Peed Aya Pembukaan PKB: Rupa Pemuliaan Kehidupan Manusia dalam balutan Ragam Seni Budaya Bali

Ragam corak seni budaya Bali memadu harmoni, apik menghiasi seputaran area Monumen Perjuangan Rakyat Bali Bajra Sandhi yang menjadi lokasi dalam pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke LXVI pada Sabtu, (15/06).

 

Teriknya sinar matahari rupanya tak meluruhkan antusiasme warga untuk menyaksikan pembukaan PKB tahun 2024 ini. Sekitar pukul 15.00 WITA, sekeliling kawasan Museum Bajra Sandhi, Renon telah dipadati para penonton yang tengah menantikan rangkaian Peed Aya (pawai-red) pembukaan PKB 2024. Mulai dari kanak-kanak, remaja, hingga lansia, semuanya tampak bersemangat menunggu acara tersebut dimulai. 

Berbalut tema “Jana Kerthi Paramaguna Wikrama”, Peed Aya dibuka dengan tarian Siwa Nataraja yang dipentaskan oleh ISI Denpasar, tarian yang merupakan lambang/maskot dari PKB dan ISI Denpasar. Kemudian disusul dengan pawai budaya yang dibawakan oleh sembilan kabupaten/kota di Bali.

Desi dan PanjiJegeg Bagus Karangasem

Mengutip dari laman berita Balih Balihan yang bertajuk, “Peserta, Sinopsis dan Makna Peed Aya Pembukaan Pesta Kesenian Bali XLVI Tahun 2024”, tema Jana Kerthi Paramaguna Wikrama”, dimaknai sebagai upaya pemuliaan terhadap kehidupan manusia untuk mewujudkan kualitas hidup manusia Bali yang bermartabat, unggul, dan maju. Melalui sentuhan seni, kesembilan kabupaten/kota tersebut kemudian menyematkan rupa pemuliaan terhadap kehidupan manusia, mulai sejak lahir hingga menemukan jati dirinya menjadi manusia bermartabat dan unggul dalam pawai yang ditampilkan. 

“Karena tema pokok dari PKB itu sendiri ada “Jana Kerthi” ya, memanusiakan dan memuliakan manusia. Jadi kota Denpasar mengangkat satu sejarah dan satu tradisi. Sejarahnya itu adalah Perang Puputan Badung,” tutur Ni Made Bulan Cantika Maharani, salah satu perwakilan dari Kota Denpasar. Terdapat pula tradisi megayot yang ditampilkan oleh iringan parade dari Karangasem. Tak hanya itu, Desi dan Panji selaku perwakilan Jegeg Bagus Karangasem turut menjelaskan bahwa terdapat pula berbagai tradisi serta kesenian dari Karangasem yang dibawakan dalam Peed Aya tahun ini. “Karena Karangasem terkenal dengan Rejangnya (salah satu tarian Bali–red), jadi kami ingin memperkenalkannya, di sini kami membawakan dua Rejang,” imbuh Desi. 

Penonton – Antusiasme para penonton saat menyaksikan Peed Aya

Melihat antusiasme dari penonton, mulai dari muda-mudi hingga orang tua yang rela berdesakan di sepanjang jalan demi bisa menyaksikan pawai menandakan bahwa masih banyak masyarakat yang cinta terhadap warisan budaya. Banyaknya kabupaten yang ikut berpartisipasi, menunjukkan kepedulian akan kelestarian adat istiadat Bali. Begitupun para fotografer yang berlomba-lomba untuk menangkap hasil jepretan foto yang menawan. Tidak hanya itu, tak sedikit juga terdapat wartawan yang sedang meliput Pesta Kesenian Bali di tengah ramainya pengunjung. 

Dibalik perhelatan salah satu pesta kesenian terbesar di Bali ini, tentu diperlukan rangkaian persiapan yang begitu matang. Senada dengan itu, Bulan dan Kyka selaku kontingen Denpasar menjelaskan “Dalam seminggu satu kali, jadi perhitungannya paling enggak kita ada di 4-5 kali latihan sampai Gladi,” ungkap Bulan. Kyka turut menambahkan bahwa seluruh konsep sudah tertata dari konseptor sendiri yang berarti peserta hanya cukup merealisasikan bersama dengan penari lain. “Kalau aku kurang lebih nggak ada kendala, karena bener-bener enjoy selama latihannya dan benar-benar menyusun konsepnya sudah mateng jadi kita latihannya tinggal jalan-jalanin aja,” tutur Kyka. Sungguh hal yang menyenangkan mendengar respon dari salah satu kontingen mengenai Pesta Kesenian Bali tahun ini.

Berbagai harapan berdatangan dari peserta maupun panitia PKB 2024, salah satu peserta pembukaan PKB 2024, Ni Kadek Sekas Rasunkari teruna-teruni dari Kota Denpasar, “Harapan kedepannya mungkin karena kita sudah lihat berbagai antusias dari masyarakat mungkin kedepannya lebih antusias lagi datang untuk menyaksikan langsung tradisi-tradisi dan budaya-budaya di setiap Kabupaten/Kota yang ada di Bali. Semoga semakin banyak generasi muda yang bisa melestarikan adat istiadat budaya Bali dan mencintai budaya Bali itu sendiri.

Putu Putra Astra – Salah satu seniman pawai dari Klungkung

Melihat padatnya penonton yang berdesakan, salah seorang peserta iringan parade yakni Putu Putra Astra berharap, pada Pesta Kesenian Bali nantinya dapat lebih mempersiapkan area penonton yang tertata agar tak harus berdesakan. Pria asal Desa Pujangga, Klungkung itu juga mengharapkan adanya tempat khusus bagi para wartawan, sehingga segalanya dapat terkoordinasikan dan tampak lebih tertata rapi. Dengan berbagai harapan telah disampaikan oleh peserta, acara pembukaan PKB 2024 tetap berhasil memancarkan pesonanya. Keberhasilan ini tergambar jelas dari antusiasme masyarakat yang begitu tinggi, seakan terpikat oleh setiap momen yang tercipta dalam kegiatan tersebut.

 

Penulis : Gung Putri, Reva

Penyunting : Dyana

You May Also Like