yang biasanya melanggar dari alurnya sendiri. Seperti contoh Polantas yang melanggar lalu lintas atau hakim yang ternyata tidak adil. Maka dari itu kami angkat bajak laut yang ternyata bisa mabuk laut”, jelas Indra Parusa, ketua pementasan Tekiber, yang kali ini juga salah satu mahasiswa ISI Denpasar.

Pementasan kali ini menuai banyak pujian dari berbagai kalangan. “Seru, kocak, menghibur sekali. Jadi enggak rugi nontonnya dan makin suka sama Tekiber” ujar Danya dan Dwi, penonton Tekiber.

Selain Tekiber, pentas ini juga melibatkan banyak komunitas lain seperti UKM Kesenian ISI Denpasar, Komunitas Djamur, HMJ Fotografi, dengan musik latar yang dibantu oleh Dialog Dini Hari, Nosstress,  Gecko, Duo Ganjil, Tol Band Tol, dan Ahli Ribut.

Bisa dibayangkan bagaimana meriahnya pementasan kali ini? Tekiber sendiri berharap agar pentas ini mampu menjadi batu loncatan untuk menjadi lebih baik, untuk mampu memperkenalkan seni teater agar mudah diterima.

Selayaknya kegiatan lain, Tekiber juga mengalami beberapa hambatan ketika melakukan persiapan pentasnya. Namun dengan kekompakan yang terjalin satu sama lain maka solusi pun lebih mudah didapat.

Masih ingat video parodi “Gek Kopling”? Rekaman yang merupakan parodi dari video kekerasan tersebut menjadi salah satu debut karir dari teater satu ini.

Teater yang sudah berdiri sejak tahun 2008 ini sudah memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Bali. Teater yang satu ini memang pintar dalam mengolah operet menjadi hiburan massa yang bisa dinikmati semua kalangan.

Bagaimana sesungguhnya jalan cerita operet satu ini? Operet ini berkisah tentang bagaimana tiga orang pemuda, Kit, Marco, dan Billy yang berusaha untuk menjadi  bajak laut. Tak disangka mereka dipertemukan dengan Luna yang kemudian membawa mereka berpetualang membuka kisah tentang pusaka sakti yang menjadi rebutan. Kisah petualangan tiga bajak laut ini dibungkus sedemikian unik dengan humor yang cukup membuat penonton ikut mabuk tertawa namun tetap mengikuti alur cerita. Penasaran bagaimana keseruan yang ditampilkan oleh Tekiber? Masih ada waktu yang tersisa untuk mengocok perut dengan humor hangat dari para bajak laut yang mabuk laut tersebut! (Resita Y.)

You May Also Like